Grid.ID - Seorang siswa SMP di Sragen tewas usai didorong teman sekelasnya. Duel berujung maut ini bermula saat kedua siswa tersebut terlibat saling ejek di sekolah.
Seorang pelajar SMP berinisial WAP (13) di Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah, meninggal dunia usai berkelahi dengan teman sekelasnya, DTP (13). Peristiwa ini terjadi di kamar mandi sekolah pada Selasa (7/4/2026) siang sekitar pukul 11.30 WIB, menjelang jam istirahat.
Kronologi kejadian diungkap oleh sang Kepala Sekolah, Agung Jatmiko. Ia menyebut bahwa kedua siswanya tersebut pada awalnya hanya bercanda dan saling ejek.
Akan tetapi diduga karena tersinggung, ejekan itu pun berubah jadi adu fisik. DTP diduga mendorong WAP hingga terjatuh.
"Awalnya saling bercanda, lalu pelaku mendorong korban hingga terjatuh," kata Agung, dikutip dari Tribun Solo.
Saat terjatuh, dahi WAP terbentur siku selokan di depan kamar mandi. Peristiwa itu pun membuatnya hilang kesadaran.
Setelah itu, WAP dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan pertolongan. Namun sayang, korban dinyatakan meninggal dunia.
"Kemudian dibawa ke puskesmas dan dinyatakan meninggal dunia," lanjutnya.
Menurut sang kepala sekolah, hingga ini DTP pun masih syok. Ia tidak menyangka kejadian ini akan membuat rekannya tersebut kehilangan nyawa.
"Saat reka ulang, pelaku sampai tidak bisa berbicara," kata Agung.
Polisi Lakukan Olah TKP
Siswa SMP di Sragen tewas, sekolah kemudian melaporkan peristiwa inike Polsek Sumberlawang. Usai menerima laporan, polisi pun langsung mendatangi lokasi kejadian dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polsek Sumberlawang juga telah berkoordinasi dengantenaga medis,tim identifikasi, dan Polres Sragen.
Dalam perkembangannya, polisi telah meminta keterangan dari sejumlah saksi di lokasi kejadian, termasuk teman-teman korban dan pelaku. Kapolsek Sumberlawang menegaskan bahwa seluruh proses hukum akan dijalankan sesuai aturan yang berlaku dan tetap memperhatikan aspek perlindungan anak, mengingat pihak yang terlibat masih di bawah umur.
"Kami masih melakukan pemeriksaan dan pendalaman terhadap seluruh keterangan saksi maupun alat bukti yang ada. Proses penanganan dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku," ujar Sudarmaji, dikutip dari KompasTV.
Luka di Wajah
Ayah korban, Maryono (43), mengungkapkan adanya luka di wajah sang anak yang meninggal usai didorong teman sekolahnya. Ia mengetahui kondisi ini saat pertama kali melihat jenazah anaknya.
Maryono sendiri mengaku tidak langsung dikabaribahwa anaknya telah meninggal dunia. Ia diajak oleh saudaranya langsung ke puskesmas.
Dari sana, ada seorang guru yang kemudian mengantarnya ke RSUD dr. Siehadi Prijonegoro Sragen. Di rumah sakit itulah, Maryono mendapati anaknya telah terbujur kaku tidak bernyawa.

"Pertama kali saya dapat kabar dari saudara, namun saudara gak detail, saat itu saudara mengajak langsung ke puskemas, baru setelah sampai puskesmas, ditemani guru diantar ke RSUD Sragen dan melihat anak saya meninggal dunia," ujar Maryono, dikutip dari Tribun Solo.
Di ruang jenazah, Maryono melihat adanya luka di wajah anaknya, antara lain di dahi dan bibir bawah. Luka tersebut menimbulkan tanda tanya bagi Maryono dan keluarga.
"Saat itu sudah melihat korban sudah keadaan meninggal dunia, saya melihat ada luka di dahi dan bibir bawah anak saya," tuturnya.
Lebih lanjut, Maryono menyebut bahwa keluarga pelaku hingga kini belum ada yang menemuinya. Ia pun masih menunggu kejelasan dari pihak terkait mengenai peristiwa tragis ini.
Maryono juga berharap agar kepolisian dapat mengusut kasus ini dengan tuntas sehingga diperoleh kepastian hukum bagi pelaku yang membuat anaknya kehilangan nyawa.
"Polisi belum menyampaikan hasil olah TKP, dan selama ini dari pihak tersangka belum ada yang datang ke sini dan kami berharap ini bisa diproses secara hukum," pungkasnya.
Hasil Olah TKP dan Autopsi
Polisi memastikan bahwa siswa SMP di Sragen tewas akibat kekerasan, bukan karena penyakit. Hal ini terungkap setelah polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan dilakukannya autopsi pada jenazah korban.
"Dari hasil olah TKP dan autopsi, terdapat dugaan kuat adanya peristiwa kekerasan terhadap korban yang mengakibatkan korban meninggal dunia," kata Kasatreskrim Polres Sragen, AKP Catur Agus Yudo Praseno.
Hingga saat ini polisi masih mendalami pemicu kekerasan yang dilakukan antara pelaku dan korban hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
"Pemicu kekerasan sedang didalami dalam proses penyelidikan, namun temuan awal menunjukkan adanya kesesuaian antara olah TKP dan autopsi bahwa korban meninggal akibat kekerasan, dan awal mula terjadi hal tersebut yaitu adanya ejek-ejekan antara korban dan terduga pelaku," ujarnya.