Ini adalah cerita tentang Lestari Siti Latifa alias Tari yang dua kali dianggap mati tapi hidup kembali. Pertama ketika sakit parah di masa kecilny, kedua saat kecelakaan maut di Sampit, Kalimantan Tengah.
Artikel ini pertama tayang di Kisah (edisi khusus Majalah Intisari tentang kisah-kisah inspiratif) Volume I Novembe 2006 dengan judul "Dua Kali Mati Suri" | Penulis: Mayong S. Laksono
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Telah dua kali Lestari Siti Latifa alias Tari dianggap mati. Pertama, waktu kecil dia sakit keras dan dinyatakan meninggal, tapi terbangun ketika "jenazahnya" disalatkan sambil menunggu liang lahat digali. Kedua, dia terbaring selama enam bulan di ruang perawatan intensif RS Pertamina Jakarta, sebagian besar tanpa denyut nadi.
Tapi "perjalanan" yang dialami selama "mati" itu kemudian memberi dia kekuatan untuk menjadi pengobat alias ahli terapi alternatif.
Yang terucap dari mulut Tari, "Saya masih kecil waktu itu," setiap kali mengenang peristiwa ketika dia pertama kali dinyatakan meninggal. Orangtuanya, pasangan Ki Sumarno dan Mbah Tuntum, meski ditokohkan dan dikenal sebagai "orang pintar" di Desa Payungan, Walitelon, Temanggung, Jawa Tengah, bukanlah orang kaya. Apalagi waktu itu fasilitas dan akses kesehatan belumlah selengkap sekarang.
Tari, lengkapnya Lestari Siti Latifa, kelahiran 2 Mei 1973 sebagai anak keempat dari lima bersaudara, ketika itu sakit panas. Situasi yang kurang mendukung menyebabkan penyakitnya tak segera bisa diobati.Makin lama bahkan kondisinya semakin buruk, hingga akhirnya tak tertolong.
Di suatu senja yang gerimis, Tari “meninggal dunia”. Sesuai tradisi setempat, sebelum dimandikan dan dikafani, jasadnya dibaringkan di atas tempat tidur dan ditutupi kain. Orang berkerumun di sekelilingnya sambil mengaji.
Doa-doa didaraskan, kerumunan orang pun makin bertambah. Segala tata upacara kematian dijalankan, termasuk liang lahat di tanah kuburan disiapkan. Di tengah segala aktivitas itu, tiba-tiba Tari terbangun.
Orang mengira ada pertanda buruk, atau ada arwah yang merasuk, kalau saja tak berpikir, yang meninggal adalah seorang gadis kecil tak berdosa. Tapi Mbah Tuntum, sang ibu, tahu bahwa itu sebuah proses mistis yang memang tengah dialami anaknya.
Ketika (dinyatakan) meninggal itu Tari merasa dibawa oleh seorang pria ke suatu tempat yang menyeramkan. Melalui pintu besar yang dijaga raksasa bercawat sambil memegang gada, tongkat pemukul ukuran besar, Tari merasa masuk ke suatu ruangan yang penuh dengan orang-orang malang.
Ada orang yang badannya disundut besi menyala, ada yang menusuk-nusuk mata, ada yang memotong sendiri lidahnya, ada yang mencakar-cakar wajah sendiri sampai berdarah, dan sebagainya.
"Saya masih terlalu kecil untuk menyimpulkan apakah itu yang namanya neraka atau bukan," kata Tari.
Tak tahan menyaksikan segala penderitaan itu, Tari pun meronta. Dia meninggalkan tempat itu sambil menangis. Nah, ketika menangis itulah Tari terbangun dari "kematian".
Orang yang sedang mengaji di sekeliling terperanjat mendapati si gadis yang semula disangka sudah tak bernyawa menangis sesenggukan di balik kain. Ternyata dia tidak jadi meninggal. Sebaliknya, Tari pun sangat heran mendapati orang berkerumun dalam suasana duka.
Dia sembuh dari sakitnya. Rupanya, jarak waktu antara saat dia demam tinggi dan ketika terjaga dalam keadaan menangis, bagi Tari adalah pengalaman menyeramkan, sekaligus sulit untuk dijelaskan. Walaupun kenyataannya dia kemudian sembuh.

Adiknya juga mati suri
Waktu terus berlalu. Tari tumbuh seperti gadis lain pada umumnya, dalam kondisi keluarga yang tak berbeda. Namun para tetangga tak pernah melupakan kejadian di sore hari itu. Bagi mereka, peristiwa itu semakin menunjukkan bukti adanya kekuatan yang melingkupi keluarga Ki Sumarno dan Mbah Tuntum.
Apalagi tak lama kemudian si bungsu Kenti juga mengalami peristiwa yang sama. Dia menderita sakit parah, tak tertolong, dan akhirnya "meninggal". Tari mengenang, "Selama dua jam nadinya tak berdenyut sama sekali. Badannya dingin, akhirnya disimpulkan meninggal."
Tak ada keraguan sama sekali bagi keluarga karena yang menyatakan Kenti meninggal - seperti halnya Tari dulu - adalah salah seorang kakeknya, Mbah Sastrodiwiryo, yang seorang dokter.
Tapi, seperti halnya Tari, Kenti juga mengagetkan banyak orang karena tiba-tiba bangun. Gadis kecil yang hari pasaran kelahirannya berurutan dengan sang kakak itu kembali waras seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Bedanya, kalau semenjak mati suri Kenti tidak merasa bertambah anugerah, Tari merasa ada kelebihan dalam dirinya. Misalnya, menghadapi orang sakit dia langsung tahu cara pengobatannya. Dia menyebut suatu ramuan atau bahan alamiah tertentu, sepertinya asal bicara dan tanpa sengaja, namun setelah dijalani ternyata si penderita sembuh.
"Itu mulai terjadi kira-kira ketika saya umur 12 tahun," tambah Tari.
Cerita tentang kekuatan Tari sebagai pengobat lantas beredar dari mulut ke mulut. Orang yang sebelumnya mempercayakan pengobatan kepada Mbah Tuntum, sejak itu bisa berharap pada gadis itu.
Di sisi lain Tari makin sering melakukan "perjalanan" meski tak harus mati suri lebih dahulu. Juga ketika dia pindah dari rumah orangtuanya untuk ikut dr. Sastrodiwiryo yang merupakan "kakek sambungan" setelah kakek kandungnya meninggal, tak jauh dari desanya.
Tak hanya kemampuannya makin terasah; nuraninya pun makin kuat. Demikian pula keyakinan keagamaannya. Dia menjadi lebih dewasa dan lebih bijak dibandingkan dengan remaja lain seusianya.
"Saya juga lebih terampil," tambah Tari. "Dalam aktivitas atau pekerjaan, saya melakukan hampir semua pekerjaan laki-laki. Mencangkul, memanjat pohon, atau membetulkan atap rumah. Begitu saja tanpa harus merasa saya ini perempuan dan yang saya lakukan tidak cocok buat perempuan. Pokoknya saya membantu orangtua, meringankan pekerjaan mereka."
Bekerja diam-diam
Ketika kelas 3 SMP, Tari diminta oleh Budenya, kakak ibunya, untuk ikut tinggal di Jakarta. Sang Bude yang tidak punya anak memang ingin membesarkan Tari, selain berharap bisa membantu mengurangi beban keluarga adiknya.
Tapi apa lacur, Pakde dan Budenya ternyata pemarah. Tak cuma makian yang sering didapat saat dia dimarahi. Tamparan dan pukulan pun sekali-dua. Tapi itu semua tak membuat Tari benci kepada mereka, lantas pergi atau kembali ke rumah orangtuanya.
Dia justru mengalihkan penderitaan dengan mencari kesibukan yang menghasilkan uang. Misalnya membeli majalah dan buku bekas, kemudian dijual. Dia mencari uang dengan segala kreativitasnya.
Masuk ke SMAN 53, Cipinang Elok, Jakarta Timur, Tari mengalami keadaan yang tidak berubah. Tapi itu semua sama sekali tidak dianggapnya sebagai penderitaan. Dia sekolah, dan tetap mengisi waktunya dengan aktivitas yang menghasilkan uang. "Pokoknya, saya enggak pernah membiarkan diri menganggur," kata Tari.
Dia bahkan mencari pekerjaan tetap di sebuah restoran. Aktivitas selepas sekolah itu mula-mula dijalani dengan diam-diam. Tapi lama-kelamaan Pakde dan Budenya tahu. Tari kena marah habis-habisan. Daya tahannya jebol, dia memutuskan pulang ke rumah orangtuanya tanpa menyelesaikan pendidikan SMA.
Tak lama dia di Temanggung. Kembali ke Jakarta, Tari mencari pekerjaan lagi. Dia menemukan kerja klerikal di sebuah perusahaan swasta. Dia cukup betah bekerja di sana, hingga suatu saat ditugaskan ke Sampit, Kalimantan Tengah.
Di kota itulah yang baru saja sembuh dari luka kerusuhan itulah Tari berkarier. Lantas dia mempelajari usaha perkayuan, sampai suatu saat oleh atasannya disuruh coba-coba mandiri. Melalui perusahaan kerja sama, Tari mulai berbisnis kayu.
"Dengan uang tabungan selama setahun bekerja saya coba beli kayu sendiri dari pedalaman, lalu menjualnya. Mula-mula sedikit, sekitar 3 - 4 m3 kayu ulin. Lama-lama kuota saya naik terus hingga terakhir mencapai 12 m3," cerita Tari.
Kesuksesan baru mau diraih ketika tiba-tiba malapetaka itu tiba. Kecelakaan hebat melanda, dan untuk kedua kalinya Tari nyaris kehilangan nyawa - bahkan tak sedikit orang yang menganggap dia sudah tewas.

Enam bulan tak sadar
Tari hanya sekilas mengingat peristiwa di awal tahun 2000 itu. Hari belum siang benar ketika dia mengendarai Honda Civic Wonder warna merah keluar dari halaman kantor PT Rungo Alam Subur di Jl. Tjilik Riwut, Sampit.
Jalan utama di Kota Sampit itu sedang diaspal ulang, dan tentu saja melibatkan banyak mesin dan alat berat. Satu sisi diaspal dan dihaluskan, menyisakan sisi yang lain untuk dilewati kendaraan bergantian. Tari memegang kemudi, sementara di sebelah kirinya duduk teman sekantornya, Mbak Yuli yang asal Semarang.
Tiba-tiba, sesuatu membentur mobil Tari dengan amat keras dari belakang. Seketika dunia gelap pekat bagi Tari dan Yuli.
Rupanya, sebuah Kijang menabrak mobil Tari dalam kecepatan yang amat tinggi. Itu memang bukan mobil biasa, karena mengangkut kawanan penjahat yang baru saja berhasil merampok Bank Indonesia yang letaknya berhadapan dengan kantor PT Rungo. Mereka mencoba kabur dari kejaran polisi, dan terhenti setelah menabrak mobil Tari. Mirip adegan film.
Bagi aparat kepolisian dan BI, Tari dan Yuli adalah pahlawan karena menggagalkan upaya perampokan meski secara tak sengaja.
Malangnya, kepahlawanan itu harus ditebus dengan balasan amat mahal karena mobil yang berjasa menghentikan upaya pelarian itu terlempar ke arah asphalt roller, silinder penghalus aspal jalan, mesin besar yang semua bagiannya terbuat dari besi. Benturan yang teramat keras betul-betul meremukkan kereta Jepang itu, dan sudah pasti, beserta isinya.
"Hanya beberapa detik saya merasa dada ini sangat sakit, dan saya melihat gumpalan-gumpalan darah keluar dari mulut. Sayup-saup saya mendengar teriakan orang. Dengan segala kekuatan saya coba berpesan kepada mereka agar jangan memberitahukan kejadian itu kepada orangtua atau Pakde dan Bude saya di Pulau Jawa," kenang Tari. Setelah itu dunia gelap pekat baginya.
Mereka yang melihat kondisi Tari dan Yuli saat itu, apalagi melihat mobil yang hancur total, kebanyakan memastikan, keduanya tak akan selamat. Baru setelah sembuh enam bulan kemudian Tari diberitahu, setelah kejadian itu dia dibawa ke rumah sakit namun kemudian ditelantarkan.
Rumah sakit di Sampit menolaknya karena tak melihat ada harapan hidup. Tari lantas dibawa ke Surabaya, pun dengan hasil yang sama. Pihak rumah sakit di Surabaya menyarankan agar Tari dibawa ke RS Pertamina Jakarta. Di rumah sakit itu pun banyak orang, termasuk para dokter, pesimistis akan nasib Tari. Hanya satu dokter yang yakin bahwa Tari masih bisa ditolong.
Enam bulan Tari terbaring di Ruang Perawatan Intensif (ICU) RS Pertamina Jakarta, dia melalui waktu selama itu dalam denyut jantung yang sebagian besar nol. "Badan saya remuk. Darah keluar dari semua lubang di tubuh. Saya menjalani berbagai operasi bertubi-tubi. Tapi yang membuat saya bersyukur, otak saya tidak terganggu sama sekali," kata Tari sambil menunjukkan pelipis kanannya yang lunak tak bertulang.
Ada juga bekas jahitan di telapak kaki yang dulu, akibat lama tertutup gips, sampai dipenuhi belatung. Ada bekas lubang yang menembus betisnya, telapak tangan kanannya pun pipih dan bengkok setelah sebelumnya hancur.
"Makanya, ketika keadaan saya mulai membaik, saya pernah berikrar, kalau tangan ini sembuh akan saya gunakan untuk menolong orang," kisahnya.
Dalam kondisi koma itu Tari berkali-kali mengalami perjalanan spiritual ke "alam lain". Salah satu yang mengesankannya adalah berkunjung ke suatu tempat yang amat indah dan bersih.
Di tengah padang rumput tanpa sampan meski banyak pohon lebat, terdapat sebuah bangunan terang benderang walau Tari tak melihat ada lampu. Bangunan itu dijaga oleh serombongan lelaki berkuda. Tari meyakini tempat itu tak lain makam Nabi Muhammad SAW.
Buktinya, beberapa saat setelah dia sembuh dan melihat gambar makam Nabi yang terletak di dalam Masjid Nabawi di Madinah al Mukaromah, pengalaman spiritualnya seperti berulang.
Di batas kesadaran - sadar kalau sedang terbaring di ruang ICU namun juga sadar sedang melakukan perjalanan gaib - Tari mendengar kata-kata, "Ayo, kumpulkan tulang-tulang itu!" Dia merasa tulang yang dimaksud dalam kata-kata itu adalah tulang-tulang tubuhnya yang saat itu, dia tahu, remuk-redam.

Jarang makan nasi
Enam bulan berlalu. Kondisi Tari berangsur-angsur membaik. Akhirnya dia pun sembuh. "Saya berterima kasih kepada siapa saja yang telah membantu," tambah Tari.
Dia menyebut pihak Bank Indonesia yang mengurusi pengobatannya berpindah-pindah rumah sakit dan pelbagai bantuan berkelanjutan. Kalau tidak dengan cara selalu mengisi tabungannya, ya melunasi semua tanggungan keuangan Tari.
Rupanya, permintaan Tari sesaat setelah kecelakaan dituruti kawan-kawannya. Tak ada pihak keluarga yang diberi tahu. Barulah sekeluar dari rumah sakit, Tari berterus terang kepada kerabatnya. Kepada Pakde dan Budenya, juga kepada orangtuanya di Temanggung.
Cukup lama mereka sekadar menerima kabar rutin dari teman-teman Tari, dia baik-baik saja di Kalimantan. Padahal, ini lewat penuturan orangtuanya kemudian, persis di hari tabrakan, di seluruh bagian rumah orangtuanya tercium bau amis. Tak seorang pun menduga, itu pertanda kemalangan yang dialami Tari. Entah perasaan ibunya.
Di masa pemulihan, peristiwa magis rupanya terus berlangsung. Di suatu perjalanan spiritual Tari menerima tiga buah manis yang kemudian dimakannya.
Rupanya, santapan rohani itu kemudian menjadi penguat jasmaninya. Lewat "bisikan" serupa dia melanjutkan "laku" dengan hanya makan nasi putih dengan lauk bawang goreng. "Empat tahun saya jalani itu. Sesudah lewat masa itu, saya malah jarang makan nasi."
Lebih dari itu, dia pun jarang makan. "Semua orang di rumah ini tahu. Asisten saya, adik saya, tahu kalau saya jarang makan. Paling-paling minum dan merokok," Tari menunjuk staf di tempat praktiknya sebagai pengobat alternatif di daerah Kalibata, Jakarta Selatan.
Ditanya sebabnya, "Saya sendiri bingung. Kalau saya manusia biasa kok jarang makan, tapi kalau gaib kok kelihatan. Lagi pula saya jarang sakit."
Di tempat itu pasien berdatangan dengan aneka macam keluhan. Tari, yang menggunakan nama Jeng Tari sebagai nama dagang, membantu lewat pelbagai jalan. Baik "laku", doa, maupun ramuan herbal yang bahannya berkarung-karung dia simpan di lantai atas tempat praktiknya.
"Saya cuma minta pasien percaya sepenuhnya, insya Allah akan sembuh. Saya sekadar menempatkan diri sebagai perantara, sebagai pelaksana untuk menuju ke jalan kesembuhan. Itu pun tanpa menjanjikan atau memastikan. Sebab bagi saya, yang mutlak itu hanya Allah. Manusia sangat relatif sifatnya," tambah Tari.
Dia menghentikan perbincangan untuk menangani pasien yang cukup lama menunggu. Ada harapan, ada kepasrahan, dan ada pula keyakinan dalam kerumunan orang di ruang praktik Jeng Tari. Benarlah ikrarnya yang diucapkan tempo hari ketika tangan kanannya hancur. "Kalau tangan ini sembuh, saya akan menggunakannya untuk membantu orang lain." Mayong S. Laksono.