TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) mengungkap update informasi mengenai Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Iran seiring masih berlangsungnya eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah (Asia Barat) semenjak agresi militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Negeri Para Mullah, Sabtu (28/2/2026) lalu.
Plt Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah mengungkapkan, saat ini masih ada lebih dari 200 orang WNI yang berada di Iran.
"Saat ini masih tercatat total sekitar 281 orang WNI yang berada di wilayah Iran. 35 orang di antaranya adalah ABK [Anak Buah Kapal] yang berada di kapal-kapal yang di pesisir Iran," kata Heni dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Heni menyebut, pihak Kemlu RI melalui Kedutaan Besar RI (KBRI) Teheran masih rutin mengontak para WNI yang tinggal di negara tersebut.
"KBRI Tehran terus melakukan kontak secara berkala dengan para WNI yang berada di Iran. baik kepada WNI yang tinggal yang tinggal di Iran sebagai residen maupun yang non-residen," jelasnya.
Heni juga menyatakan, pihak Kementerian Luar Negeri RI masih terus mematangkan rencana evakuasi bagi WNI yang siap untuk kembali ke Tanah Air.
Ia menegaskan, Kemlu RI tetap memantau situasi dan menyesuaikannya dengan rencana evakuasi demi menjaga keselamatan para WNI.
"Terkait perkembangan terkini di Iran, KBRI terus mematangkan rencana evakuasi tahap berikutnya, dengan melakukan kontak dengan para WNI yang telah menyatakan siap untuk dievakuasi," tutur Heni.
"Dan tentunya terkait rencana evakuasi ini terus disesuaikan dengan kondisi terkini dan situasi di lapangan."
"Mengingat perlu dipastikan bahwa pergerakan para WNI tersebut juga dilakukan melalui rute-rute yang aman baik pada saat menuju titik kumpul maupun pergerakan, menuju titik destinasi evakuasi di negara lain."
Baca juga: Kemlu RI: Investigasi Awal PBB Sebut Prajurit TNI Tewas Akibat Tembakan Tank Israel
Repatriasi Mandiri WNI
Adapun agresi militer AS-Israel terhadap Iran yang dinamai Operation Epic Fury tersebut saat ini sudah memasuki hari ke-39.
Dalam kurun waktu ini, Kemlu RI menyatakan, sudah ada lebih dari 2,2 juta WNI di Timur Tengah yang direpatriasi dengan fasilitas dari perwakilan RI di kawasan tersebut.
Angka tersebut belum termasuk jumlah WNI jemaah umrah.
"Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di kawasan terus memantau secara ketat perkembangan situasi di Iran dan di Timur Tengah selama 39 hari pasca serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada tanggal 28 Februari lalu," jelas Heni.
"Hingga saat ini, perwakilan RI di Timur Tengah telah memfasilitasi proses repatriasi mandiri WNI sebanyak 2.285 285 orang dan jumlah ini di luar dari jumlah WNI jemaah umrah yang dipulangkan."
Kemlu RI juga menerangkan, ada lebih dari 720 WNI yang masih terjebak di berbagai wilayah di Timur Tengah karena gangguan penerbangan akibat konflik.
"Saat ini, terdapat 720 WNI yang tertahan karena disrupsi penerbangan di berbagai wilayah di Timur Tengah dan sudah dalam penanganan untuk ee menunggu penerbangan ke Tanah Air," ucap Heni.
Pencarian ABK WNI yang Hilang di Selat Hormuz Masih Berlangsung
Masih dalam konferensi pers yang sama, Heni juga membahas tiga anak buah kapal (ABK) WNI yang dilaporkan hilang selama lebih dari satu bulan setelah kapal Musaffah 2 meledak di sekitar Selat Hormuz pada Jumat (6/3/2026) lalu.
Diketahui, kapal tersebut merupakan jenis kapal tunda atau tugboat yang berbendera Uni Emirat Arab (UEA).
Heni mengungkap, proses pencarian terhadap 3 ABK WNI yang hilang itu masih berlangsung.
Kata dia, total ada lima WNI yang jadi awak kapal di Kapal Musaffah 2, dengan rincian dua orang selamat, dan tiga lainnya masih dalam pencarian.
"Terkait insiden kapal Musaffah 2, di mana ada dua ABK WNI yang selamat dan tiga orang ABK WNI yang masih dalam pencarian," kata Heni Hamidah.
Heni mengatakan, berdasarkan data Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan RI, tercatat ada 892 ABK WNI di Timur Tengah ketika konflik meletus.
Ia menegaskan, pemerintah melalui perwakilan diplomatik di negara terkait terus berkoordinasi intensif dengan para ABK yang terdampak perang.
"Sebagaimana yang disampaikan di awal, 35 orang berada di pesisir Iran dan semua perwakilan kita baik di Iran maupun di kawasan Timur Tengah melakukan komunikasi secara intensif terhadap para seafarer ini," ujar Heni.
Update terbaru, eskalasi konflik yang dimulai oleh serangan AS-Israel ke Iran saat ini memasuki tahap baru, yakni gencatan senjata yang efektif berlaku per Rabu (8/4/2026) hari ini.
Pemerintah Iran dan AS dilaporkan bersedia berunding dan akan memulai negosiasi di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/4/2026).
Seusai gencatan senjata, pemerintah Iran mengumumkan akan membuka Selat Hormuz dan menjamin keamanan navigasi melalui koordinasi dengan militer Iran.
Kemlu RI menyatakan, sejauh ini tercatat ada dua kapal supertanker atau very large crude carrier (VLCC) Pertamina (Pertamina Pride dan Gamsunoro) yang masih tertahan di Selat Hormuz pasca eskalasi konflik terjadi.
(Tribunnews.com/Rizki A.)