Rabosore Jadi Lapak Mahasiswa Sastra Bicara, Konsisten Gelar Tikar dan Buku Sejak 2003
Irfani Rahman April 09, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- Sore itu lingkungan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Kampus 2 Lidah Wetan menyajikan suasana berbeda. Di antara bangunan fakultas yang mulai teduh, selembar tikar digelar di sudut halaman.

Buku-buku ditumpuk seadanya serta selembar kertas bertuliskan “Baca buku gratis” yang diletakkan begitu saja di pinggir tikar.

Beberapa anak muda duduk mengelilingi, berbagi cerita dengan suara pelan disertai tawa kecil yang menghangatkan udara menjelang senja.

Di tengah meningkatnya lagi minat membaca di kalangan anak muda Surabaya mulai dari lapakan, klub baca, hingga diskusi independen mengenai buku, Komunitas Rabosore hadir sebagai salah satu ruang yang ikut menghidupkan gerakan tersebut.

Komunitas ini tidak terorganisasi secara ketat, tidak besar, tetapi kehadirannya konsisten dan dekat bagi siapa pun yang ingin singgah.

Rabosore lahir pada 2003 dari sekelompok mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Unesa yang mencari ruang untuk menyalurkan minat mereka terhadap sastra.

Baca juga: BREAKING NEWS- Kecelakaan Maut di Bundaran Palam Banjarbaru, Mahasiswi UIN Antasari Meninggal

Baca juga: Dilema Kuliah Daring

 “Awalnya hanya kumpulan anak-anak sastra yang butuh tempat untuk berkegiatan dan berbicara tentang kesusastraan,” ujar Satria Shendy, salah satu anggota Rabosore.

Terciptanya nama Rabosore pun sederhana, yakni karena kegiatan mereka berlangsung setiap Rabu sore dan ritme itu bertahan hingga sekarang. Komunitas ini tidak memiliki struktur pengurus ataupun visi dan misi formal.

 “Kami tidak pernah mendengar komunitas ini punya misi tertentu. Kami hanya gemar berkegiatan, gemar berbicara tentang sastra, dan gemar berkomunitas,” kata Satria.

Di tengah konsistensi itu, beberapa pengunjung menilai keberadaan Rabosore justru memberi ruang diskusi yang sudah jarang ditemui. Swandaru Aghni, mahasiswa Manajemen Unesa, mengatakan semangat Rabosore membuatnya tertarik singgah.

 “Rabosore tetap menghidupkan ruang diskusi di tengah banyak anak muda yang mulai meninggalkan kegiatan seperti ini. Isu yang mereka bawa juga sering luput dibahas komunitas lain,” ujarnya.

Dalam perjalanannya, Rabosore sempat beberapa kali vakum. Namun komunitas ini tidak pernah benar-benar hilang.

Selalu ada generasi baru yang merasa cocok dengan suasananya, lalu mengambil peran secara alami untuk menjaga kegiatan tetap berjalan. “Selama masih ada orang yang tertarik dengan sastra, Rabosore akan tetap hidup,” ujar Satria.

Saat ini, grup komunikasi komunitas berisi 70–80 orang, terdiri atas mahasiswa Unesa maupun peserta dari luar kampus. Tidak ada proses seleksi. Siapa pun yang ingin bergabung cukup hadir di kegiatan lapak atau menghubungi anggota yang ada di lokasi ketika lapak berlangsung. (kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.