TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Pemerintah Provinsi Jambi akan memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2026.
Hal itu menyusul peringatan dari BMKG terkait fenomena El Nino yang diprediksi terjadi tahun ini. Kesiapsiagaan daerah dinilai menjadi kunci utama, dalam menekan dampak yang ditimbulkan.
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada perubahan pola cuaca global, termasuk berkurangnya curah hujan di Indonesia.
Dampaknya, sejumlah wilayah seperti Jambi berpotensi mengalami musim kemarau lebih panjang, meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, kekeringan akibat menurunnya sumber air, serta munculnya gangguan kesehatan akibat asap dan debu.
Terkait hal itu, Gubernur Jambi, Al Haris mengatakan semua pihak dari pemerintah pusat hingga daerah, diharapkan dapat bersinergi dalam menghadapi ancaman tersebut.
“Ya jadi begini, Pak Menteri Lingkungan Hidup dengan para pejabat pusat tentunya berharap kesiapan di daerah itu penting. Ya kesiapsiagaan kita di daerah dalam rangka untuk antisipasi karhutla 2026 ini,” katanya.
Berdasarkan paparan BMKG, dia menuturkan fenomena El Nino diperkirakan mulai terasa sejak Juni, meningkat pada Juli, dan mencapai puncaknya pada Agustus 2026.
Menurutnya, hal itu berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan secara signifikan di sejumlah wilayah, termasuk Provinsi Jambi.
Sebab itu, seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, hingga Manggala Agni dan para relawan diminta turut terlibat.
Instansi terkait seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan juga dilibatkan dalam upaya mitigasi, termasuk peran sektor swasta dan komunitas peduli api.
“Termasuk juga peran swasta dan Komunitas Masyarakat Peduli Api, ini kita gerakkan lagi,” tuturnya.
Al Haris mengingatkan akan adanya tiga potensi dampak utama yang harus diantisipasi sejak dini, yakni meningkatnya risiko kebakaran, terjadinya kekeringan akibat berkurangnya sumber air, serta munculnya wabah penyakit akibat asap dan debu.
“Pertama rawan kebakaran, kedua kekeringan, dan yang ketiga wabah penyakit. Ini yang kita wanti-wanti dari jauh hari,” ujarnya.
Dia berharap, masyarakat turut berperan aktif dalam upaya pencegahan, termasuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta menjaga ketersediaan air di lingkungan masing-masing.
“Dengan kesiapan bersama, dampak karhutla diharapkan dapat diminimalisir,” pungkasnya. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: BMKG Peringatkan El Nino 2026, Al Haris: Kesiapsiagaan di Daerah Penting