TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Di tengah pesta gol 6-1 Bali United FC atas PSBS Biak di Stadion Kapten I Wayan Dipta, terselip momen langka saat wasit Agung Setiyawan memberikan kartu kuning kepada Johnny Jansen pada menit ke-87.
Hukuman ini merupakan yang pertama kalinya diterima oleh sang pelatih setelah melewati 26 pertandingan tanpa sekalipun melakukan protes keras kepada pengadil lapangan.
Alih-alih membela diri secara berlebihan, Jansen justru menunjukkan sikap ksatria dengan mengakui kesalahan bicaranya di pinggir lapangan.
Kekesalan Jansen bermula dari ketidakkonsistenan wasit dalam menghentikan pertandingan saat ada pemain lawan yang terjatuh, yang akhirnya menghambat momentum serangan balik timnya.
Baca juga: Bali United Gilas PSBS Biak 6-1, Johnny Jansen Sesumbar: Seharusnya Bisa 10 Gol Hari Ini
"Sudah berapa pertandingan yang kami jalani sekarang? 26 pertandingan. Saya tidak pernah berbicara dengan wasit, tidak pernah," ungkap Johnny Jansen pada Kamis 9 April 2026.
Namun, ia dengan jujur mengakui bahwa kartu kuning tersebut adalah konsekuensi dari sikapnya sendiri.
"Bahwa saya mendapatkan kartu kuning, itu adalah masalah saya sendiri karena saya terlalu banyak bicara, jadi dia (wasit) benar dengan memberikan saya kartu kuning," tuturnya.
Jansen menekankan bahwa seorang pelatih memikul tanggung jawab besar untuk memberikan contoh perilaku yang baik, terlepas dari rasa tidak puas terhadap kinerja wasit.
"Saya senang mereka memberi saya kartu kuning karena menurut saya pelatih harus menunjukkan lebih banyak bagaimana seharusnya Anda bertindak. Jadi, mulailah dari diri saya sendiri," ucapnya.
Jansen yang memilih untuk melakukan introspeksi diri daripada terus menyalahkan pengadil.
Ia berharap sikap ini dapat menjadi pembelajaran bagi dirinya maupun staf kepelatihan lainnya dalam menjaga sikap di lapangan. (*)