TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi gencatan senjata dengan Amerika Serikat yang dinilai semakin rapuh.
Pernyataan tersebut menambah panjang daftar dinamika konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda di kawasan tersebut.
Peringatan ini disampaikan langsung oleh pejabat kantor kepresidenan Iran, Abbas Mousavi, yang menyoroti sejumlah pelanggaran yang dinilai mengancam stabilitas kesepakatan.
Menurutnya, sejak awal Iran telah menetapkan syarat penting dalam perjanjian tersebut, yakni penghentian seluruh serangan terhadap wilayah sekutu, khususnya Lebanon.
Ia menegaskan bahwa keamanan negara-negara sekutu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesepakatan damai tersebut.
Selain Lebanon, Iran juga memasukkan Yaman sebagai wilayah yang harus mendapat perlindungan dalam perjanjian itu.
“Iran telah jelas menegaskan bahwa Lebanon, Yaman, dan teman-teman kami harus dimasukkan dalam perjanjian gencatan senjata,” ujarnya, mengutip Al Mayadeen, Kamis (9/4/2026).
Namun demikian, situasi di lapangan justru menunjukkan kondisi yang berlawanan dengan harapan tersebut.
Baca juga: Murka Lebanon Digempur, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Tuding AS-Israel Langgar Gencatan Senjata
Serangan yang masih terus berlangsung oleh Israel ke wilayah Lebanon dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan.
Hal ini membuat Iran menilai bahwa fondasi gencatan senjata kini berada dalam posisi yang sangat rentan.
Mousavi bahkan menyebut bahwa kesepakatan tersebut dapat runtuh sewaktu-waktu jika pelanggaran tidak segera dihentikan.
Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya ketidakpercayaan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Lebih lanjut, Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam menghadapi situasi ini.
Teheran disebut tengah mempertimbangkan berbagai opsi respons terhadap perkembangan yang ada.
“Iran akan menanggapi pelanggaran gencatan senjata dengan pelanggaran gencatan senjata,” tegasnya.
Baca juga: Iran Mendadak Tutup Lagi Selat Hormuz Usai Israel Gempur Lebanon, Dunia Diambang Krisis Energi!
Ia juga menuduh bahwa Israel secara konsisten berupaya melemahkan setiap peluang menuju perdamaian.
Menurutnya, sejak awal konflik, Iran telah menyatakan bahwa agresi diprakarsai oleh Israel dan Amerika Serikat, namun keduanya tidak akan menjadi pihak yang mengakhirinya.
Dalam konteks lebih luas, Mousavi juga mengungkapkan bahwa Iran telah memperingatkan negara-negara tetangga terkait penggunaan pangkalan militer (AS) di wilayah mereka untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Meski demikian, Iran tetap membuka peluang kerja sama regional.
Mousavi menyatakan bahwa Teheran siap membangun struktur keamanan bersama dengan negara-negara tetangga, serta mengklaim sebagai mitra yang dapat diandalkan.
Ia juga menyinggung bahwa AS mengalami kerugian besar dalam serangan di Isfahan, yang kemudian mendorong Washington untuk menempuh jalur mediasi melalui Türkiye dan Pakistan guna mencapai gencatan senjata.
Di akhir pernyataannya, Mousavi menyerukan agar kepemimpinan AS, termasuk Donald Trump, mengambil langkah tegas untuk menghentikan pelanggaran oleh Israel jika ingin menjaga keberlangsungan perjanjian.
(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews)