TRIBUNNEWS.COM - Gebrakan besar dilakukan McLaren yang saat ini berstatus sebagai tim juara dunia Formula 1.
McLaren memutuskan untuk merekrut salah satu orang paling penting di jajaran tim Red Bull, Gianpiero Lambiase.
Gianpiero Lambiase merupakan Race Engineer untuk Max Verstappen sejak 2016 silam.
Pindahnya Lambiase ke McLaren belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Pria asal Inggris itu baru akan bergabung ke McLaren saat musim 2028 digelar.
Kabar itu disebutkan jurnalis Telegraaf, Erik van Haren, lewat tulisannya dan unggahannya di akun X pribadinya.
Baca juga: Dilema Masa Depan Max Verstappen di F1 Gegara Gairah Balap yang Mulai Pudar
Lambiase masih akan membersamai Red Bull dan Verstappen pada musim 2027 mendatang.
Sekaligus itu akan menjadi musim terakhirnya bersama tim berlambang banteng merah tersebut.
"Gianpiero Lambiase, Race Engineer dari Max Verstappen, akan meninggalkan Red Bull dalam beberapa tahun mendatang," tulis van Haren.
Pria yang akrab disapa GP itu meniti kariernya di dunia jet darat pada 2005 silam.
Ia bergabung dengan tim Jordan dan tak lama kemudian beralih ke Force India.
Dirinya baru masuk ke Red Bull pada medio 2015.
Cuma butuh setahun, ia langsung menjadi sosok kepercayaan bagi Max Verstappen.
Lambiase-lah yang mengatur strategi, memberi instruksi, dan membantu setelan mobil Verstappen selama berada di Red Bull.
Ia juga menjadi bagian penting yang mengantar pembalap Belanda itu menjadi juara dunia beberapa kali.
Dirinya jugalah pria yang suaranya sering berada di radio Verstappen saat balapan.
Bisa dibilang, dia adalah otak dari kegemilangan Verstappen selama menjadi juara dunia sebanyak 4 kali.
Hengkanya Lambiase ke McLaren juga bisa menjadi sinyal bagi Max Verstappen.
Bisa saja Max benar-benar beranjak dari dunia F1 yang membesarkan namanya.
Dengan kata lain, kemungkinan Verstappen pensiun setelah musim 2027 mendatang semakin terbuka.
Apalagi dirinya sudah tak merasakan lagi gairah yang sama seperti membalap di tahun-tahun sebelumnya.
Banyaknya perubahan aturan settingan mobil menjadi salah satu faktor terbesar.
Perubahan tersebut sayangnya tak dirasakan positf baginya.
Bagi Verstappen, memacu mobil hingga batas maksimal adalah kewajiban.
"Ketika saya berada di dalam mobil, saya selalu memberikan segalanya. Namun dengan kondisi saat ini benar-benar tidak menyenangkan bagi saya."
"Jika Anda harus meninggalkan rumah untuk 22 balapan, pada akhirnya Anda harus melakukan sesuatu dalam hidup yang memang Anda nikmati," ungkapnya.
Keputusan Federasi Otomotif Internasional (FIA) terhadap regulasi teknis yang dianggapnya gagal memperbaiki esensi balapan menjadi sumbu utama rasa frustrasinya.
Verstappen tidak menahan diri. Sepanjang musim ia terus menyuarakan keberatan atas regulasi saat ini.
Bahkan, dengan nada sarkastik, ia menantang para pengamat untuk mencoba sendiri brutalnya mengendalikan RB22 musim ini.
"Saya dengan senang hati akan mendudukkan Anda (pihak FIA) di mobil saya sekali saja," ujar Verstappen.
"Saya rasa lap yang saya jalani jauh lebih menantang daripada tahun lalu, tetapi itu murni hanya demi menjaga mobil ini tetap berada di atas lintasan. Dan menurut saya, itu juga menjelaskan segalanya," tambahnya.
(Tribunnews.com/Guruh)