Pengalaman Ezra Timothy, 57 Hari Mengarungi Antartika Teliti DNA Purba Moluska
Joko Widiyarso April 09, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Lulusan Program Studi Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ezra Timothy Nugroho (25) mengikuti ekspedisi 57 hari di Antartika. 

Ekspedisi yang dilakukan pada 2 Januari hingga 27 Februari ini merupakan bagian dari penelitian saat menempuh S2 di University of Tasmania, Australia. Penelitian ini pun dilanjutkan ketika dirinya menempuh S3 di kampus yang sama.

Ezra mengungkapkan riset yang dilakukan terkait dengan DNA purba dari sedimen. Sampel yang diambil merupakan sedimen bawah laut dari Antartika. Pada risetnya, ia fokus mendeteksi DNA dari hewan laut, khususnya moluska.

“Kami berhasil mengidentifikasi spesies-spesies moluska yang sudah hidup sampai 3.500 tahun lalu. Itu yang untuk riset S2 saya, nah untuk yang riset S3 saya ini, saya ambil lagi sampel dan masih baru berbentuk sedimen, dan disimpan di universitas saya di sana. Rencananya akan saya mulai Mei 2026,” ungkapnya saat ditemui di UGM, Kamis (9/4/2026).

Ia menyebut penelitian moluska di Antartika belum pernah dilakukan. Sehingga penelitiannya tergolong baru. Menurut dia, minimnya penelitian moluska di Antartika adalah karena banyak yang belum tahu peran penting moluska. Di samping itu, ekspedisi di Antartika juga membutuhkan dukungan finansial.

Dalam penelitian ini, ia mendapat dukungan dari pemerintah Australia. 

Tidak sendiri, ada 22 peneliti dari berbagai yang turut serta dalam ekspedisi ke Antartika itu. Para peneliti ini berasal dari Australia, Norwegia, Italia, Amerika Serikat, sementara Ezra merupakan satu-satunya peneliti dari Indonesia.

“Jadi ini pertama kali kami melakukan riset tentang itu (moluska), karena sejauh ini belum pernah ada penelitian sejauh yang kami tahu, yang dapat meneliti dan mendeteksi hewan-hewan moluska dari DNA purba ini,” ujarnya.

“Mungkin belum banyak yang tahu, hewan ini punya potensi besar. Hewan di dasar laut ini sangat berpengaruh pada ekosistem laut Antartika, meregulasi siklus nutrien, karbon. Sangat penting untuk menjaga ekosistem,” terangnya.

Tentu penelitian ini tidak mudah. Ia harus melakukan adaptasi. Tidak punya pengalaman bekerja di kapal, ia harus menyesuaikan diri selama berada di kapal riset milik pemerintah Australia itu.

Kondisi cuaca ekstrem juga menjadi tantangan, seperti saat menghadapi badai atau ombak yang sangat tinggi. Suhu sekitar minus 3 sampai minus 10 pun mengharuskannya mengenakan pakaian tebal dan berlapis-lapis. Saat badai, suhu bisa mencapai minus 15 hingga minus 30.

“Lalu beradaptasi dengan kecerahan matahari di sana. Pas Januari dan Februari itu musim panas di sana, dan di kutub selatan itu kalau musim panas hampir 24 jam terang terus. Kayak misalnya jam 11 malam itu di sana masih terang, jam 12 malam matahari mulai redup, tapi masih kelihatan cahaya. Jam 1 pagi udah terang lagi,” paparnya.

Bekerja 12 jam tiap hari 

Ia juga harus bekerja selama 12 jam setiap hari tanpa libur. Dengan berbagai tantangan tersebut, ia pun berhasil menyesuaikan diri dengan baik. 

Warga asal Jakarta itu melanjutkan penelitian ini akan dilanjutkan untuk mengetahui perubahan DNA pada moluska saat ini. Menurut dia, perbandingan ini dapat memberikan gambaran terkait cara moluska beradaptasi di tengah perubahan lingkungan.

Melalui hasil penelitian itu, ia bisa memprediksi jika terjadi perubahan lingkungan serupa yang pernah terjadi di masa lalu. Dengan demikian, hewan-hewan tersebut tidak akan punah.

“Jadi Antartika itu kan sangat terisolasi dan sangat minim disturbansi dari manusia. Jadi kalau di sana terjadi perubahan lingkungan, bisa menjadi peringatan dini bagi seluruh dunia. Kalau di Antartika kayak gitu (terjadi perubahan lingkungan), konsekuensinya itu bisa ke seluruh dunia,” lanjutnya.

Ia pun ingin bisa melakukan penelitian serupa di Indonesia. Apalagi Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya dibanding Antartika. Dengan demikian, masyarakat bisa bersama-sama menjaga lingkungan.

“Jadi penelitian di Antartika sebagai awal mula supaya kami bisa melakukan dan mendesain untuk dilakukan di Indonesia. Supaya bisa menjaga lingkungan Indonesia, pada akhirnya supaya bisa menjaga kelestarian lingkungan, pelestarian hewan di dunia,” imbuhnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.