TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di antara hiruk-pikuk pegawai yang tengah beristirahat, tampak pemandangan tidak biasa di meja panjang pojok kantin Balai Kota Yogyakarta, Kamis (9/4/26).
Bukan jamuan mewah, melainkan deretan mangkuk brongkos, kuliner khas Yogyakarta yang melegenda, yang tersaji di depan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto.
Hasto tidak sendirian, ia tampak gayeng berbincang sembari menyantap hidangan bersama Wali Kota Hasto Wardoyo, Wakil Wali Kota Wawan Harmawan, dan Ketua DPC PDIP Kota Yogyakarta, Eko Suwanto.
Bagi Hasto Kristiyanto, mampir ke kantin yang lekat dengan hidangan sederhana, punya filosofi "ekonomi kerakyatan" yang ingin ditunjukkannya secara nyata.
"Ini yang menjadi tujuan saya ke sini, selain menikmati brongkos yang sangat luar biasa. Kami kalau ke daerah itu selalu mendorong kuliner-kuliner lokal," ujarnya.
Di sela obrolan hangat, Hasto pun melempar ide segar untuk pengembangan pariwisata Kota Yogyakarta melalui jalur kuliner khas yang terkenal akan kelezatannya.
Ia mengusulkan supaya Wali Kota Yogyakarta mengundang Danny Pomanto, mantan Wali Kota Makassar, untuk berbagi resep sukses menciptakan siklus wisata kuliner 24 jam.
"Intinya konsep the city never sleeps. Kita ingin ada pertumbuhan kawasan yang berbasis pada kemampuan produksi rakyat," terangnya.
Olahan daging sapi berpadu sandung lamur, telur ayam rebus, tahu, hingga kacang tolo olahan "Mbak Ris" sontak mempertajam dikusi ringan namun serius itu.
Beberapa kali, Hasto pun menunjukkan antusiasmenya, dengan menambah hidangan brongkos yang telah tersaji di atas meja panjang kantin Balai Kota.
"Bagaimana konektivitas Yogta, Solo, hingga Magelang dan Semarang bisa menyatu dalam satu ekosistem ekonomi kerakyatan," ungkap Sekjen PDIP.
Usut punya usut pilihan lokasi makan siang ini ternyata lahir dari dialog spontan antara Hasto dengan Wali Kota dan Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta.
Ketua DPC PDIP Kota Yogyakarta, Eko Suwanto menceritakan, awal mula mengapa kantin balai kota yang dipilih, ketimbang restoran mewah di tengah kota.
"Berawal dari obrolan sama Pak Wali Kota, kuliner di mana ini? Pak Wali nyahut, itu ada di kantin, nggak jauh-jauh. Lha ndilalah brongkosnya juga enak. Jadi, ya sekalian, ini namanya kehendak Tuhan," katanya.
Menurutnya, pejabat atau elit partai sudah seharusnya mengonsumsi apa yang diproduksi dan diusahakan oleh warga masyarakat di level akar rumput.
Benar saja, semangkuk brongkos yang disajikan pun seolah menjadi saksi, bahwa politik semakin terasa nikmat jika dibumbui dengan kedekatan bersama rakyat.
"Orang partai ya harus mengonsumsi di tempat masyarakat berusaha. Ini bagian dari pemberdayaan ekonomi rakyat, sekaligus promosi, supaya kuliner Yogyakarta semakin dikenal," pungkasnya.