BPBD Deteksi Sejumlah Hotspot di Banjar, Hujan Buatan Sasuk Skenario Penanganan Karhutla di Kalsel
Budi Arif Rahman Hakim April 09, 2026 10:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Kenaikan suhu dalam beberapa hari terakhir mulai terasa di sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan. 

Meski belum memicu titik api, kondisi ini membuat beberapa daerah masuk dalam pemantauan intensif sebagai wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Khusus di Kabupaten Banjar, diketahui memiliki potensi karhutla cukup tinggi, di antaranya Kecamatan Martapura Barat, Cintapuri Darussalam, Beruntung Baru, Gambut, Sungai Pinang, Paramasan, serta kawasan hutan Tahura.

Sepanjang 2026, BPBD Banjar mencatat sudah terdapat beberapa titik panas di wilayah tersebut. Pada 24 Maret 2026 terpantau dua hotspot di wilayah Alimukim, Kecamatan Pengaron. 
Kemudian pada 29 Maret 2026 kembali terdeteksi satu hotspot di Desa Tambak Padi, Kecamatan Beruntung Baru.

Pemantauan titik panas atau hotspot dilakukan oleh Posko Induk melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) dengan memanfaatkan aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan dan berbagai sistem pemantauan lainnya.

Kepala BPBD Banjar, Wasis Nugraha, Kamis (9/4/2026) mengatakan karhutla masih menjadi salah satu bencana dominan di wilayah Kabupaten Banjar.
 
Kondisi itu kerap diikuti dampak lain berupa kekeringan dan kekurangan air bersih di sejumlah daerah rawan.

“Puncak musim kemarau biasanya terjadi pada Juli sampai Agustus. Pada periode itu potensi karhutla dan kekeringan biasanya meningkat,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah dokumen perencanaan kebencanaan, di antaranya Kajian Risiko Bencana (KRB) dan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB). 

Baca juga: Ungkap Penyelewengan Penyaluran Pupuk Bersubsidi, Polres Banjarbaru Belum Tetapkan Tersangka 

Baca juga: Kebakaran di Tepian Kali Barito Banjarmasin, Marlen Tak Sempat Selamatkan Barang

Kedua dokumen tersebut memuat berbagai potensi ancaman bencana di Kabupaten Banjar, termasuk karhutla dan kekeringan.

Selain itu, BPBD juga telah menyusun rencana kontijensi karhutla sebagai pedoman bersama bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Di tahap mitigasi atau prabencana, BPBD Banjar juga rutin mengalokasikan anggaran untuk kegiatan sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat. 

Kegiatan tersebut meliputi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), pembentukan relawan kebencanaan, serta peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.

“Upaya pencegahan menjadi bagian penting agar masyarakat lebih siap menghadapi potensi bencana,” kata Wasis.

Jika status siaga darurat ditetapkan melalui keputusan bupati, BPBD Banjar akan mengaktifkan posko penanganan karhutla.

Posko induk akan berada di Kantor BPBD Kabupaten Banjar, sementara sejumlah pos lapangan disiapkan di daerah rawan karhutla seperti Kecamatan Martapura Barat, Cintapuri Darussalam, Beruntung Baru, Sungaitabuk serta kawasan Tahura Bukit Batu.

Untuk mendukung operasional, BPBD Banjar juga menyiapkan berbagai peralatan pemadaman, di antaranya mesin alkon, mesin alkon apung, mesin alkon jinjing, jet shooter, kepyok, sumbut, hingga selang pemadam dan nozel.

Selain itu, tersedia pula dua unit truk tangki air, empat mobil pikap, empat sepeda motor trail, bak penampung air, serta puluhan tandon air yang akan ditempatkan di wilayah rawan.

Dalam pelaksanaannya, BPBD Banjar tidak bekerja sendiri. Penanganan karhutla dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak seperti TNI, Polri, PMI, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, serta relawan kebencanaan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra menyebutkan, daerah seperti Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Selatan (HSS), sebagian Barito Kuala, dan Tanahlaut mulai menunjukkan peningkatan suhu dibanding wilayah lain.

“Memang ada beberapa kabupaten yang suhunya lebih panas dalam beberapa hari terakhir. Ini yang kita pantau,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Meski demikian, ia memastikan kondisi tersebut belum mengarah pada situasi darurat. Hujan yang masih turun, terutama pada sore hari, dinilai cukup membantu menjaga kelembapan lahan.

“Beberapa hari ini masih ada hujan, jadi cukup menahan potensi kekeringan. Titik api juga masih belum terdeteksi,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, BPBD Kalsel terus mengintensifkan patroli lapangan untuk memantau perubahan situasi secara cepat, khususnya di wilayah yang mulai mengalami kenaikan suhu.

Ronny menjelaskan, pemantauan ini menjadi penting sebagai langkah awal pencegahan. Sebab, karhutla kerap diawali dari kondisi lahan yang mulai mengering akibat suhu tinggi.

Sementara itu, status siaga darurat karhutla hingga kini belum ditetapkan, baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi. Penetapan status tersebut, kata dia, masih menunggu perkembangan kondisi di daerah.

“Kalau sudah ada dua atau tiga kabupaten menetapkan siaga, baru provinsi menyusul. Saat ini belum ada,” jelasnya.

Terkait langkah lanjutan, Ronny mengungkapkan bahwa opsi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan sudah masuk dalam skenario penanganan. Namun, hingga saat ini langkah tersebut belum diperlukan.

“OMC itu sifatnya usulan ketika status siaga atau darurat ditetapkan. Saat ini masih belum diperlukan karena kita juga belum menetapkan status siaga,” jelasnya.

Ia menambahkan, keputusan pelaksanaan OMC akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi cuaca dan status kebencanaan di daerah. Pemerintah provinsi juga masih menunggu langkah dari kabupaten/kota.

“Kalau sudah ada dua atau tiga daerah menetapkan siaga, baru provinsi menyusul. Dari situ nanti kita lihat apakah perlu OMC atau tidak,” ujarnya.

Di sisi lain, kondisi lahan di sebagian besar wilayah Kalsel masih tergolong basah. Hal ini terlihat dari indikator kebencanaan yang masih berada di level aman hingga waspada rendah.

“Lahan masih cukup basah, ketinggian air di daerah resapan juga masih tinggi,” tambahnya.

Meski belum memasuki fase kritis, Ronny mengingatkan masyarakat untuk mulai bersiap menghadapi kemungkinan musim kemarau yang lebih panjang.

“Antisipasi sejak awal, seperti menyiapkan cadangan air dan menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Kalsel Muhidin, juga menekankan pentingnya langkah pencegahan, salah satunya melalui optimalisasi kanal untuk menjaga kelembapan lahan.

Langkah ini dinilai sejalan dengan kondisi lapangan saat ini, di mana kenaikan suhu mulai terdeteksi, namun masih bisa dikendalikan berkat ketersediaan air yang cukup. (Banjarmasinpost.co.id/nurholis huda/muhammad syaiful riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.