SURYA.CO.ID BOJONEGORO - Anak-anak umumnya dihabiskan dengan bermain sepak bola, layangan hingga game online.
Namun berbeda dengan Daffa Ardian Pratama bocah jenius asal Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur ini. Ia lebih tertarik belajar mesin hingga mengotak - atik barang elektronik.
Di usianya yang baru menginjak 9 tahun ini sudah menunjukkan kemampuan di luar kebiasaan anak seusianya.
Putra sulung pasangan Andik Sujianto dan Lusy Ardiana warga Desa Growok, Kecamatan Dander ini sudah mahir memperbaiki perkakas elektronik rumah tangga, seperti kipas angin, komputer hingga paham mekanikal komponen kendaran dan alat elektronik.
Sang ayah, Andik Sujianto mengungkapkan sedari kecil putra itu telah menunjukkan rasa ingin tahu dan ketertarikan yang tinggi, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan mesin dan teknologi.
Baca juga: Bukan Keajaiban, Ini 3 Strategi Jenius Kepala SMPN 1 Balung Jember Dapat Dana Revitalisasi Rp 6,2 M
"Kalau soal memperbaiki kipas angin sudah hafal, bahkan dia (Daffa) bisa menganalisis kerusakan komponennya, sekaligus menjelaskan cara memperbaikinya," ujar Andik, pada Kamis (9/4/2026).
Semua kemampuan itu, kata sang Ayah di pelajari bocah kelas 3 SD itu secara otodidak. Bermodal tutorial dari youtube dan eksperimen yang dia kembangkan sendiri.
Rasa ingin tahunya yang tinggi membuat Daffa terus mengeksplorasi pengetahuan baru. Bahkan Daffa pernah menciptakan dimmer, alat untuk mengatur tegangan listrik untuk menaikan turunkan kecepatan dinamo. Hingga eksperimen merakit sepedah listriknya sendiri.
"Komponen alatnya dia beli online. Ya saya fasilitasi, dia beli batrai dan alat-alatnya, pernah juga buat alat sapu otomatis dari cikrak dan dinamo," bebernya.
Keunikan lain dari Daffa adalah kemampuannya memahami cara kerja suatu alat hanya dengan melihat atau mencoba sebentar.
Ia tidak sekadar menggunakan, tetapi juga menganalisis sistem di dalamnya.
Seperti saat Daffa kecil menunjukkan kemampuannya saat menggulung dinamo dihadapan sang ayah yang membuatnya tercengang.
"Tidak ada yang mengajari, saya sendiri nggak paham. Kok bisa gulung dinamo dan berfungsi baik. Dia (red Daffa) bilang, ini kalau jumlah lilitan gulungannya tidak pas bakal gak stabil," ujar Andik menirukan tutur putranya itu.
Andik juga bercerita pernah suatu ketika Daffa yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak ngambek tidak mau sekolah.
Musababnya karena sang guru tidak bisa menjawab pertanyaannya. ia dengan polosnya mengajukan pertanyaan sederhana namun cukup teknis kepada sang guru, tentang apa fungsi busi pada kendaraan.
"Dia itu sejak usia 3 tahunan, memang sudah saya perbolehkan main HP buat nonton youtube. Dengan didampingi dan waktu tertentu. Yang di tonton itu bukan kartun. Dia suka lihat cara buat robot, mesin-mesin kayak gitu," ulasnya.
"Diusia itu, dia belum bisa baca tulis. Tapi, sudah bisa pakai voice di youtube, kalau apa yang ingin dia cari tapi ternyata tidak sesuai. Protes dia," sambungnya.
Meski memiliki kecerdasan tinggi, perjalanan akademik Daffa tidak selalu berjalan mulus. Nilai sekolahnya cenderung biasa saja.
Ia kurang tertarik dengan metode pembelajaran formal, dan lebih memilih belajar melalui praktik langsung.
Melihat potensi besar tersebut, orang tua Daffa kini berupaya mencari pola pendidikan yang lebih sesuai. Mereka menyadari bahwa Daffa membutuhkan pendekatan khusus agar kemampuannya dapat berkembang secara maksimal.
Selain itu, Andik mengungkapkan bahwa putra kebanggaannya itu mempunyai cita-cita tinggi dan mulia.
Daffa diketahui ingin menjadi seorang insinyur penemu alat-alat baru yang bermanfaat bagi banyak orang.
“kalau ditanya cita-cita Daffa apa? Pengen jadi insinyur,” tutup Andika.