Stunting Lamongan Turun ke 6,9 Persen: Jadi Rujukan Studi Banding Kabupaten Banjar dan Kota Salatiga
Cak Sur April 09, 2026 11:32 PM

 

SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Keberhasilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan di Jawa Timur (Jatim) dalam menekan angka stunting, menjadikan daerah ini sebagai rujukan utama bagi kabupaten dan kota lain di Indonesia.

Tercatat, prevalensi stunting di Kabupaten Lamongan mengalami penurunan signifikan dari angka 27,5 persen pada tahun 2022, menjadi 6,9 persen pada tahun 2024.

Capaian luar biasa tersebut, menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Banjar dan Pemerintah Kota Salatiga untuk datang langsung ke Lamongan guna melakukan studi banding.

Kunjungan terkait percepatan penurunan stunting tersebut dilaksanakan pada Kamis (9/4/2026).

Kedatangan Wakil Bupati Banjar, Said Idrus Al-Habsy dan Wakil Wali Kota Salatiga, Nina Agustin, diterima langsung oleh Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara.

Dirham yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Lamongan, menyambut para tamu di ruang kerjanya.

Kunjungan kerja ini, bertujuan untuk mempelajari secara langsung strategi, program unggulan, hingga pola pendampingan yang diterapkan Pemkab Lamongan dalam menangani stunting.

Strategi dan Inovasi Program Stunting

Dalam pertemuan tersebut, Dirham memaparkan sejumlah program inovatif yang selama ini dijalankan oleh Pemkab Lamongan.

Menurutnya, penurunan angka stunting tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah daerah semata, melainkan butuh kolaborasi masif.

Keterlibatan banyak pihak mulai dari pemerintah desa, kader kesehatan, hingga dunia usaha menjadi kunci keberhasilan program ini.

"Ada beberapa program yang kami jalankan secara berkelanjutan untuk mempercepat penurunan stunting," katanya.

Berikut adalah deretan program unggulan percepatan penurunan stunting di Kabupaten Lamongan:

  • Pendampingan kader kesehatan secara intensif.
  • Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH).
  • Gerakan 1-10-100.
  • Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting.
  • Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).
  • Gerakan Ferrameg atau FE Hari Rabu Megilan.
  • Sadel Cepak (Desa Model untuk Pencegahan Perkawinan Anak).

Dirham menjelaskan, bahwa keberhasilan berbagai program tersebut tidak lepas dari sinergi lintas sektor yang sangat kuat di lapangan.

Pemerintah desa, memegang peran penting sebagai ujung tombak dalam melakukan pendataan dan pemantauan keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.

Sementara itu, kalangan pengusaha dilibatkan secara aktif melalui program orang tua asuh, untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak yang membutuhkan.

"Tentu, untuk keberhasilan program-program ini juga butuh kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Dengan pemerintah desa, dengan pengusaha yang bisa diajak menjadi salah satu orang tua asuh," jelas Dirham.

Ia juga menekankan pentingnya akurasi data, agar bantuan yang diberikan tepat sasaran kepada warga yang membutuhkan.

"Program juga harus terus dipantau dan dievaluasi, dipetakan juga karena kadang bisa salah sasaran," tambah Dirham.

Komitmen Pejabat Sebagai Orang Tua Asuh

Dirham Akbar Aksara menambahkan, bahwa dirinya hingga saat ini masih berkomitmen menjadi salah satu orang tua asuh bagi anak stunting di Lamongan.

Sebagai orang tua asuh, ia mengaku rutin menerima laporan berkala mengenai perkembangan anak yang didampinginya.

Laporan tersebut, mencakup detail perubahan berat badan hingga pertumbuhan tinggi badan anak asuh secara berkala.

"Jadi ada laporannya. Saya juga masih memperoleh laporan terkait penambahan atau pengurangan berat badan hingga tinggi badan anak asuh stunting saya," ucap Dirham.

Keterlibatan langsung para pejabat, pengusaha dan elemen masyarakat dalam program orang tua asuh terbukti mempercepat tren penurunan stunting.

Dirham berharap, berbagai pengalaman dan strategi yang telah sukses dijalankan di Lamongan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain.

"Perlu komitmen bersama. Semoga apa yang kami bagikan hari ini dapat menjadi best practice yang bisa pula dilaksanakan di wilayah Bapak dan Ibu, serta berdampak pada penurunan angka stunting," tandasnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Bupati Banjar Said Idrus Al-Habsy dan Wakil Wali Kota Salatiga Nina Agustin menyatakan kekagumannya.

Keduanya sepakat akan membawa hasil studi banding tersebut, untuk segera diadopsi dan diterapkan di daerah mereka masing-masing.

Alasan utama pemilihan Lamongan sebagai lokasi studi banding, adalah keberhasilan ekstrem menekan angka stunting hingga menyentuh 6,9 persen pada 2024.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.