PLN UID Kalselteng Berdayakan Masyarakat Lewat Bisnis Jamur Tiram, Begini Mekanismenya
Kamardi Fatih April 09, 2026 11:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Deretan baglog yang merupakan media tanam Jamur Tiram, rapi berjejer di sejumlah rak kayu UMKM Jamur Tiram dari Rumah Limbah Bonkla Borneo Banjarbaru di Jalan Kebun Karet Gang Jolali Ujung RT 18 RW 7 Loktabat Utara, Kota Banjarbaru, Rabu (8/4/2026). Beberapa jamur pun merekah dan siap dipetik dari sejumlah baglog tersebut.

“Baglog ini terbuat dari serbuk gergaji sisa limbah pemotongan kayu yang diolah menjadi media tanam dengan dicampur dedak, kapur dan air secukupnya,” kata Andi Ariyanto, pemilik dan pengelola UMKM Jamur Tiram Rumah Limbah Bonkla Borneo Banjarbaru, Rabu (8/4/2026).

Meskipun sederhana, usaha tersebut cukup menjanjikan. Dari sekitar 1.000 baglog bisa menghasilkan 2-4 kilogram jamur tiram per hari. Bahkan, jika kondisi cuaca mendukung, produksi bisa naik 5-6 kg per hari. Dengan harga Rp 30.000 per kg, dia bisa mengantongi hingga Rp 180.000 per hari untuk 1.000 baglog.

Padahal saat ini dengan luas lahan 200 meter persegi, bisa menampung sekitar 5.000 baglog. Penghasilan tentunya bisa lebih meningkat lagi dengan panen 10-15 kg jamur tiram per hari dalam kondisi normal.

Tak hanya jamur, pihaknya juga menjual baglog jamur tiram yang per biji dibanderol Rp 6.000. Bagi warga yang ingin mencoba berkebun jamur tiram bisa mencoba membeli baglog ini.

Andi mengatakan, meskipun hanya terbuat dari serbuk kayu, pembuatan baglog memerlukan waktu lama dan pemilihan bahan baku yang tepat. Untuk serbuk kayu, misalnya, hanya bisa jenis kayu keras seperti sengon dan karet. Namun, kayu keras atau bergetah di dalam seperti kayu ulin dan keruing tidak cocok.

Serbuk kayu yang dicampur dedak, kapur dan air dengan takaran tertentu selanjutnya dimasukkan dalam plastik khusus yang tahan panas. Sebab, setelah diikat rapat, baglog itu harus dikukus selama 10-12 jam dalam suhu 100 derajat celcius.

Adapun langkah pertama dalam usaha budidaya jamur, meliputi persiapan kumbung (rumah jamur) yang lembab. Pembuatan atau pembelian baglog, inokulasi atau penanaman bibit jamur, lalu menunggu masa inkubasi hingga putih. Tidak lupa perawatan rutin dengan penyemprotan rutin. Setidaknya perlu waktu dua bulan hingga menghasilkan jamur tiram pertama. 

Budidaya jamur tiram bukan satu-satunya usaha Rumah Limbah Bonkla Borneo Banjarbaru. Sebab, masih ada usaha lain seperti budidaya telur itik organik, dan Bank Sampah Jolali yang juga berasal dari Desa Berdaya Jolali yang merupakan Mitra Binaan TJSL PLN UID Kalselteng yang ada di kawasan Kebun Karet Banjarbaru.

Suprapti atau akrab disapa Eet, seorang penggerak di Rumah Limbah Bonkla Borneo Banjarbaru mengatakan, usaha yang ditekuni kelompoknya bertujuan memberdayakan masyarakat sekitar khususnya, dengan memanfaatkan limbah atau sampah. 

Meski begitu, pihaknya terbuka terhadap masyarakat luar desa yang ingin berpartisipasi. Misalnya, di Bank Sampah Jolali yang kini memiliki 37 anggota, juga bekerja sama dengan panti rehabilitasi narkoba dan anak-anak muda yang ingin bergabung. 

Vigor E Hindami, Asmen Komunikasi dan TJSL PT PLN UID Kalselteng menjelaskan, Rumah Limbah Bonkla Borneo Banjarbaru di Desa Berdaya Jolali merupakan salah satu penerima Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN. 

Tujuan program ini adalah mewujudkan pembangunan berkelanjutan dengan menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta menciptakan multiplier effect bagi masyarakat. Program ini juga berfokus pada pemberdayaan masyarakat. Termasuk kemandirian ekonomi, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup melalui energi bersih. (Banjarmasinpost.co.id/Anjar Wulandari)    

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.