Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Jakarta Barat menerapkan teknologi pirolisis untuk mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi, sebagai upaya menekan beban TPA dan mempercepat penanganan sampah perkotaan.

Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah mengatakan teknologi tersebut mampu mereduksi volume sampah secara signifikan hingga menyisakan sekitar 10 persen residu dari total sampah yang diolah.

“Bila teknologi ini diterapkan, maka masalah sampah di Jakarta Barat dapat teratasi dengan baik,” kata Iin saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Dalam pelaksanaannya, Pemkot Jakarta Barat menggandeng sektor swasta, yakni PT Kimia Alam Subur (KAS), untuk mendukung kajian teknis, operasional, serta pengembangan model bisnis pengolahan sampah.

Iin menekankan pentingnya kajian ilmiah komprehensif dan strategi komunikasi publik guna mencegah kesalahpahaman, sekaligus memastikan seluruh tahapan berjalan hati-hati agar tidak memunculkan persoalan baru di kemudian hari.

Tahap berikutnya, pemerintah kota akan menentukan sejumlah lokasi yang akan disurvei sebagai kandidat penerapan teknologi pirolisis, dengan mempertimbangkan aspek teknis, lingkungan, serta penerimaan masyarakat sekitar.

Direktur PT Kimia Alam Subur Hermawan Wibisono mengatakan teknologi tersebut tidak menggunakan pembakaran langsung, melainkan pemanasan tanpa oksigen sehingga lebih terkendali dan berpotensi menekan emisi.

Menurut dia, metode ini ramah lingkungan serta mampu mengonversi sampah, terutama plastik, menjadi produk bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan kembali dalam rantai industri.

Ia menjelaskan, sampah dimasukkan ke reaktor pirolisis, dipanaskan pada suhu 400–700 derajat Celsius tanpa oksigen hingga rantai polimer terurai menjadi uap, lalu dikondensasikan menjadi minyak dan gas.

Untuk sampah organik, proses pengolahan dapat berlangsung sekitar 1,5 jam untuk kapasitas 30 ton, sementara perusahaan berharap kerja sama dapat segera diformalkan setelah survei lokasi dan penjajakan teknis rampung.