Harga Plastik Naik, Pemerintah Buka Keran Impor dari Afrika hingga India
Abdul Azis Alimuddin April 10, 2026 01:20 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memilih menahan harga jual di tengah kenaikan harga plastik.

Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyebut keputusan tersebut berdampak pada margin usaha.

Keuntungan menyusut karena biaya produksi meningkat.

“Jadi dia tetap harga dijaga sama dia, cuman akhirnya keuntungan mereka jadi menipis dong, karena kos produksi mereka menjadi naik, karena harga plastik ini naik gitu,” kata Maman di Kompleks Smesco Indonesia, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Tekanan mulai terasa dalam sepekan terakhir.

Sejumlah pelaku usaha mengeluhkan penurunan pendapatan.

Kenaikan harga plastik dipicu gangguan pasokan bahan baku.

Plastik diproduksi dari nafta, produk petrokimia berbasis minyak bumi.

Sekira 70 persen pasokan nafta global berasal dari negara Teluk di Asia Barat.

Pasokan terganggu setelah Selat Hormuz ditutup akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

Kondisi ini membuat bahan baku plastik langka.

Industri dalam negeri menurunkan volume produksi.

“Akhirnya plastik di pasar jadi langka kan. Pada saat di pasar langka, ya harga orang berebut. Masyarakat akan berebut untuk membeli plastik, ya harga jadi tinggi,” ujar Maman.

Pemerintah mencari solusi jangka pendek.

Kementerian UMKM berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk mencari sumber pasokan baru.

Nafta mulai diupayakan dari Afrika, Amerika Serikat, dan India.

Negara tersebut tidak terdampak langsung konflik.

“Sekarang ini kita sudah dapat dari Afrika, India dan Amerika. Nah sekarang lagi proses administrasi dan pengiriman dan segala macemnya. Nah itu jangka pendeknya,” kata Maman.

Solusi jangka panjang juga disiapkan.

Pemerintah dan industri menjajaki bahan baku alternatif.

Salah satu opsi adalah penggunaan rumput laut sebagai bahan dasar plastik.

Biaya produksi dinilai bisa ditekan jika skala pasar meningkat.

“Dari yang tadi nafta kita geser menjadi penggunaan rumput laut, itu sebetulnya menjadi cost operational ataupun cost produksi bisa kita turunin tuh. Bisa kita kecilin,” kata Maman.

Kenaikan harga plastik mulai terasa setelah Idulfitri.

Pedagang mencatat lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Reynaldi Sarijowan menyebut kenaikan mencapai 50 persen dibandingkan sebelum konflik.

“Jauh sebelum memasuki Ramadhan itu masih 10.000. Kemudian bertahap tuh selama sepekan, sepekan, sepekan naik Rp 500, naik Rp 700, naik macam-macam tuh sampai hari ini puncaknya itu naiknya di kita proyeksikan di 50 persen,” kata Reynaldi.

Pasokan Terganggu

Kenaikan harga berbagai jenis plastik juga mulai dirasakan di Kompleks Pasar Sentral, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Kamis (9/4/2026).

Lonjakan harga ini terungkap dari penelusuran di Toko Aneka Plastik bersama kasir, Muhammad Ridwan Dg Mangung.

Ia menyebut sejumlah produk mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satu yang paling terdampak adalah gelas plastik, yang banyak digunakan pelaku UMKM.

“Iya, sekarang banyak yang naik. Gelas plastik itu yang paling terasa,” ujarnya.

Harga gelas plastik yang sebelumnya Rp9.000 kini menjadi Rp16.500 per kemasan, tergantung ukuran.

“Kenaikannya cukup jauh, jadi banyak pembeli yang kaget,” katanya.

Selain itu, kantong plastik juga mengalami kenaikan.

Dari sebelumnya Rp6.500 menjadi Rp8.500 per bungkus.

“Selisihnya sekitar Rp2.000,” jelasnya.

Kenaikan harga ini mulai memengaruhi perilaku konsumen.

Sebagian pembeli mengurungkan niat setelah mengetahui harga terbaru.

“Ada sampai tidak jadi beli. Pas tahu harganya Rp16.500, langsung ditaruh lagi,” ungkap Ridwan.

Ia mengatakan, banyak pelanggan baru menyadari kenaikan harga saat berada di kasir.

“Sudah ambil barang, tapi pas di kasir baru sadar harganya beda jauh,” ujarnya.

Meski begitu, jumlah pembeli secara umum masih relatif stabil.

“Alhamdulillah, pelanggan masih ada. Tidak sampai sepi,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar pembeli tetap berbelanja karena kebutuhan mendesak.

“Biasanya mengeluh sedikit, tapi tetap dibeli,” katanya.

Ridwan menilai kenaikan harga ini dipengaruhi distributor, terutama dari Makassar.

“Kalau di Makassar sudah naik, di sini pasti ikut,” jelasnya.

Ia menyebut dampak kenaikan ini bersifat luas dan terjadi hampir di semua daerah.

Produk plastik seperti gelas dan kantong memang menjadi kebutuhan utama pelaku usaha kecil, terutama penjual makanan dan minuman.

Karena itu, kenaikan harga sangat terasa pada biaya operasional UMKM.

“Yang paling sering dipakai itu gelas sama kantong,” katanya.

Di sisi lain, pembelian online belum menjadi solusi utama.

“Kalau mau murah bisa cari di Shopee, tapi harus tunggu kiriman,” ujarnya.

Kebutuhan yang mendesak membuat pembeli tetap memilih berbelanja langsung di toko meski harga lebih tinggi.

“Kalau butuh cepat, tetap beli di sini,” pungkasnya.

Sementara itu, dampak kenaikan harga plastik juga dirasakan pelaku usaha minuman di kawasan Alun-alun Takalar.

Pengelola Rumah Jajanan Zafna, Kina, mengaku harus menaikkan harga jual produknya.

“Terpaksa kami naikkan dari Rp12.000 jadi Rp15.000,” ujarnya.

Meski demikian, jumlah pembeli tidak mengalami penurunan signifikan.

“Pembeli tetap ada, karena mereka tahu memang harga naik,” katanya.

Ia menilai pelanggan mulai memahami kondisi yang terjadi, meski pola belanja ikut menyesuaikan.

Kenaikan harga plastik ini menunjukkan dampak luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM di tingkat lokal di Takalar. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.