Oleh: M Qasim Mathar
Cendekiawan Muslim
TRIBUN-TIMUR.COM - Iran - bangsa Persia yang telah berjaya dengan peradaban yang tinggi pada zaman sebelum Masehi dan bersentuhan dengan Islam melalui pasukan Khalifah Umar bin Khattab, sahabat Nabi Muhammad saw.- telah menjadi perhatian semua presiden dan raja, bahkan hingga penyapu jalan dan para buruh bangunan tentang teladan, bagaimana Iran menjadi bangsa yang sabar, tabah dan kuat.
Hampir setengah abad Iran diembargo dan dikenai sanksi internasional, dari tahun 1979.
Tiba-tiba pada tahun 2026, pada 28 Pebruari, setelah hari itu diserang oleh Amerika Serikat (AS) bersama Israel, bangsa Persia yang muslim Syiah ini bangkit melawan AS dan Israel.
Jelang serangan itu, ada perundingan tentang nuklir AS dan Iran yang “nyaris berhasil” dengan mediator Oman dan rencana tahap selanjutnya di Jenewa.
Bagi Israel, perundingan itu bukan menghentikan, tetapi memberi waktu bagi berlangsungnya program nuklir Iran.
Karena itu, perundingan nuklir itu berjalan berdampingan dengan tekanan militer, dan ketika dianggap tidak cukup cepat, opsi militer (serangan) langsung dijalankan oleh AS dan Israel.
Dibanding bersabar dan tabah di dalam masa embargo dan tekanan Barat (AS dan Eropa Barat) selama lebih 40 tahun, mungkin bukan sesuatu yang sulit bagi muslim Persia untuk bersabar dan tabah dalam masa perang saat ini yang baru 40 hari.
Tampaknya, Iran siap berperang, bahkan selama setengah abad, agar sebanding dengan derita 47 tahun diembargo dan diisolasi oleh tekanan Barat.
Baca juga: Prof. Dr. Afifuddin Harisah
Pertanyaan yang menarik: “bertahan 47 tahun diembargo lalu jadi kuat dan berani melawan AS–Israel, apa saja yang dilakukan Iran?”
Bagaimana bangsa Persia yang muslim Syiah ini "membangun diri" di bawah sanksi dan tekanan puluhan tahun?
Saya ingin menjawabnya sebagai berikut.
Iran sadar betul untuk tidak bergantung kepada Barat, lalu melihat ke Timur.
Ada China, yang secara kultural dan historis memang Timur.
Ada juga Rusia yang tidak sepenuhnya Eropa yang berwatak kapitalisme-liberalisme-sekulerisme, tapi sama dengan Iran, punya pengalaman tekanan ekonomi dan politik yang berat.
Rusia sebagai negara sekuler, Rusia tidak seperti sekulerisme Barat.
Sekulerisme Rusia memberi ruang dan menghormati agama, khususnya Kristen Orthodoks.
Jadi, dari segi agama, Rusia adalah Timur yang menjunjung agama.
Dengan China dan Rusia, Iran lebih merasa sama-sama sebagai bangsa Timur.
Dengan China dan Rusia, dan juga Korea Utara, Iran tidak benar-benar sepi sendirian di dalam membangun kemandiriannya di dalam masa-masa Barat menekan dan mengisolasinya.
Di dalam masa membangun kemandiriannya itulah, Iran bekerja antara lain dengan mengurangi impor dan mengembangkan industri lokal.
Sanksi yang dialami justru mendorong tumbuhnya industri domestik, termasuk industri militer.
Industri militer yang mandiri menjadikan tidak lagi masalah bagi Iran untuk tidak membeli senjata dari Barat.
Sebagai sahabat sesama Timur, Iran bisa membeli senjata dari China, Rusia dan Korea Utara.
Agaknya, tidak lama lagi dunia menoleh ke Timur. Tidak lama lagi, Barat bukan lagi kiblat sains.
Saya berpendapat, ke depan Timur akan menjadi pusat kajian agama-agama.
Khususnya Islam, penelitian dan kajiannya akan bergeser, terutama dari Kairo Mesir ke banyak kota di Timur.
Sebabnya, kini dunia menyaksikan Islam Syiah Iran menggerakkan roda sejarah dan peradabannya ke Timur. Bukan ke Barat. (*)