POS KUPANG.COM -- Menikmati hutan yang masih alami merupakan cara lain untuk Healing.
Dan, taman wisata Oeluan bisa menjadi pilihan. Taman Wisata Oeluan berada Desa Bijeli, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara .
Dikutp dari eastnusatenggara.id di tengah teriknya siang di Kefamenanu, keinginan sederhana untuk mencari kesegaran justru membawa saya pada sebuah pengalaman yang tak terduga.
Sebuah informasi spontan mengantarkan langkah saya ke Oeluan—sebuah tempat yang bukan hanya menawarkan kesejukan air, tetapi juga ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di sanalah saya menyadari, terkadang perjalanan terbaik bukan yang direncanakan, melainkan yang datang begitu saja dan meninggalkan kesan mendalam.
Sebenarnya, perjalanan ke Kefamenanu kali ini bukanlah yang pertama. Karena tuntutan pekerjaan, hampir setiap tahun saya berkunjung ke kota ini. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam perjalanan kali ini yang ingin saya ceritakan.
Baca juga: Wisata NTT, Inilah 10 Tempat Wisata di Kupang Wajib Dikunjungi Saat Liburan ke Kupang-NTT
Singkat cerita, setelah menyelesaikan pekerjaan di Kefamenanu, kami bersiap untuk pulang. Saat itu cuaca terasa cukup panas; waktu menunjukkan pukul 13.00 WITA. Saya sempat berkomentar, “Wah, panas begini enaknya yang segar-segar.” Tiba-tiba salah satu karyawan di tempat kami bertugas menyahut, “Pak, mampir berenang di Kolam Oeluan, Pak.”
Setelah menanyakan beberapa informasi terkait akses menuju lokasi, kami pun segera berangkat.
Menurut informasi tersebut, objek wisata ini berada di pinggir jalan utama jalur Timor Raya, tepatnya di sebelah kiri jalan jika kita berkendara dari arah Kefamenanu menuju Kupang.
Kondisi jalan yang relatif lengang membuat perjalanan terasa cepat; kurang dari satu jam, kami sudah tiba di lokasi. secara administratif, objek wisata ini masuk dalm wilayah Desa Bijeli, Kecamatan Noemuti, Kabupaten TTU.
Gerbang masuk berwarna hijau menyambut kami dengan tulisan: “Selamat Datang di Objek Wisata Oeluan.
” Setelah masuk, terdapat pos jaga tempat kami membayar retribusi sekaligus tempat untuk mendapatkan beberapa informasi mengenai lokasi ini.
Begitu turun dari kendaraan, mata saya langsung dimanjakan oleh pepohonan rindang yang berdiri tegak, seolah menjadi penjaga kokoh kawasan tersebut. Udara segar langsung menyentuh kulit, disertai aroma dedaunan khas hutan yang lembap.
Di balik rindangnya pepohonan, terdengar riuh tawa dan suara gembira pengunjung. Saya berjalan perlahan menyusuri jalan setapak kecil, menikmati udara segar yang memenuhi paru-paru.
Beberapa lopo tampak berdiri—tempat bersantai berbahan kayu—serta area bermain anak yang tersebar di beberapa titik.
Baca juga: Wisata NTT, Pesona Kapela dan Taman Doa Mgr. Gabriel Manek, SVD, Spot Wisata Rohani Lahurus Belu
Saat memasuki area kolam di Oeluan, saya langsung terkesan oleh kejernihan airnya. Rasanya menyegarkan hanya dengan melihatnya. Dalam hati saya berkata, “Pantas saja para pengunjung tadi terdengar begitu bahagia
.” Kolam ini memiliki beberapa tingkat kedalaman yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk untuk anak-anak. Fasilitas yang tersedia pun cukup memadai, seperti ruang ganti, toilet, lopo untuk bersantai, serta pondok yang kemungkinan bisa disewakan bagi pengunjung yang ingin bermalam.
Menurut informasi dari penjaga, tidak jarang pengunjung datang untuk berkemah dan menginap bahkan hingga beberapa hari. Hal ini semakin menegaskan bahwa tempat ini bukan sekadar lokasi rekreasi singkat, tetapi juga destinasi untuk menikmati alam lebih lama.
Sayangnya, saya tidak sempat berenang karena tidak mempersiapkan diri. Namun, saya tetap duduk di tepi kolam, menikmati kejernihan air, kesejukan udara, kicauan burung, serta hijaunya pepohonan di sekitarnya.
Oeluan bukan sekadar tempat pemandian; ia menawarkan ketenangan dan relaksasi bagi hampir seluruh indra. Tempat ini benar-benar cocok bagi siapa saja yang ingin merasakan kedamaian yang disediakan oleh alam.
Saya sempat melangkah lebih jauh ke arah hutan di sekitar lokasi. Di sana, alam seolah memperlihatkan apa yang dimilikinya: hijau, sejuk, dan asri. Sayup-sayup terdengar gemericik air yang berpadu dengan suara angin yang menggerakkan dedaunan serta kicauan burung yang menenangkan hati.
Saya duduk sendiri selama kurang lebih dua puluh menit, benar-benar menikmati orkestrasi alam yang begitu sempurna.
Memang benar, Oeluan bukan sekadar pemandian—tempat ini adalah sebuah anugerah.
Suatu hari nanti, jika menemukan teman perjalanan yang tepat, saya ingin kembali ke tempat ini. Saya ingin membagikan pengalaman ini kepada orang lain, dan jika diberi kesempatan, turut menjaga serta melestarikannya.*