Gubernur Dedi Mulyadi Minta Anak Muda Tak Paksakan Pesta Pernikahan Jika Tak Mampu, Bakal Buat SE
Torik Aqua April 10, 2026 10:14 AM

 

TRIBUNJATIM.COM - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berharap agar generasi muda tak perlu memaksakan pesta pernikahan atau hajatan jika tidak mampu.

Menurutnya, tak perlu pesta atau hajatan jika tak mampu, cukup acara sederhana saja di KUA.

Bahkan Dedi Mulyadi ingin mengeluarkan surat edaran.

Ia mencontohkan dengan pengalamannya saat menikah dulu.

Baca juga: Marahnya Gubernur Dedi Mulyadi Tahu Tuan Rumah Hajatan Dikeroyok Sekelompok Pemuda

Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi saat memberi pidato di acara Dies Natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD), Kota Bandung, Rabu (8/4/2026).

Dedi bercerita, ia menikah dengan modalnya sendiri tanpa bantuan dari orang tua, khususnya pihak perempuan.

Ia juga menikah dengan waktu yang efektif, seperti akad yang digelar pagi, lalu selesai pada siang hari.

Sementara itu, syukuran pernikahan digelar sederhana di kediamannya di Purwakarta dengan masakan khas Sunda seperti sayur asem, ikan asin, hingga sambal.

Kemudian, Dedi Mulyadi juga mengatakan, uang dari amplop pernikahan yang ia terima ia gunakan untuk modal membeli motor dan melakukan usaha.

"Alhamdulillah, besoknya saya beli motor untuk modal dagang beras," ucap Dedi Mulyadi, dikutip dari kanal YouTube Lembur Pakuan Channel.

Melihat pengalamannya, Dedi Mulyadi ingin anak-anak muda sekarang untuk tidak memaksakan pesta pernikahan jika orang tua tidak mampu.

"Saya mau bikin Surat Edaran (SE), pasti diprotes," kata Dedi Mulyadi.

"Sudahlah, anak-anak Gen Z ini yang sekarang mau nikah, kalau orang tuanya tidak mampu tidak perlu memaksakan hajatan, enggak usah," sambungnya.

Menurut Dedi Mulyadi, jauh lebih baik menggelar pernikahan secara sederhana, utamanya melaksanakan akad di Kantor Urusan Agama (KUA).

"Pagi-pagi datang ke KUA untuk akad, sorenya sudah pulang, besoknya sudah dagang lagi," ujar Dedi Mulyadi.

Alasan Dedi Mulyadi

Lebih lanjut, alasan Dedi Mulyadi menilai bahwa hal tersebut lebih baik karena mencontoh perilaku masyarakat Tiongkok.

"Cina tidak akan ada seperti sekarang kalau tidak punya perilaku yang hebat seperti kebudayaan mereka," ungkap Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi menuturkan terkait kasus-kasus pernikahan transaksional dengan korban berasal dari Jawa Barat.

"Saya sering menangani kasus-kasus 'pengantin pesanan', karena perempuan lebih banyak dari laki-laki di Cina, perempuan menjadi memiliki daya tawar yang sangat mahal," kata Dedi Mulyadi.

"Rp500 juta itu tidak berarti di sana karena biaya hidup sangat mahal, karena mahal, yang menjadi korban adalah warga Jawa Barat," tuturnya.

Menurut Dedi Mulyadi, warga Jawa Barat yang menjadi korban biasanya teriming-imingi uang yang tinggi, padahal tidak ada artinya.

"Ini ada agennya," kata Dedi Mulyadi.

Dedi Mulyadi pun menilai, cara pikir tersebut menjadi melekat bagi masyarakat Jawa Barat yang ia sebut dengan istilah "kajeun teuing tekor asal sor".

Adapun makna dari istilah tersebut yakni, "Biarlah rugi secara materi, yang penting bisa memberi atau menunjukkan gengsi/harga diri."

Menurutnya, cara pikir tersebut yang kemudian perlu diubah.

Baca juga: Geram Ada Pejabat Abaikan SE, Dedi Mulyadi Terjunkan Inspektorat dan BKD ke Samsat

"Banyak orang-orang yang bangkrut karena pesta, tapi tidak pernah ada orang yang bangkrut karena anaknya sekolah," tegasnya.

Pentingkan Sekolah

Lebih lanjut, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa seharusnya orang tua bisa mementingkan anak-anaknya untuk bersekolah.

"Sekolah itu tidak rumusan kaya dan miskin, asal ada kemauan pasti sekolah," tutur Dedi Mulyadi.

Menurut Dedi Mulyadi, seharusnya masyarakat kelas menengah ke bawah bisa melihat pentingnya bersekolah terlepas dari kondisi ekonomi.

"Justru kalau menurut saya, anak-anak tidak mampu seharusnya terus sekolah, SD, SMP, SMA, sekolah saja sampai perguruan tinggi, rezekinya menyusul," ucapnya.

"Asal mau berdiam di masjid makan gratis, di kampus dia bisa menyapu saja tidak ada masalah, nanti dosennya melihat," imbuhnya.

Namun, kata Dedi Mulyadi, masalah lebih lanjut adalah bagaimana anak-anak kelas menengah ke bawah yang ia lihat saat ini cenderung lebih mementingkan gengsi.

"Gayanya dibesarkan, tetapi keinginannya tidak ada. Apa yang terjadi? Problematika kriminal apa pun hari ini menimpa anak-anak kelas menengah ke bawah," bebernya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.