Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Korban Gempa di Desa Labelen, Kecamatan Solor Timur (Soltim), Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT bernama Ado M. Songge mengatakan, semua masyarakat di Desa Labelen trauma.
Warga beraktivitas di dalam rumah sejak gempa mengguncang wilayah tersebut pada Kamis, 9 April 2026 sekira pukul 00.13 WITA. Semua masyarakat hanya beraktivitas di luar rumah.
"Bahkan hampir semua masyarakat ambil nasi dan makan di luar rumah," ujarnya, Kamis siang.
Saat itu, kata Ado, semua anggota keluarganya sudah beristirahat. Sedangkan ia dan 3 orang rekannya sedang duduk bercerita. Tidak lama berselang setelah 3 orang rekannya tersebut pamit untuk pulang, gempa mengguncang wilayah itu.
Baca juga: Polwan Polres Flores Timur Bantu Pulihkan Psikologis Anak-anak Korban Gempa di Adonara
"Waktu itu saya masuk dalam rumah mau cas HP, tiba-tiba dia gempa saya lari keluar rumah, dinding rumah besar sudah runtuh semua," ucap warga RT 003, Dusun 003, Desa Labelen ini.
Ia mengaku bersyukur saat gempa itu terjadi, semua anggota keluarganya melakukan evakuasi mandiri keluar rumah saat kepanikan melanda rumah mereka.
Satu bagian dinding rumah tersebut roboh tanpa sisa. Selain itu, semua dinding rumahnya juga mengalami retak dan berpotensi roboh jika terjadi gempa besar susulan.
Dikatakan Ado, gempa tersebut merupakan yang paling besar yang dialami oleh masyarakat setempat selama ini. Oleh karena itu semua masyarakat dihantui trauma.
Dampak bencana gempa ini telah didata oleh pemerintah desa dan dilaporkan secara berjenjang ke pemerintah kecamatan. Selain itu, pihak pemerintah kecamatan juga telah meninjau langsung kerusakan yang dialami korban.
Sampai detik ini gempa susulan terjadi berulang kali. Sekira pukul 16.30 WITA terjadi gempa susulan yang cukup besar.
Masyarakat juga memutuskan membangun tenda di luar rumah untuk tidur. Hal ini untuk mengantisipasi kejadian sama terulang kembali.
Sebelumnya, Gempa bumi magnitudo 4,7 yang mengguncang wilayah Larantuka di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (9/4/2026) pukul 00.17 Wita, tergolong dangkal.
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama mengatakan, episenter gempa yang terjadi sekitar pukul 00.17 Wita itu terletak di koordinat 8.36 derajat Lintang Selatan dan 123.15 derajat Bujur Timur.
Lokasi tepatnya berada di laut pada jarak 21 kilometer tenggara Larantuka-NTT dengan kedalaman 5 kilometer.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan gempabumi dangkal akibat adanya aktifitas sesar aktif," jelas Arief, dikutip TRIBUNFLORES.COM dari Kompas.com Jumat (10/4/2026).
Gempa Dirasakan di Flores Timur dan Lembata
Arief menyampaikan, berdasarkan laporan masyarakat, getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah seperti:
Flores Timur (Flotim) dengan intensitas III–IV MMI
Lembata dengan intensitas III MMI.
"Getaran dirasakan nyata oleh beberapa orang seperti ada truk berlalu," katanya.
Hingga pukul 05.40 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 48 aktivitas gempa bumi susulan atau aaftershock.
Tidur di Luar Rumah
Sementara itu, warga Dusun 3 Ebbo di Desa Terong, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, mendirikan tenda darurat di luar rumah pasca gempa Magnitudo 4,7, Kamis (9/4/2026) dini hari.
Ria, warga Dusun3 Ebbo Desa Terong mengungkapkan getaran gempa yang terjadi Kamis dini hari membuat warga lari ke luar dari rumah.
Dia menyebut pasca gempa Mangnitudo 4,7, terjadi gempa susulan. Ia dan warga lainnya memilih bertahan di luar rumah hingga pagi dengan membentang tikar dan kasur lipat.
"Kejadian begitu cepat. Guncangan sekitar jam 12 lewat membuat kami langsung berhamburan keluar rumah. Kami memutuskan tetap di luar, hanya masuk sebentar untuk ambil tikar dan kasur lipat," ujar Ria, Kamis (9/4/2026).
Rian menambahkan, meski dampak di wilayahnya tidak separah Dusun 1 Aukoli, namun warga tetap waspada.
"Tidak ada korban jiwa, luka-luka ada beberapa. Ibu hamil dan bayi masih duduk di depan halaman rumah," ungkap Rian.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, seorang warga dilaporkan sempat pingsan akibat tertimpa lemari saat guncangan terjadi, namun telah dievakuasi oleh warga lainnya.
Catatan Gempa
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat terdapat dua aktivitas gempa yang mengguncang wilayah Flores Timur dalam kurun waktu tersebut.
Gempa terjadi pada Rabu (8/4/2026) pada pukul 23:17:47 WIB dengan kekuatan Magnitudo 4,7. Episenter terletak pada koordinat 8,43 LS dan 123,12 BT, tepatnya 22 km tenggara Larantuka dengan kedalaman 10 km.
Kemudian gempa susulan terjadi terjadi Kamis pukul 04.54 WIB dengan kekuatan Magnitudo 3,8 pada kedalaman yang lebih dangkal, yakni 3 km.
Guncangan gempa ini dilaporkan terasa hingga wilayah Lembata dengan skala intensitas III MMI (getaran dirasakan nyata di dalam rumah seakan ada truk berlalu), serta di wilayah Flores Timur dengan skala II-III MMI.
Data Kerusakan Bangunan
Ratusan rumah warga di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT rusak akibat diguncang gempa berkekuatan Magnitudo 4.7 pada Kamis (9/4/2026) dini hari.
Akibat gempa ini, 20 warga di Desa Terong dan Desa Lamahala, Kecamatan Adonara Timur mengalami luka ringan dan berat akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat terjadi gempa.
"Korban luka di Lamahala 5 orang, tambah dengan Terong 15 warga, " Kata Camat Adonara Timur, Ismail Daton Ban, Kamis 9 April 2026.
Ismail melaporkan terdapat 150 rumah warga yang rusak, data ini bisa berubah karena proses pendataan masih berlangsung.
Warga terdampak mengungsi ke rumah kerabat untuk sementara waktu. Sementara warga lainnya membangun tenda darurat di depan rumah mereka.
"Warga mengungsi ke rumah kerabat, sebagian warga membangun tenda-tenda darurat di Terong dan Lamahala Jaya, "kata Ismail.
Hingga kini, pemerintah setempat masih melakukan pendataan terhadap jumlah kerusakan rumah akibat terdampak gempa.
"Kami masih melakukan pendataan terhadap rumah warga yang rusak, "jelasnya.