TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON DC - Kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran berpotensi bubar di tengah jalan.
Sebab, situasi di lapangan masih cukup panas menyusul serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Israel ke wilayah Lebanon.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa Iran tidak memenuhi tuntutan dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah dibuat.
Trump menilai bahwa Iran tidak maksimal untuk membuka Selat Hormuz pascakesepakatan gencatan senjata.
Tudingan Trump tersebut diunggah melalui unggahan di Truth Social pada Kamis (9/4/2026), sebagaimana dilansir Reuters.
"Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan ada yang menyebutnya tidak terhormat, dalam mengizinkan minyak melewati Selat Hormuz," tulis Trump dikutip dari Kompas.com.
Iran sendiri disebut akan memberlakukan tarif bagi kapal yang melewati Selat Hormuz.
"Ada laporan bahwa Iran mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melewati Selat Hormuz, sebaiknya tidak demikian. Dan, jika memang benar, mereka lebih baik berhenti sekarang," tulis Trump dalam unggahan lainnya.
Di samping itu, baru 10 kapal yang disebut berhasil melintas selat sempit yang penting tersebut sejak gencatan senjata berlaku.
Nada bicara Trump di media sosial ini tampak jauh lebih keras dibandingkan wawancara teleponnya dengan NBC News sebelumnya.
Saat itu, Trump mengaku sangat optimistis mengenai perdamaian dengan Iran. Dia juga menyebut para pemimpin Iran saat ini jauh lebih masuk akal saat melakukan komunikasi secara tertutup.
Baca juga: Iran Klaim Menang Perang, Mojtaba Khamenei: Kami Tidak Cari Perang, Tapi Siap Sampai Mati
Pembicaraan gencatan senjata akan dilaksanakan langsung oleh perwakilan AS dan Iran.
Pihak AS direncanakan akan diwakili oleh Wakil Presiden AS JD Vance.
Dia akan didampingi oleh utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner.
Juru Bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan bahwa Trump masih menaruh harapan pada proses ini.
"Presiden optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai yang dapat mengarah pada perdamaian abadi di Timur Tengah," ujar Kelly dalam pernyataan resmi.
Trump sendiri mengaku sudah menghubungi Netanyahu pascaserangan ke wilayah Lebanon yang menewaskan ratusan orang.
Menurut Trump, Netanyahu setuju untuk menahan diri terhadap Lebanon setelah serangan besar tersebut.
Sebagai tindak lanjut, pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa perwakilan Israel dan Lebanon akan mengadakan pembicaraan lebih lanjut di Washington pada pekan depan.
Hal tersebut dilakukan guna memperkuat gencatan senjata yang saat ini masih tampak goyah.