Kota Palu Catat 542 Kasus Suspek Campak, Terbanyak di Sulteng
Regina Goldie April 10, 2026 02:08 PM

TRIBUNPALU.COM, PALU - Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat sebanyak 895 kasus suspek campak yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota hingga pekan ke-12 tahun 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr Syahriar, menegaskan bahwa penanganan kasus campak menjadi kewenangan dinas kesehatan kabupaten/kota, termasuk dalam hal intervensi dan pengiriman sampel.

“Untuk penyakit campak ini, intervensi ada di kabupaten/kota. Pengiriman sampel juga dilakukan oleh mereka,” ujar Syahriar kepada wartawan, Kamis (9/4/2026).

Ia memastikan, dari sisi logistik, pemerintah tidak mengalami kendala dalam pelaksanaan vaksinasi, khususnya bagi kelompok balita.

“Seluruh sasaran balita, kami siap memvaksinasi. Tidak ada masalah dari sisi logistik,” jelasnya.

Syahriar menyebutkan, penularan campak kemungkinan terjadi akibat faktor eksternal atau kondisi daya tahan tubuh anak yang menurun.

Baca juga: Warga Sulteng Terima Cek Kesehatan Gratis di HUT Provinsi

“Bisa jadi tertular dari luar, atau kondisi balita drop sehingga akhirnya tertular,” katanya.

Ia menambahkan, kasus campak yang ditemukan saat ini didominasi oleh bayi.

Namun, bayi di bawah usia 9 bulan umumnya belum terpapar karena masih memiliki antibodi dari ibu.

“Campak pertama kali diimunisasi pada umur 9 bulan, karena sebelumnya masih ada antibodi yang dibawa dari ibunya,” terangnya.

Meski jumlah kasus cukup tinggi, Syahriar menegaskan tidak semua temuan tersebut dapat dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Tidak semua temuan itu KLB. Kalau dalam bentuk klaster, itu berarti sudah terjadi penularan dari satu penderita ke lainnya,” jelasnya.

Dari total 895 kasus suspek, Kota Palu menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 542 kasus. 

Disusul Kabupaten Sigi 112 kasus, Donggala 89 kasus, dan Tojo Una-Una 68 kasus.

Baca juga: Ditreskrimsus Polda Sulteng Bongkar Penyalahgunaan BBM Subsidi di Donggala

Sementara itu, daerah lainnya meliputi Morowali 32 kasus, Morowali Utara 13 kasus, Poso 10 kasus, Tolitoli 9 kasus, Buol 6 kasus, Parigi Moutong 5 kasus, Banggai 4 kasus, Banggai Laut 3 kasus, serta Banggai Kepulauan 2 kasus.

Syahriar menjelaskan, seluruh kasus yang dilaporkan masih berstatus suspek dan belum tentu positif campak.

“Ciri-ciri campak itu 3C, yaitu konjungtivitis (mata merah), batuk kering, dan pilek, disertai bercak pada kulit. Tapi itu belum tentu campak, makanya kita ambil sampel dulu untuk memastikan,” ujarnya.

Ia menilai, tingginya angka temuan kasus menunjukkan bahwa tim surveilans di lapangan bekerja aktif dalam melakukan pelacakan.

“Dengan adanya temuan kasus, menandakan tim survei kami berjalan dan mampu menemukan tracing,” pungkasnya. (*)
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.