Laporan Wartawan TribunPalu.com, Robit Silmi
TRIBUNPALU.COM, PALU - Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat sebanyak 895 kasus suspek campak yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota hingga pekan ke-12 tahun 2026.
Kepala Dinkes Sulteng, dr Syahriar, menegaskan bahwa penanganan kasus campak menjadi kewenangan dinas kesehatan kabupaten/kota, termasuk dalam hal intervensi dan pengiriman sampel.
“Untuk penyakit campak ini, intervensi ada di kabupaten/kota. Pengiriman sampel juga dilakukan oleh mereka,” ujar Syahriar kepada wartawan, Kamis (9/4/2026).
Baca juga: Warga Sulteng Terima Cek Kesehatan Gratis di HUT Provinsi
Ia memastikan, dari sisi logistik, pemerintah tidak mengalami kendala dalam pelaksanaan vaksinasi, khususnya bagi kelompok balita.
“Seluruh sasaran balita, kami siap memvaksinasi. Tidak ada masalah dari sisi logistik,” jelasnya.
Syahriar menyebutkan, penularan campak kemungkinan terjadi akibat faktor eksternal atau kondisi daya tahan tubuh anak yang menurun.
“Bisa jadi tertular dari luar, atau kondisi balita drop sehingga akhirnya tertular,” katanya.
Ia menambahkan, kasus campak yang ditemukan saat ini didominasi oleh bayi.
Baca juga: Polda Sulteng Amankan 1.020 Liter Solar Subsidi dari Praktik Ilegal di Donggala
Namun, bayi di bawah usia 9 bulan umumnya belum terpapar karena masih memiliki antibodi dari ibu.
“Campak pertama kali diimunisasi pada umur 9 bulan, karena sebelumnya masih ada antibodi yang dibawa dari ibunya,” terangnya.
Meski jumlah kasus cukup tinggi, Syahriar menegaskan tidak semua temuan tersebut dapat dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Tidak semua temuan itu KLB. Kalau dalam bentuk klaster, itu berarti sudah terjadi penularan dari satu penderita ke lainnya,” jelasnya.
Dari total 895 kasus suspek, Kota Palu menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 542 kasus.
Disusul Kabupaten Sigi 112 kasus, Donggala 89 kasus, dan Tojo Una-Una 68 kasus.
Sementara itu, daerah lainnya meliputi Morowali 32 kasus, Morowali Utara 13 kasus, Poso 10 kasus, Tolitoli 9 kasus, Buol 6 kasus, Parigi Moutong 5 kasus, Banggai 4 kasus, Banggai Laut 3 kasus, serta Banggai Kepulauan 2 kasus.
Baca juga: Ditreskrimsus Polda Sulteng Bongkar Penyalahgunaan BBM Subsidi di Donggala
Syahriar menjelaskan, seluruh kasus yang dilaporkan masih berstatus suspek dan belum tentu positif campak.
“Ciri-ciri campak itu 3C, yaitu konjungtivitis (mata merah), batuk kering, dan pilek, disertai bercak pada kulit. Tapi itu belum tentu campak, makanya kita ambil sampel dulu untuk memastikan,” ujarnya.
Ia menilai, tingginya angka temuan kasus menunjukkan bahwa tim surveilans di lapangan bekerja aktif dalam melakukan pelacakan.
Baca juga: Sulawesi Tengah Catat Sejarah, RSUD Undata Palu Gelar Operasi Jantung Terbuka Perdana
“Dengan adanya temuan kasus, menandakan tim survei kami berjalan dan mampu menemukan tracing,” pungkasnya.(*)