TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Suasana ruang kelas di SMPN 7 Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur tampak berbeda dari biasanya.
Bukan pelajaran matematika atau bahasa yang berlangsung, melainkan pemeriksaan kesehatan telinga yang dilakukan langsung oleh para dokter spesialis, Jumat (10/4/2026).
Satu per satu siswa masuk ke ruang pemeriksaan. Mereka duduk tenang, mengenakan perangkat sederhana yang terhubung dengan alat digital.
Dari perangkat itu, suara dengan frekuensi tertentu diperdengarkan. Tugas mereka hanya satu: memberi respons saat suara terdengar.
Baca juga: Wanita Asal Balikpapan Wanda Sering Nonton Live Streaming “Marapthon” saat Senggang
Di balik proses yang tampak sederhana itu, tersimpan tujuan besar mendeteksi sedini mungkin gangguan pendengaran pada anak.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day) 2026 yang diinisiasi Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia (Perhati-KL). Di Balikpapan, sebanyak 200 siswa menjadi sasaran skrining di SMP Negeri 27 Balikpapan.
Dokter Spesialis THT-BKL, dr Erica Lukman Sp.THT-BKL, MQIH, Sp.KL, menjelaskan bahwa pendekatan kali ini menekankan penggunaan alat skrining berbasis digital yang praktis namun akurat.
“Anak-anak akan mendengarkan suara dari beberapa frekuensi melalui alat ini, lalu merespons. Dari situ kita bisa melihat apakah pendengarannya normal atau ada indikasi gangguan,” ujarnya.
Teknologi ini memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara cepat dan serentak tanpa mengurangi akurasi. Dalam satu sesi, sekitar 10 siswa diperiksa secara bergiliran, menjaga ketertiban sekaligus efisiensi waktu.
Namun, bagi dr Erica, yang terpenting bukan hanya alatnya, melainkan dampak dari hasil pemeriksaan tersebut.
Hasil skrining akan diklasifikasikan mana siswa dengan pendengaran normal, dan mana yang memerlukan perhatian lebih. Bagi yang terindikasi mengalami gangguan, pemeriksaan lanjutan akan segera direkomendasikan.
“Deteksi dini itu kunci. Banyak gangguan pendengaran sebenarnya bisa ditangani jika diketahui sejak awal,” katanya.
Erica mengungkapkan, gangguan pendengaran pada anak seringkali tidak disadari. Gejalanya bisa samar seperti anak yang tampak kurang fokus, sering meminta pengulangan saat diajak bicara, atau mengalami penurunan prestasi belajar.
Padahal, penyebabnya bisa hal sederhana, seperti penumpukan kotoran telinga (serumen) atau infeksi telinga tengah. Namun, ada pula faktor yang kini semakin sering ditemukan: paparan suara bising dari gadget.
“Anak-anak sekarang tidak lepas dari earphone dan ponsel. Kalau volumenya terlalu tinggi dan digunakan lama, ini bisa merusak pendengaran secara permanen,” jelas Erica.
Ia menyarankan penggunaan gadget dengan volume maksimal 50 persen dan durasi tidak lebih dari satu jam secara terus-menerus, sebagai langkah pencegahan sederhana namun penting.
Lebih jauh, perhatian terhadap kesehatan pendengaran, menurutnya, bahkan harus dimulai sejak sebelum anak lahir. Vaksinasi rubella bagi calon ibu menjadi salah satu langkah krusial.
Infeksi rubella saat kehamilan dapat menyebabkan gangguan serius pada bayi, termasuk tuli permanen. Risiko ini seringkali luput dari perhatian, padahal dampaknya berlangsung seumur hidup.
“Kalau ibu tidak divaksin, maka tidak ada perlindungan. Ini yang harus dipahami, karena pencegahan jauh lebih penting,” tegasnya. (*)