Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Masrian Mizani | Aceh Barat Daya
SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE – Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Safaruddin, menegaskan bahwa pembangunan daerah yang dipimpinnya tidak berjalan tanpa arah, melainkan berpedoman pada delapan misi besar bertajuk Peumakmue Nanggroe.
Kedelapan misi tersebut meliputi Malem, Carong, Meusyuhu, Makmue, Adee, Jroh, Seujahtera, dan Meusaneut.
Menurut Safaruddin, misi ini menjadi kompas utama agar pembangunan di Abdya berjalan terarah dan saling terintegrasi.
Hal itu disampaikan dalam sambutannya pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Abdya yang berlangsung di Lapangan Persada, Gampong Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie, Jumat (10/4/2026).
“Kita ingin Abdya yang kuat nilai keislamannya, semakin baik pendidikannya, semakin tertata infrastrukturnya, semakin hidup ekonomi rakyatnya, semakin berdaya perempuan dan pemudanya, serta semakin bersih dan melayani birokrasi pemerintahannya,” ujar Safaruddin.
Di tengah upaya pembenahan tersebut, Safaruddin menyebut Abdya juga mendapat amanah besar sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Aceh tahun 2027.
Ia mengungkapkan bahwa momen ini telah lama dinantikan, mengingat terakhir kali MTQ digelar di wilayah tersebut pada tahun 1984 di Susoh, saat Abdya masih bergabung dengan Kabupaten Aceh Selatan.
“Ini adalah kehormatan, tetapi juga tanggung jawab besar. MTQ bukan sekadar menjadi tuan rumah sebuah acara,” katanya.
Baca juga: Di HUT Ke-24 Abdya, Bupati Safaruddin Paparkan Kondisi Daerah di Awal Menjabat
Safaruddin menekankan bahwa MTQ merupakan ujian kesiapan daerah secara menyeluruh, mulai dari infrastruktur, pelayanan publik, kebersihan, ketertiban, hingga keramahan masyarakat. Yang terpenting, kata dia, adalah kesungguhan dalam memuliakan Al-Qur’an.
Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan MTQ sebagai momentum kebangkitan bersama.
“Kita ingin ketika tamu-tamu dari seluruh Aceh datang ke Abdya pada 2027, yang mereka lihat bukan hanya panggung dan perlombaan, tetapi daerah yang tertata, masyarakat yang ramah, aparatur yang sigap, gampong yang hidup, UMKM yang bergerak, serta nuansa keislaman yang benar-benar terasa,” tuturnya.
Ia menambahkan, MTQ juga diharapkan menjadi panggung kemuliaan daerah sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Safaruddin juga menyinggung perjalanan satu tahun kepemimpinannya yang memberikan pelajaran bahwa perubahan berkelanjutan harus dimulai dari pembenahan hal-hal mendasar.
“Memasuki tahun kedua dan seterusnya harus menjadi fase akselerasi. Kita perlu mempercepat pelayanan publik, memperkuat penghidupan masyarakat, memperluas akses pasar, mempercepat digitalisasi, meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan, serta memastikan program tepat sasaran,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa percepatan pembangunan tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa.
“Percepatan harus tetap berlandaskan disiplin, tata kelola yang baik, serta akuntabilitas yang tepat,” pungkasnya.