Sarapan Ini Diam-Diam Picu Lonjakan Gula Darah, Ahli Sebut Lebih Tinggi dari Jus Jeruk
SERAMBINEWS.COM – Banyak orang mengira sudah memahami cara mengontrol gula darah.
Namun, para ahli nutrisi memperingatkan bahwa pilihan sarapan yang tampak “biasa saja” justru bisa menjadi penyebab lonjakan gula darah yang signifikan.
Dilansir melalui GB News (10/4/2026), ahli gizi Dr. Carrie Ruxton mengungkapkan bahwa makanan tinggi karbohidrat tetapi rendah protein sangat cepat diserap tubuh.
Kondisi ini membuat glukosa langsung membanjiri aliran darah dalam waktu singkat.
Menurutnya, kesalahan ini paling sering terjadi saat sarapan.
Baca juga: 5 Jus Alami Penurun Tekanan Darah Tinggi, Bisa Jadi Pendamping Pola Hidup Sehat
Banyak orang tidak menyusun menu yang seimbang di pagi hari, meskipun mereka lebih memperhatikan komposisi makanan saat makan siang atau malam.
“Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan orang saat sarapan adalah menganggap bahwa karbohidrat bertepung memiliki dampak yang lebih rendah pada kadar gula darah,” ujarnya.
Faktanya, baik roti putih maupun roti gandum utuh memiliki indeks glikemik (GI) yang tinggi.
Artinya, karbohidrat dalam makanan tersebut cepat dipecah menjadi gula dan menyebabkan lonjakan glukosa yang tajam.
Yang mengejutkan, jus jeruk murni justru memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan roti.
Ini berarti dampaknya terhadap kenaikan gula darah bisa lebih lambat dibandingkan sarapan berbasis roti.
Baca juga: 6 Buah yang Bisa Bantu Panjang Umur, Turunkan Risiko Penyakit Kronis dari Jantung hingga Kanker
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food & Function menunjukkan bahwa kandungan pektin dan polifenol dalam buah membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah.
Sementara itu, ahli diet Zoe Griffiths menyebut fenomena ini sebagai konsumsi “karbohidrat telanjang”.
Istilah ini merujuk pada kebiasaan mengonsumsi karbohidrat tanpa disertai nutrisi lain seperti protein atau lemak sehat.
Contohnya adalah makan roti panggang polos atau hanya buah saja saat sarapan.
Menurut Griffiths, kondisi pagi hari membuat tubuh lebih sensitif terhadap lonjakan gula.
Setelah puasa semalaman, tubuh siap menyerap glukosa dengan cepat, sehingga efeknya bisa lebih terasa.
“Kesalahan umum saat sarapan adalah memilih makanan yang kaya karbohidrat dan rendah protein, seperti sereal, roti panggang, atau smoothie,” jelasnya.
Baca juga: 8 Khasiat Buah Tomat yang Jarang Disadari, Baik untuk Jantung dan Kulit
Namun, ada solusi sederhana untuk mengatasi masalah ini.
Dr. Ruxton menyarankan menambahkan protein, lemak sehat, dan buah dalam menu sarapan.
Beberapa contoh yang bisa diterapkan antara lain menambahkan alpukat pada roti, mencampurkan kacang dan biji-bijian ke dalam sereal, atau mengoleskan selai kacang sebagai pengganti selai manis.
Mengganti roti biasa dengan roti sourdough juga dapat membantu menurunkan indeks glikemik.
Dengan cara ini, glukosa akan masuk ke aliran darah secara lebih perlahan dan stabil.
Hal tersebut penting untuk menghindari lonjakan energi yang cepat diikuti rasa lemas di pertengahan pagi.
Griffiths juga merekomendasikan konsumsi sekitar 30 gram protein dalam setiap waktu makan untuk membantu rasa kenyang lebih lama.
Meski fluktuasi gula darah merupakan hal normal dalam proses pencernaan, mengontrol pola makan sejak sarapan terbukti dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)
Baca juga: Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Manfaat Timun Rebus untuk Kesehatan Tubuh