Mencicipi Papeda dan Ikan Cakalang di Kedai Rasta, Kuliner Timur yang Hits di Kota Bandung
Muhamad Syarif Abdussalam April 10, 2026 08:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Wangi ikan kakap kuah kuning semerbak di Jalan Cilaki no 59, Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. 

Hidangan ini rupanya disajikan dengan papeda, salah satu kudapan dari Timur yang kian digandrungi warga Kota Bandung. 

Papeda yang dibuat dari tepung sagu diadonkan dengan air yang mendidih panas. Dengan sigap, Elmut Jonathan Warinussy, pemilik Kedai Rasa Asli Timur Indonesia (Rasta) mengaduk cepat dengan dua garpu secara beriringan. 

Tanpa seasoning atau bumbu penyedap, papeda sudah siap disantap. 

"Rasa papeda memang netral, ini seperti nasi. Sering disajikan dengan ikan kakap kuah kuning, bisa dicampur dengan kangkung," ucapnya, saat ditemui Tribunjabar.id, Rabu (8/4/2026). 

Kudapan ini memang menjadi menu andalan di Kedai Rasa Asli Timur. Jonathan berpegang teguh pada pengolahan cita rasa, sesuai dengan penamaan kedai tersebut. 

Soal harga, menu ini dibanderol Rp50 ribu dengan paket papeda termasuk nasi, ikan kuah kuning, tumis kangkung, dan minum. 

Meski demikian, hidangan lain tetap ramah dikantong, mulai dari harga Rp20 ribu-an. 

Jonathan tak ingin tanggung, sebagai putra asli Papua, sagu untuk papeda didatangkan langsung dari tanah kelahirannya. 

"Jadi yang paling authentic itu papeda yang sagunya langsung kita datengin dari Papua," kata dia. 

Tak hanya itu, Kedai Rasta juga menawarkan menu khas Papua yang menggugah selera, seperti beragam ikan bakar, suwir ikan cakalang. 

Menariknya, Jonathan juga menghadirkan ulat sagu. Kudapan protein hewani yang diolah menjadi sate. 

"Jadi saya ingin perkenalkan ulat sagu. Nah, itu kita lagi nyari formula yang memang bisa dikemas dan bisa masuk di lidah orang-orang Bandung," tuturnya. 

Menurut Jonathan, peminat kuliner Timur mulai subur seiring trend musik yang bertengger diposisi teratas di platform musik streaming.  

"Memang enggak salah saya membuka usaha di Bandung yang pecinta kuliner. Ada yang viral, baru mereka langsung datangi. Jadi animo masyarakat Bandung itu lumayan greget buat cita rasa kuliner dari Indonesia Timur, apalagi ditambah dengan boomingnya musik dari Timur," jelasnya. 

Pria 33 tahun ini tak menampik bila mulanya pelanggan yang disasar warga asal Indonesia Timur. 

Hal tersebut dilakoninya dengan posisi kedai yang berada persis di depan asrama mahasiswa Papua di Kota Bandung. 

Menu yang diraciknya pun tak main-main. Mengadu peruntungan di Kota Kembang memang bukan perkara mudah. Di tengah menjamurnya tren kuliner, ia dituntut mampu menyesuaikan cita rasa dengan lidah masyarakat Sunda.

"Jadi sampai di sini, karena memang sudah dapat market-nya orang Bandung, jadi disesuaikan lagi," ujar dia. 

Mulanya, Jonathan merintis jalan hidup dengan mengenyam pendidikan di Universitas Komputer Indonesia, jurusan Akuntansi, hingga enam semester saja. Salah satu kerabat yang membiayai semasa kuliah telah wafat, karena sakit. 

Dia tak ingin hal serupa terjadi pada yang lain. Jonathan merangkul mahasiswa asli Timur untuk membantunya di Kedai Rasta. 

"Teman-teman yang bantu di sini ada dari Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Papua. Jadi, mereka diberdayakan di sini, kerja part time," ucapnya. 

Kedai Rasta pun buah usahanya untuk bertahan hidup di Kota Bandung. Setelah sebelumnya bergelut di dunia clothing. 

"Awal mula terbentuk Kedai Rasta itu karena sedang mepet, butuh duit. Terus melihat bahwa ada peluang makanan khas Indonesia Timur di Bandung, karena Bandung itu jadi kota kuliner," imbuhnya. 

Berdiri sejak 2018, Kedai Rasta kini telah memiliki cabang yang baru hadir sejak satu bulan lalu. 

"Sebulan lebih buka cabang, tepatnya di Jalan Siliwangi nomor 31B, Kota Bandung," ucapnya. 

Jonathan menambahkan, Kedai Rasta patut dicoba sebab rasa otentik makanan dari Indonesia Timur bisa dicicipi di pusat jantung Kota Bandung. 

"Jadi tidak harus jauh-jauh datang ke timur. Rasanya otentik dan salah satu kekayaan nusantara itu melalui kulinernya," tambahnya. 

Di tempat yang sama, Mei mahasiswi Universitas Pasundan mengaku mengetahui Kedai Rasta lewat media sosial. 

"Tahu tempat ini dari TikTok, waktu itu lewat di for your page (fyp). Terus aku penasaran, jadi langsung coba ke sini," ujar Mei. 

Sebagai warga pribumi, Mei telah akrab dengan masakan khas Sunda. Namun siapa sangka, kuliner khas Timur cocok dimulutnya sejak gigitan pertama. 

"Tadi aku coba ayam woku, pisang gorengnya juga di sini dicampur sama sambal, coba minumnya juga dan ternyata rasanya enak-enak banget. Kayak aku kira bakal beda rasanya sama cita rasa orang Sunda dan ternyata balance," jelas Mei. 

Dia pun menuturkan tertarik untuk datang lagi dan mencoba menu lainnya. 
Bagi Anda yang tertarik untuk mencicipi hidangan Kedai Rasta, mereka buka mulai pukul 10.30 hingga 22.30 WIB. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.