Belajar Utang Negara Lewat Mading, Ratusan Siswa SMP Semarang Tuangkan Ide di Dinding
raka f pujangga April 10, 2026 08:14 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suasana Anjungan Kota Semarang di Grand Maerokoco tampak berbeda.

Bukan sekadar kunjungan wisata, ratusan siswa SMP justru terlihat sibuk menempel kertas warna-warni, menggambar, dan berdiskusi serius di depan papan mading mereka.

Sebanyak 42 tim dari 42 SMP se-Kota Semarang berkumpul dalam satu ruang.

Tangan-tangan kecil mereka bergerak cepat, menyusun potongan informasi menjadi sebuah cerita visual.

Baca juga: Mading Nelayan Selayar Tewas Terkena Bom Ikan, Tubuhnya Tak Utuh

Tema yang diangkat pun tak biasa untuk seusia mereka, “Hutang Negara, Buat Apa?”

Di balik kesibukan itu, bukan hanya kreativitas yang diuji, tetapi juga cara mereka memahami sesuatu yang selama ini terdengar rumit, keuangan negara.

Kegiatan bertajuk Wall Gallery Competition ini digagas Inveskids bersama MGMP IPS Kota Semarang dan Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Melalui media mading, siswa diajak membumikan konsep utang negara menjadi sesuatu yang lebih dekat dan mudah dipahami.

Di salah satu sudut, Aquila Najda, siswa kelas 2 SMPN 4 Semarang, tampak antusias menyelesaikan karyanya bersama tim.

“Baru pertama kali ikut, seru sekali. Kami jadi lebih mengerti utang negara itu untuk apa. Ternyata bisa dipelajari dengan cara yang menyenangkan,” ujarnya kepada Tribun Jateng, Jumat (10/4/2026).

Bagi Aquila dan teman-temannya, topik yang semula terdengar berat justru menjadi pengalaman baru yang menarik. Mereka tidak hanya membuat mading, tetapi juga harus memahami isi yang mereka sajikan.

Calvin, pelajar dari SMA Jakarta Intercultural School (JIS) berusia 16 tahun, sebagai founder dari Inveskids, menyebut literasi keuangan sebagai bekal penting yang sering kali terlambat diajarkan.

“Literasi keuangan itu penting untuk masa depan. Anak-anak usia SMP adalah waktu yang tepat untuk mulai memahami bagaimana mengelola uang, termasuk konsep besar seperti keuangan negara,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan kreatif seperti ini membantu siswa memahami prinsip dasar keuangan tanpa merasa terbebani.

Tak hanya siswa, para guru pendamping juga mendapat pembekalan di sela kegiatan.

Mereka dibekali strategi penguatan literasi keuangan yang relevan dengan tantangan masa kini, mulai dari bahaya pinjaman online, judi online, hingga investasi bodong.

Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) juga dikenalkan sebagai alat bantu pembelajaran yang lebih interaktif.

Baca juga: Nasib KH, Kepala SMK Jalankan Bisnis Gas Oplosan di Gudang Sekolah Brebes, Terancam Penjara 6 Tahun

Sementara itu, Sub Koordinator Kurikulum dan Penilaian SMP Dinas Pendidikan Kota Semarang, Fajriah, menilai kegiatan ini sebagai langkah baru dalam pembelajaran.

“Ini kegiatan pertama dengan tema seperti ini di Semarang. Topiknya memang tidak ringan, tetapi justru penting agar anak-anak memahami konsep keuangan negara sejak dini,” katanya.

Ia menambahkan, metode pembelajaran berbasis karya seperti ini membuat siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengolah dan memahaminya secara mandiri.

“Kalau mereka membuat mading, berarti mereka harus paham dulu. Dari situ mereka belajar tentang utang negara, inflasi, hingga perputaran keuangan. Ini pembelajaran yang tidak hanya di kelas,” imbuhnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.