TRIBUNJABAR.ID - Beberapa waktu para pedagang yang menempati bangunan liar (bangli) atau warung kumuh di Lembang ditertibkan Dedi Mulyadi.
Penertiban bangunan liar di sepanjang Jalan Raya Lembang tersebut bertujuan mengembangkan ekonomi bagi para pedagang lokal.
Dedi Mulyadi menjelaskan hal tersebut juga dilakukan sebagai penataan ruang demi keindahan objek wisata serta kelancaran lalu lintas.
“Kita mau merapikan biar tidak kumuh dan ini di tikungan menggunakan badan jalan. Nanti kita pikirkan solusinya setelah dirapikan agar Lembang kelihatan bagus dan wisatanya makin banyak,” ujar Dedi Mulyadi.
Karena hal itu, Dedi Mulyadi gerak cepat jajarannya, memberikan kompensasi modal usaha bagi warga terdampak agar dapat memulai kehidupan baru yang lebih layak.
Selain memberikan bantuan tunai, Dedi Mulyadi memberikan kompensasi melalui pembukaan rekening untuk para pedagang di Lembang yang terdampak tersebut.
Baca juga: Alasan Samsat Kota Bekasi Belum Terapkan Aturan Bayar Pajak Kendaraan yang Diminta Dedi Mulyadi
Hal ini terlihat dalam video terbaru yang diunggah di kanala Youtube Lembur Pakuan, dikutip Jumat (10/4/2026).
Proses Administrasi yang Humanis
Suasana di lokasi verifikasi tampak dipenuhi warga yang antre dengan tertib.
Petugas mengarahkan para penerima bantuan untuk melakukan pembukaan rekening di KCP Bank BJB Lembang.
Bagi warga yang belum memiliki akses perbankan, proses ini menjadi langkah awal untuk mencairkan dana bantuan.
"Bapak dan Ibu yang memerlukan ATM silakan datang ke KCP Lembang membawa buku tabungan dan KTP asli," ujar salah satu petugas saat memberikan instruksi verifikasi kepada warga.
Kisah di Balik Kios yang Dibongkar
Meski kehilangan tempat usaha, para pedagang menunjukkan sikap yang luar biasa.
Pak Tangsanda, warga RW 01 yang sebelumnya berjualan kelontong di depan Jupante, menceritakan bahwa kiosnya dibongkar tepat seminggu sebelum hari raya Lebaran.
Namun, ia memilih untuk menatap masa depan dengan dana kompensasi tersebut.
"Uang kompensasinya mau dipakai untuk modal jualan lagi," ungkap Pak Tangsanda sembari mendoakan kesehatan bagi pemimpin daerah yang telah peduli.
Hal senada disampaikan oleh Wawan Kustiawan, seorang pedagang sekaligus penarik ojek dari Desa Gudang Kahuripan.
Meskipun ia mengaku belum mengetahui nominal pasti yang akan diterima, ia merasa sangat terbantu dengan adanya perhatian dari pemerintah dan jajaran desa.
"Saya tidak punya pekerjaan pokok, jadi uang ini sepenuhnya untuk modal usaha," tegasnya
Baca juga: Dedi Mulyadi Bakal Sulap Jembatan Cirahong Jadi Tempat Wisata dengan Bangunan Khas Sunda
Beradaptasi dengan Roda Dagang
Di balik penertiban dan pembongkan warung kumumuh, keikhlasan ditunjukkan oleh Pak Wawan Gunawan, yang kios permanen bakso dan mie ayamnya harus dibongkar.
Sebelumnya, ia mampu meraup pendapatan hingga Rp300.000 per hari, namun ia menyadari pentingnya penataan jalan.
Sebagai solusi, Pak Wawan berencana beralih menggunakan roda dagang agar bisa kembali berjualan di lahan milik saudaranya.
Ia secara khusus ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Dedi Mulyadi yang ia sebut sebagai sosok yang memberikan perhatian nyata bagi para pedagang di Desa Gudang Kahuripan.
Penyaluran kompensasi ini diharapkan menjadi stimulan bagi warga atau ratusan pedagang lainnya untuk bangkit kembali.
Dengan modal baru dan lokasi usaha yang lebih tertata, para pedagang di Jalan Raya Lembang kini bersiap memulai babak baru dalam perputaran ekonomi mereka.
Kejadian Pembongkaran oleh Dedi Mulyadi
Sebelumnya para pedagang yang menempati bangunan liar atau warung kumuh di Lembang tersebut sempat ditertibkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, sebelum Lebaran 2026.
Dedi Mulyadi menyidak sekaligus menertibkan sejumlah pedagang yang menggunakan sepadan jalan di wilayah Lembang.
Sebelum menginstruksikan pembongkaran, Dedi Mulyadi berdialog terlebih dahulu dengan para pedagang di kawasan tersebut.
Dalam interaksinya, Dedi memberikan pemahaman kepada warga dan pedagang bahwa penertiban tersebut dilakukan demi penataan ruang demi keindahan objek wisata serta kelancaran lalu lintas.
Alih-alih melakukan penggusuran paksa, Gubernur yang akrab disapa KDM itu mengedepankan pendekatan humanis.
Baca juga: Kisah Tukang Tambal Ban di Cirebon Bahagia Saung Kumuhnya Dibongkar dan Disulap Dedi Mulyadi
Pada momen tersebut, Dedi Mulyadi sempat mengajak berdialog dengan beberapa pedagang.
Di antaranya tukang bengkel, pedagang warung kelontong hingga pedagang pakan.
Di antara pedagang warung kelontong ternyata tak memiliki rumah.
Ada yang sengaja membangun tempat usaha sekaligus tempat tinggal di kawasan tersebut.
Dedi Mulyadi juga mendapati penjual jasa yang bisa menyekolahkan anaknya berkuliah dari penghasilannya dari bengkel.
Setelah diberikan pemahaman soal penertiban itu, para pedagang tersebut menyadari bahwa mereka telah melanggar aturan.
Mereka membangun tempat usaha di lahan pemerintah dan sepadan jalan yang tak semestinya.
Menyadari adanya konsekuensi, para pedagang dan penjual jasa itu pun luluh dan mau ditertibkan.
Terlebih setelah Dedi Mulyadi memberikan uang kompensasi senilai Rp 7 juta.
Uang kompensasi itu pun diberikan proporsional atau ada yang berlebih, mengingat ada beberapa pedagang dan penjual jasa yang memiliki tanggungan biaya hidup dan pendidikan anak.
Ada juga yang diberikan bantuan dana untuk modal pindah, hingga uang saku Lebaran.
Dedi Mulyadi pun berkelakar sembari mengkritik warga bahwa seharusnya mereka yang membangun bangunan liar itu justru seharusnya yang membayar kepada Pemda.
“Sebenarnya Bapak dan Ibu ini harusnya menyewa ke Pemda karena ini tanah PU Provinsi, tapi karena saya ingin membantu, silakan ini dipakai uangnya untuk lebaran,” ungkapnya.
Para pemilik bangunan liar itu merespons dengan positif.
Mereka bersedia membongkar tempat tinggal atau warung mereka secara mandiri.
Melalui dialog yang humanis itu Dedi Mulyadi bak menonjolkan solusi yang berkeadilan antara penegakan aturan pemerintah dan kepedulian sosial terhadap masyarakat kecil.
Keseluruhan proses ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi jalan provinsi sekaligus membantu kondisi ekonomi warga yang terdampak.