Sempat Jadi Primadona, Kondisi Wisata Tracking Hutan Mangrove di Bolsel Kini Memprihatinkan
Alpen Martinus April 11, 2026 06:46 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID, BOLAANG UKI - Kabupaten Bolsel dikenal memiliki potensi wisata yang sangat banyak dan menjanjikan.

Namun sayang, banyak yang kurang mendapat perhatian.

Bahkan banyak yang tidak dikelola dengan baik.

Baca juga: Sempat Banjir Pengunjung, Wisata Tracking Hutan Mangrove di Desa Tabilaa Bolsel Kini Tak Terawat 

Satu di antaranya adalah wisata tracking hutan mangrove yang ada di desa Tabilaa, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolsel.

Diresmikan pada tahun 2021, lokasi wisata tersebut sempat menjadi primadona.

Ratusan warga dari Bolaang Mongondow Raya (BMR) bergantian mengunjungi tempat wisata yang ada di depan kantor Bupati Bolsel tersebut.

Tahun berganti tahun, kondisi wisata tracking hutan mangrove Bolsel kian memprihatinkan.

Pantauan Tribunmanado.co.id Jumat 10 April 2026, papan nama tempat wisata hingga jalur tracking yang ada di wisata tersebut sudah banyak yang rusak.

Hal ini tentunya sangat membahayakan bagi wisatawan yang hendak berkunjung.

Selain itu, banyak balok yang menjadi pijakan di wisata tracking hutan mangrove juga sudah banyak yang lapuk. 

Firman, salah seorang pengunjung mengaku tak berani berjalan lebih jauh. 

"Banyak pijakan yang lapuk bahkan ada yang bolong. Makanya saya tak berani berjalan lebih jauh," ucapnya.

Ia menegaskan sudah dua kali datang ke wisata tracking hutan mangrove Bolsel. 

"Pertama tahun 2022. Tapi waktu itu masih sangat bagus," tegasnya.

"Sekarang trackingnya sudah sangat menakutkan," ucap dia sambil tersenyum. 

Hal senada dikatakan Faradilah warga lainnya.

Menurutnya, wisata tracking hutan mangrove tersebut sudah tak dirawat selama beberapa tahun.

"Selama ini belum ada perbaikan. Padahal ini dibuat dengan anggaran ratusan juta," ujar dia. 

Warga asal Dumoga ini mengaku sedih karena wisata tracking hutan mangrove tersebut sudah rusak.

"Padahal ini potensinya sangat bagus. Sayangnya kurang perawatan," ucapnya. 

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Bolsel Dewi Yuliani Musa menegaskan anggaran perawatan selalu diusulkan dalam rencana kerjanya. 

Hanya saja yang disetujui baru sebagian program dan kegiatan prioritas lainnya. 

"Kita selalu usulkan dalam rencana kerja tiap tahunnya, tapi memang ada beberapa hal yang lebih prioritas," tegasnya. 

Selain itu, tahun ini Dispar Bolsel hanya diberikan anggaran operasional, jadi untuk perbaikan masih terkendala. 

Dewi juga menegaskan sempat menerima CSR dari perusahaan, sayangnya CSR tersebut tak cukup untuk membenahi wisata tracking hutan mangrove tersebut. 

"Karena CSRnya hanya Rp 20 juta. Sedangkan perbaikan wisata ini perlu biaya yang lebih banyak, jadi belum cukup," tandasnya. (NIE)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.