Lima Satwa Liar Dilepas di Hutan TWA Batu Putih Bitung, Ada Elang Laut Dada Putih
Alpen Martinus April 11, 2026 08:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID,BITUNG - Lima ekor satwa liar dilepaskan di Taman Wisata Alam Batu Angus (TWA) Batu Putih, Kelurahan Batu Putih Bawah Kecamatan Ranowulu Kota Bitung Provinsi Sulut, Jumat (10/4/2026).

Lima hewan tersebut adalah seekor Elang Laut Dada Putih, ekor burung perkici dora, dan tiga ekor Tarsius atau Tangkasi.

Terbang seperti mau menerkam mangsanya, seekor burung berwarna putih hitam jenis Elang Laut Dada Putih keluar dari sarang terbuat dari kayu berbentuk segi empat.

Baca juga: Menyusuri Jejak Satwa Liar Sulawesi Lewat Wisata Edukasi Konservasi di PPS Tasikoki Minut Sulut

Kandang itu posisinya agak tinggi.

Burung Elang Laut Perut Putih tersebut, satu di antara satwa liar yang di lepas ke alamnya.

Ikut di lepas satu ekor burung perkici dora dan tiga ekor Tarsius atau Tangkasi.

Sementara itu satu ekor burung perkici dora, yang ikut di lepas berwarna hijau ke arah berlawanan dari burung elang di TWA Batu Putih.

Sementara itu pelaksanaan pelepasan satwa jenis Tarsius, berlangsung di bawah pohon Beringin.

Menariknya, ketiga satwa Tarsius yang di lepas memiliki hubungan keluarga.

"Iya ketiganya merupakan bapak, ibu dan satu orang anak Tarsius," kata Kepala Balai Konservasi Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Danny Pattipeilohy kepada wartawan, Jumat (10/4/2026).

Saat diwawancara di TWA Batu Putih, cuaca mendung.

TWA Batu Putih di Kecamatan Ranowulu, berjarak 17 Kilometer (Km) dengan Kantor Camat Ranowulu di Kelurahan Danowudu.

Dapat ditempuh dalam waktu 33 menit menggunakan kendaraan.

Danny menjelaskan, Satwa burung perkici dora dan burung elang laut perut putih termasuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. 

Adapun asal-usul satwa burung perkici dora dan elang laut perut putih merupakan hasil sitaan dan satwa tangkasi merupakan hasil penyerahan masyarakat. 

Satwa tersebut telah melalui proses penyelamatan, perawatan, dan rehabilitasi, pemeriksaan kesehatan serta dinyatakan layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Kegiatan pelepasliaran ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya pengembalian fungsi ekologis satwa di habitatnya.

Sekaligus menjadi momentum edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian satwa liar dari ancaman perburuan dan perdagangan ilegal.

"TWA Batu Putih dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena memiliki kondisi habitat yang sesuai serta merupakan bagian dari kawasan konservasi yang mendukung keberlangsungan hidup satwa liar, khususnya spesies endemik Sulawesi," jelasnya.

Pelepasliaran ini merupakan langkah nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistern serta bentuk komitmen pemerintah dalam melindungi satwa liar. 

Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati.

Pada kesempatan ini, Balai KSDA Sulawesi Utara juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini.

Mulai dari unsur pemerintah, lembaga konservasi, maupun masyarakat yang turut berperan dalam penyelamatan dan rehabilitasi satwa.

Melalui kegiatan ini, diharapkan satwa yang dilepasliarkan dapat kembali beradaptasi dengan baik di alam serta berkembang biak secara alami di habitatnya.

Pelaksanaan pelepasan lima ekor satwa ke alamnya, dilakukan oleh Dirjen Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani dan Kepala Balai Konservasi Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Danny Pattipeilohy.

Disaksikan Kepala Dinas Kehutanan Daerah Provinsi Sulut Reiner Dondokambey.

Wali Kota Bitung Hengky Honandar SE, yang diwakili Asissten 2 Bidang Perekonomian Jhon Maikel Sondakh serta jajaran Kementrian Kehutanan, BKSDA Provinsi Sulut, Pemkot Bitung, pemerintah Kecamatan Ranowulu dan lurah-lurah di Kecamatan Ranowulu.

Data yang dihimpun, terdapat 26 jenis mamalia di TWA Batu Putih Kecamatan Ranowulu Kota Bitung.

10 diantaranya endemik Sulawesi Utara (Sulut).

Diantaranya Yaki (Macaca nigra), Tangkasi (Tarsius spectrum), Kuskus beruang (Ailurops ursinus), Kuskus kerdil Sulawesi (Strigocuscus celebensis) dan Rusa (Cervus timorensis).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.