Tak Setenar Dulu, Pak Tarno Kini Sambung Hidup dengan Jualan Mainan, Pernah Cuma Dapat Rp 2 Ribu Sehari
Ulfa Lutfia Hidayati April 11, 2026 09:34 AM

Grid.ID – Roda kehidupan terus berputar, dan itulah yang kini dirasakan oleh pesulap legendaris tanah air, Pak Tarno. Jika dulu wajahnya hampir setiap hari menghiasi layar kaca dengan jargon "Prok prok prok jadi apa?", kini pria berusia 74 tahun itu harus berjuang di jalanan demi menyambung hidup.

Tak lagi tampil di panggung-panggung megah dengan lampu sorot, Pak Tarno kini menghabiskan waktunya sebagai pedagang mainan di kawasan Kota Tua dan berkeliling hingga ke Kebon Bawang, Jakarta Utara.

Di balik sisa-sisa ketenarannya, kondisi ekonomi Pak Tarno ternyata cukup memprihatinkan. Saat ditemui awak media, Pak Tarno menceritakan bahwa penghasilannya dari berjualan mainan jauh dari kata cukup. Ada kalanya, ia harus pulang dengan tangan hampa.

"Kalau dapat aslinya mah, kalau asli dari dagangan doang, pernah dapat Rp 2.000 doang sehari," ungkap istri kedua Pak Tarno, Lisa Karlina saat ditemui di kontrakannya di kawasan Warakas, Jakarta Utara, Jumat (10/4/2026).

Beruntung, masih banyak masyarakat yang mengenali sosoknya dan menaruh simpati. Tak jarang, pembeli sengaja memberikan uang lebih demi membantu pengobatan sang pesulap.

"Kadang ada yang beli harganya sedikit, tapi kasih uang Rp 100.000 nggak mau dikembaliin. Padahal harganya Rp2.000. Katanya buat Bapak cepat sembuh," kenangnya.

Kondisi kesehatan Pak Tarno memang sedang tidak baik-baik saja. Ia menderita penyakit darah tinggi yang mengakibatkan bicaranya menjadi pelat dan fisiknya melemah. Namun, keterbatasan itu tak menghalanginya untuk tetap mencari nafkah.

Ada pemandangan ironis saat ia berjualan. Kursi roda yang seharusnya ia duduki untuk beristirahat, justru beralih fungsi menjadi alat pengangkut barang dagangan. Pak Tarno sendiri memilih berjalan kaki perlahan menggunakan tongkat kayu.

"Kursi rodanya kan buat naruh barang itu, jualan. Bapak jalan pakai tongkat," jelas Lisa Karlina, istri yang setia menemani Pak Tarno berjualan setiap Senin hingga Jumat.

Pantang Mengemis Meski Sulit

Meski hidup dalam keterbatasan dan sedang sakit, Pak Tarno memiliki prinsip hidup yang luar biasa. Ia mengaku sangat menghindari meminta-minta atau mengemis. Baginya, bekerja dengan sisa tenaga yang ada jauh lebih terhormat.

"Emang mendingan nggak minta-minta. Mendingan jualan begini saja. Karena kalau minta-minta dibilang ngemis," tegasnya.

Istrinya, Lisa, menambahkan bahwa mereka harus tetap bekerja karena kebutuhan pokok yang tidak bisa ditunda.

"Habis gimana? Perut (lapar) nggak bisa, nggak bisa ditahan. Biar bisa makan, Pak," tutur Lisa.

Tetap Menghibur di Pasar Malam

Jiwa seni Pak Tarno sebagai pesulap nyatanya belum padam. Di sela-sela kesibukannya berjualan, ia masih menyempatkan diri menerima tawaran sulap di pasar malam pada akhir pekan.

Agar tetap bisa tampil maksimal dan jargonnya terdengar jelas, ia rutin melakukan 'senam mulut' dan mengonsumsi rebusan bumbu dapur seperti jahe dan sereh setiap hari. Semangat pantang menyerah Pak Tarno ini menjadi potret nyata perjuangan seorang seniman senior yang tak mau kalah oleh keadaan, meski kejayaannya kini perlahan memudar dimakan waktu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.