Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar, SVD
Biara Soverdi St. Josef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor NTT
Sabtu, 11 April 2026
HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH
Kis. 4:13-21; Mzm. 118:1,14-15,16ab-18,19-21;
Mrk. 16:9-15
Warna Liturgi Putih
Dari Hati yang Tertutup Menjadi Saksi Tuhan
Injil Markus 16:9–15 hari ini membawa kita pada sebuah momen yang sangat penting setelah kebangkitan Yesus.
Ini bukan hanya tentang kebangkitan itu sendiri, tetapi tentang bagaimana manusia merespons kabar kebangkitan tersebut.
Maria Magdalena adalah orang pertama yang melihat Yesus yang bangkit. Ia datang dengan penuh semangat, membawa kabar sukacita kepada para murid. Namun apa yang terjadi?
Mereka tidak percaya. Kemudian dua orang murid lain mengalami perjumpaan dengan Yesus di perjalanan. Mereka juga bersaksi. Tetapi lagi-lagi, para murid tetap tidak percaya.
Bayangkan situasi ini. Bukan orang asing yang berbicara—ini adalah orang-orang yang dikenal, orang-orang yang berjalan bersama Yesus, yang melihat mukjizat-Nya. Namun hati mereka tetap tertutup.
Di sinilah kita melihat satu kebenaran penting: ketidakpercayaan bukan karena kurangnya informasi, tetapi karena hati yang tertutup. Sering kali kita berpikir, ―Kalau saja saya melihat mujizat, saya pasti percaya.‖ Tetapi firman Tuhan hari ini justru menunjukkan sebaliknya.
Para murid sudah mendengar kesaksian, bahkan sebelumnya Yesus sendiri telah berulang
kali mengatakan bahwa Ia akan bangkit.
Namun tetap saja mereka tidak percaya. Mengapa? Karena hati mereka masih dikuasai oleh ketakutan, kekecewaan, dan mungkin rasa putus asa. Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita?
Ketika kita menghadapi masalah, doa yang belum dijawab, atau keadaan yang tidak sesuai harapan, perlahan-lahan hati kita mulai tertutup. Kita mulai ragu: ―Apakah Tuhan benar-benar bekerja? Apakah Tuhan masih peduli?‖ Tanpa kita sadari, kita menjadi seperti para murid—mendengar firman, tetapi tidak sungguh-sungguh percaya. Namun kabar baiknya adalah ini:Yesus tidak membiarkan mereka tetap dalam ketidakpercayaan.
Kitab Suci engatakan bahwa Yesus menampakkan diri kepada mereka dan menegur ketidakpercayaan serta kedegilan hati mereka. Teguran ini bukan tanda penolakan, tetapi tanda kasih. Yesus ingin membuka mata mereka. Tuhan juga melakukan hal yang sama dalam hidup kita.
Kadang melalui firman, melalui pengalaman hidup, bahkan melalui teguran, Tuhan sedang membuka mata kita supaya kita melihat kebenaran-Nya. Membuka mata rohani bukan hanya soal melihat dengan mata fisik, tetapi menyadari bahwa Tuhan hidup, Tuhan bekerja, dan Tuhan setia.
Sering kali kita merasa tidak layak untuk melayani Tuhan. Kita berpikir, ―Saya masih ragu, iman saya masih lemah.‖ Tetapi kisah ini mengingatkan kita bahwa justru orang-orang seperti itulah yang Tuhan pakai.
Tuhan sanggup mengubah keraguan menjadi keyakinan, ketakutan menjadi keberanian, dan ketidakpercayaan menjadi kesaksian.
Ada dua panggilan penting bagi kita dari firman ini. Pertama, biarkan Tuhan membuka mata kita. Mungkin hari ini ada area dalam hidup kita yang masih kita ragukan. Mungkin kita masih sulit percaya dalam hal keuangan, keluarga, masa depan, atau panggilan hidup.
Hari ini Tuhan mengundang kita untuk membuka hati. Percaya bukan berarti kita mengerti semuanya, tetapi kita memilih untuk mempercayai Tuhan di tengah ketidakpastian.
Kedua, jadilah alat untuk membuka mata orang lain. Di sekitar kita ada banyak orang yang belum percaya. Bukan karena mereka tidak pernah mendengar, tetapi karena mereka belum melihat bukti nyata dalam hidup orang percaya. Kita dipanggil untuk menjadi terang. Melalui sikap, perkataan, dan tindakan kita, orang lain bisa melihat kasih Tuhan.
Mungkin kita tidak berkhotbah di mimbar, tetapi hidup kita adalah ―khotbah‖ yang dilihat setiap hari oleh orang lain.
Ketika kita tetap setia di tengah kesulitan, ketika kita mengampuni, ketika kita mengasihi tanpa syarat, di situlah mata orang lain mulai terbuka.
Doa: ―Tuhan, buka mata hati kami agar kami dapat melihat karya-Mu dalam hidup kami. Ampuni keraguan kami, dan ajar kami untuk percaya sepenuhnya kepada-Mu. Pakailah kami menjadi alat-Mu untuk membawa terang bagi mereka yang belum percaya...Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Pesta Paskah. Selamat Hari Sabtu dalam Oktaf Paskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Pastor John Lewar SVD)