Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Dua siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Carenang menjadi korban aksi kekerasan brutal saat pulang sekolah di Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten.
Kedua korban diketahui bernama Edi Saputra (15) dan Mamat (15), yang diserang menggunakan senjata tajam jenis samurai oleh sekelompok pelajar lain.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (9/4/2026) sekitar pukul 11.00 WIB di Jalan Kampung Kidongdong, Desa Mekarsari.
Baca juga: BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Petir, Dampak Sirkulasi Siklonik di Barat Daya Banten
Insiden ini menggegerkan warga karena terjadi di siang hari saat aktivitas masyarakat sedang berlangsung.
Akibat kejadian tersebut, Edi mengalami luka sobek cukup dalam dan harus mendapatkan lima jahitan di Puskesmas Carenang.
Sementara itu, Mamat juga mengalami luka, namun tidak memerlukan tindakan jahitan.
Kapolsek Carenang, Desma Priatna, mengatakan pihak kepolisian langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat.
"Segera setelah menerima informasi, Unit Reskrim langsung menuju tempat kejadian perkara untuk melakukan pengamanan serta melakukan pengejaran terhadap pelaku,” ujarnya, Jum'at, (10/4/2026).
Ia menjelaskan, identitas terduga pelaku telah berhasil dikantongi oleh petugas dalam waktu singkat.
Saat ini, tim dari Polsek Carenang bersama Sat Reskrim Polres Serang masih melakukan pengejaran dan penyelidikan intensif.
Mengingat korban dan pelaku masih berstatus pelajar dan berusia di bawah umur, penanganan kasus ini akan dilakukan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku bagi anak.
"Kami tetap tegas dalam penegakan hukum, namun mengedepankan aspek pembinaan mengingat para pihak masih di bawah umur," ucapnya.
Desma menegaskan, pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk kekerasan, terutama yang melibatkan senjata tajam dan anak-anak.
"Kami tidak akan tinggal diam. Tindakan tegas akan dilakukan demi menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat," tegasnya.
Polisi juga mengimbau kepada masyarakat, khususnya orang tua dan pihak sekolah, untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak guna mencegah terulangnya kejadian serupa.