Alasan Mojtaba Khamenei Pemimpin Iran Sebut Tak Ingin Perang dengan AS - Israel, Beri Syarat Mutlak
Putra Dewangga Candra Seta April 11, 2026 05:32 PM

 

SURYA.co.id – Di tengah ketegangan Timur Tengah yang belum sepenuhnya reda, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan yang langsung menyita perhatian dunia pada Kamis (9/4/2026).

Iran secara resmi menyatakan tidak mencari perang dengan Amerika Serikat (AS) maupun Israel, di saat gencatan senjata dua pekan baru saja disepakati.

“Kami tidak mencari perang dan kami tidak menginginkannya,” katanya dalam pesan yang dibacakan di televisi pemerintah, bertepatan dengan 40 hari sejak ayahnya, Ali Khamenei, terbunuh pada 28 Februari 2026, hari pertama perang, dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

Namun, pesan “sejuk” ini dibarengi nada tegas yang menjadi inti strategi Teheran.

“Namun kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami dalam keadaan apa pun, dan dalam hal ini, kami menganggap seluruh front perlawanan sebagai satu kesatuan,” tambahnya.

Pernyataan ini muncul di tengah tekanan diplomasi keras dari Presiden AS Donald Trump, sekaligus membuka ruang tafsir: Iran siap damai, tetapi bukan tanpa syarat.

Sinyal "Gencatan Senjata Psikologis"

TAK SADARKAN DIRI - Potret Mojtaba Khamenei, pemimpin baru Iran Pengganti Ali Khamenei. Mojtaba dikabarkan tak sadarkan diri.
TAK SADARKAN DIRI - Potret Mojtaba Khamenei, pemimpin baru Iran Pengganti Ali Khamenei. Mojtaba dikabarkan tak sadarkan diri. (tribunnews)

Momentum pernyataan ini bukan kebetulan. Iran sedang memainkan strategi “gencatan senjata psikologis”, meredakan tensi tanpa benar-benar melepas posisi tawar.

Di satu sisi, tekanan militer dan ancaman dari AS masih membayangi.

Di sisi lain, Iran memiliki kepentingan domestik: pemulihan ekonomi yang terpukul akibat konflik berkepanjangan dan sanksi.

Dengan menyatakan tidak ingin perang, Iran membangun citra sebagai aktor rasional, bukan agresor.

Ini penting untuk memenangkan opini publik internasional sekaligus membuka jalur negosiasi yang lebih menguntungkan.

Langkah ini juga memberi sinyal kepada dunia bahwa eskalasi lebih lanjut bukan berasal dari Teheran, melainkan bergantung pada respons Washington dan sekutunya.

Baca juga: 4 Pernyataan Mojtaba Khamenei saat Muncul Pertama Usai Gencatan Senjata, Klaim Menang Perang dari AS

Membaca 'Garis Merah' Iran

Pernyataan “tidak akan melepaskan hak-hak sah” menjadi kunci dari diplomasi gaya “tangan besi bersarung beludru” yang kini dimainkan Iran.

Lantas, apa saja “hak” yang dimaksud?

1. Program Nuklir untuk Tujuan Damai

PEMIMPIN BARU - Majelis Pakar Iran telah memilih Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Ali Khamenei
PEMIMPIN BARU - Majelis Pakar Iran telah memilih Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Ali Khamenei (Surya.co.id)

Iran secara konsisten menyatakan program nuklirnya untuk kepentingan sipil. Namun bagi Barat, ini tetap menjadi kekhawatiran utama. Bagi Teheran, menghentikan program ini sama dengan kehilangan kedaulatan teknologi.

2. Kedaulatan Nasional

Iran menolak segala bentuk intervensi asing, baik militer maupun politik. Ini termasuk tekanan untuk mengubah kebijakan dalam negeri.

3. Pengaruh Regional (Front Perlawanan)

Pernyataan Khamenei tentang “front perlawanan” merujuk pada jaringan sekutu Iran di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon. Ini adalah instrumen geopolitik utama Iran yang tidak akan dilepas.

Dengan kata lain, pesan untuk Donald Trump cukup jelas: Iran membuka pintu negosiasi, tetapi tidak akan menyerah total.

Membedah Pesan Khamenei

Selain pesan ke luar negeri, Khamenei juga mengirim sinyal kuat ke dalam negeri.

Kepada rakyat Iran, ia menegaskan bahwa gencatan senjata bukan berarti perjuangan selesai.

Khamenei mengatakan kepada warga Iran bahwa mereka "tidak boleh membayangkan bahwa turun ke jalan tidak lagi diperlukan" meskipun gencatan senjata telah diumumkan.

Ia juga memperingatkan tentang perang informasi yang menyertai konflik militer.

“Suara Anda di ruang publik tidak diragukan lagi berpengaruh pada hasil negosiasi,” katanya, menurut pesan yang disiarkan di televisi pemerintah.

Selain itu, ia mendesak warga Iran untuk menghindari berinteraksi dengan media yang "didukung oleh musuh."

Pesan ini menunjukkan bahwa Iran tidak hanya bertempur di medan militer, tetapi juga di ranah opini publik dan informasi.

Dampak Bagi Harga Minyak dan Ekonomi Global

Pernyataan Iran yang cenderung menahan diri memberi efek penyejuk bagi pasar global. Ketakutan akan perang besar di Timur Tengah sedikit mereda, sehingga tekanan terhadap harga minyak mulai berkurang.

Bagi negara seperti Indonesia, situasi ini membawa dampak positif. Stabilitas harga energi berpotensi menjaga harga BBM tetap terkendali dan mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Meski demikian, pasar tetap waspada. Gencatan senjata yang ada masih bersifat rapuh dan bisa berubah sewaktu-waktu.

Dunia kini tampaknya tidak lagi berada di ambang perang terbuka, melainkan memasuki fase baru: adu strategi di meja diplomasi.

Iran menunjukkan bahwa mereka bisa menahan diri tanpa kehilangan ketegasan. Sebaliknya, AS dan sekutunya kini dihadapkan pada pilihan antara eskalasi atau kompromi.

Pesan Khamenei menjadi simbol fase baru ini, di mana konflik tidak lagi hanya ditentukan oleh rudal, tetapi juga oleh narasi, tekanan, dan negosiasi.

Pada akhirnya, meskipun pedang telah disarungkan, tangan Iran tetap berada di gagangnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.