Harga Plastik di Tangsel Naik Hingga Rp20 Ribu, Disperindag Dorong UMKM Efisiensi Proses Produksi
Wawan Perdana April 11, 2026 06:07 PM

Laporan wartawan TribunBanten.com Ade Feri Anggriawan

TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL-Dampak kenaikan harga plastik di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, kini mulai dirasakan langsung oleh para pedagang yang menggunakan plastik sebagai bahan baku utama.

Pasalnya, lonjakan harga ini terjadi hampir di semua jenis dan ukuran plastik. 

Untuk plastik kemasan bening misalnya, harga yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp30 ribu per kilogram.

Sementara itu, plastik bening ukuran satu kilogram yang biasa digunakan untuk produksi tempe kini dijual hingga Rp60 ribu per kilogram, dari sebelumnya Rp40 ribu.

Tak hanya itu, harga kantong plastik merah juga mengalami kenaikan signifikan, dari Rp19 ribu menjadi Rp26 ribu per kilogram.

Kenaikan ini tidak hanya berdampak pada pedagang plastik, tetapi juga merembet ke pelaku UMKM lain yang bergantung pada plastik sebagai bahan baku produksi.

Salah satu yang paling terdampak contohnya ialah para pengrajin tempe, yang terpaksa harus mengecilkan ukuran tempe sebagai solusi untuk menekan biaya produksi atas kenaikan plastik tersebut.

Di sisi lain, penjual minuman seperti es teh dan pedagang kerupuk juga harus memutar otak agar tidak kehilangan pelanggan, di tengah meningkatnya biaya kemasan.

Baca juga: Perajin Tempe di Tangsel Rampingkan Ukuran Produk, Gegara Harga Kedelai dan Pelastik Melonjak

Menanggapi kondisi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tangsel, Bachtiar Priyambodo menyebutkan, bahwa kenaikan harga plastik saat ini masih dipengaruhi oleh mekanisme pasar dan situasi ekonomi global.

“Kalau itu memang mekanisme pasar. Kita tahu kondisi ekonomi global seperti ini, terimbas juga dari perang di Timur Tengah,” ujarnya kepada TribunBanten.com, melalui sambungan telepon, Sabtu (11/4/2026).

Bachtiar mengaku, meski kenaikan harga tersebut sudah ia ketahui dan kerap mendapat keluhan dari para pedagang.

Namun hingga saat ini, pihaknya belum memiliki langkah intervensi khusus yang dilakukan untuk menekan harga plastik. 

Ia menyatakan, pemerintah daerah kini masih menunggu arahan dari pemerintah pusat.

“Untuk sementara ini, jujur saja belum ada langkah-langkah khusus. Kita masih menunggu arahan dari pusat,” katanya.

Meski demikian, lanjut Bachtiar, Pemerintah Kota Tangerang Selatan mendorong para pelaku usaha, khususnya UMKM dan industri kecil menengah, untuk melakukan efisiensi dalam proses produksi agar tetap bertahan di tengah kenaikan biaya.

“Paling tidak harus ada efisiensi, terutama dari segi produksi supaya mereka tidak rugi,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga telah mengeluarkan surat edaran untuk mengurangi penggunaan plastik dan beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan, seiring dengan isu krisis sampah yang sempat terjadi.

Namun demikian, Bachtiar mengakui, bahwa penerapan di lapangan tidak mudah, mengingat keterbatasan bahan alternatif.

"Kita waktu krisis sampah beberapa waktu lalu sudah pernah mengeluarkan Surat Edaran untuk bisa menggunakan kantong yang lebih ramah lingkungan," tutur Bachtiar.

"Walaupun memang sumbernya tidak mudah, misalnya tempe jangan pakai plastik tapi pakai daun, tapi kan sumber daunnya sekarang juga terbatas. Tapi setidaknya hal-hal seperti itulah kira-kira yang kita lakukan," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.