Ritual 500 Tahun Tradisi Ngideri Cermee Bondowoso, 11 Lelaki Keliling Desa Tanpa Alas Kaki
Haorrahman April 11, 2026 07:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, memiliki beragam tradisi budaya yang masih dijaga hingga kini. Salah satunya adalah tradisi Ngideri di Desa Rambankulon, Kecamatan Cermee, yang diyakini telah berlangsung lebih dari lima abad. Dalam ritual ini terdapat 11 Lelaki Berkeliling Desa Tanpa Alas Kaki

Ritual ini menjadi bagian dari rangkaian tradisi Selametan Gugur Gunung, yang pada Januari 2026 resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI).

Baca juga: Perbaikan Jembatan Sentong Bondowoso Segera Dimulai, Alat Berat Sudah Didatangkan

Malam Jumat di Bulan Syawal

Plt. Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Heri Kusdaryanto, menjelaskan tradisi Ngideri dilaksanakan setiap malam Jumat (Kamis malam) sepanjang bulan Syawal.

“Pelaksanaannya dimulai setiap malam Jumat selama tujuh minggu berturut-turut. Jadi tujuh malam Jumat pada bulan Syawal,” jelas Heri, Sabtu (11/4/2026).

Rangkaian ritual dimulai dengan doa bersama di makam Raden Imam Asy’ari, tokoh yang dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di wilayah tersebut.

Baca juga: Pergoki Pencuri di Rumah, Pria di Sumberwringin Bondowoso Dibacok

11 Lelaki

Pada malam hari, rombongan yang terdiri dari 11 lelaki warga lokal akan berjalan mengelilingi desa tanpa mengenakan alas kaki. Mereka membawa alat musik tradisional yang dibunyikan sepanjang perjalanan.

Rute ritual dimulai dari makam Raden Imam Asy’ari di Desa Rambankulon, kemudian menuju Ramban Wetan dan Suling Kulon, sebelum kembali ke titik awal.

“Rombongan berjumlah 11 orang; 10 pria bertugas memegang alat musik seperti klonengan, tong-tong kecil, dan talam (nampan), sementara satu orang lainnya adalah juru kunci,” ujar Heri.

Para peserta tidak dipilih secara sembarangan. Mereka merupakan keturunan dari 11 orang asli yang secara turun-temurun menjalankan ritual tersebut. Jika seorang peserta sudah lanjut usia, perannya akan digantikan oleh keturunannya.

Baca juga: Gerakan Hemat BBM, ASN Bondowoso Bersepeda Puluhan Kilometer ke Kantor

Akulturasi Budaya

Masyarakat setempat meyakini tradisi Ngideri sudah ada sejak sekitar tahun 1500-an. Namun, pemerintah daerah menduga usia tradisi ini kemungkinan lebih tua.

Salah satu indikasinya terlihat dari bentuk alat musik yang digunakan, yang menyerupai lonceng atau klonengan pada masa Buddha.

“Masuknya Islam di sini tidak terjadi secara instan, melainkan berakulturasi dengan adat istiadat yang sudah ada,” tutur Heri.

Baca juga: Hujan Deras dan Angin Kencang Terjang Bondowoso, Sejumlah Rumah Rusak dan Listrik Padam

Berjalan Tanpa Alas Kaki

Keunikan tradisi Ngideri terlihat dari perjalanan para peserta yang berlangsung cukup lama. Mereka berjalan tanpa alas kaki mulai pukul 20.00 hingga sekitar pukul 01.00 WIB.

Meski demikian, warga setempat percaya para peserta tidak mengalami luka pada telapak kaki mereka.

Menurut cerita masyarakat, rute ritual pada masa lalu bahkan jauh lebih panjang. Pada era Majapahit, rombongan disebut harus berkeliling hingga kawasan Surabasah sampai Panarukan di Situbondo.

Kepercayaan masyarakat terhadap tradisi ini sangat kuat. Warga meyakini ritual harus dilaksanakan sesuai aturan yang diwariskan.

Baca juga: Dua Kasus Korupsi, Dana Desa dan Hibah di Bondowoso Dilimpahkan ke Tipikor Surabaya

Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, misalnya hewan kurban berupa kambing berwarna cokelat muda menyerupai kijang, masyarakat percaya dapat terjadi musibah atau kejadian yang dianggap sebagai bala.

Tradisi Selametan Gugur Gunung yang menaungi ritual Ngideri resmi masuk daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) pada Januari 2026.

Selain tradisi tersebut, dua kekayaan budaya Bondowoso lainnya juga mendapatkan pengakuan yang sama, yaitu Tari Topeng Kona dan Tape Bondowoso.

Pengakuan ini diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian budaya lokal sekaligus mengenalkan kekayaan tradisi Bondowoso kepada masyarakat luas.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.