"Pudarnya citra Dubai sebagai tempat perlindungan yang aman,” tulis majalah asal Amerika Serikat (AS), New Yorker. "Apakah ini akhir bagi Dubai?”, tanya seorang kolumnis dari New York Times.
Sebagian dari "keruntuhan” itu terkait penangkapan sejumlah influencer dan warga lain yang memperlihatkan kerusakan di Dubai akibat serangan Iran. Organisasi bantuan hukum, Detained in Dubai, meyakini lebih dari 100 orang, termasuk warga Eropa, telah ditangkap otoritas UEA dengan tuduhan pelanggaran undang-undang kejahatan siber atau keamanan nasional. Jika terbukti bersalah, mereka dapat menghadapi denda besar atau hukuman penjara bertahun-tahun.
Menurut Kementerian Pertahanan UEA, Iran telah menembakkan lebih dari 2.200 drone dan 500 rudal balistik ke wilayah negara itu sejak perang dimulai, dengan beberapa tembakan menghantam bandara Dubai dan beberapa bangunan tempat tinggal dan hotel.
Di saat yang bersamaan, otoritas UEA juga telah berusaha mempertahankan kesan bahwa Dubai tetap aman dan normal. Beberapa pejabat terlihat keliling pusat perbelanjaan, di mana bisnis diimbau untuk tetap buka dan beroperasi seperti biasa.
Sejumlah media UEA dan akun media sosial populer juga mendorong narasi tandingan. Mereka menegaskan bahwa kehidupan berjalan normal dan Dubai masih aman.
Tidak diragukan lagi, Dubai telah mengalami kerusakan ekonomi yang serius. Emirat ini adalah yang terbesar kedua dari tujuh emirat yang membentuk Uni Emirat Arab.
Emirat Abu Dhabi sebenarnya memegang sebagian besar cadangan minyak UEA, sekitar 96%. Karena itu, sebagian besar pendapatan Dubai justru berasal dari sektor nonmigas, seperti pariwisata, jasa keuangan, teknologi, properti, dan logistik.
Dubai berpenduduk sekitar 3,8 juta jiwa, tapi hanya sekitar 10% yang merupakan warga asli Emirat. Arus masuk imigran, baik sebagai penduduk, investor, maupun wisatawan, telah mendorong pertumbuhan ekonomi Dubai, seiring meningkatnya permintaan barang dan jasa.
Sebuah analisis tahun 2021 oleh Arab Gulf States Institute, sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Washington, menunjukkan bahwa, "Populasi ekspatriat di UEA merupakan elemen utama pembangunan ekonomi dalam negeri.” Itulah mengapa "kontraksi jumlah populasi yang didorong oleh arus keluar ekspatriat kemungkinan akan berdampak pada ekonomi yang sangat besar.”
Tidak diketahui secara spesifik mengenai jumlah warga asing yang telah meninggalkan Dubai, baik secara permanen atau sementara, setelah AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari lalu. Beberapa laporan mengindikasikan ada sekitar puluhan ribu orang yang telah beranjak dari Dubai.
Arus masuk pariwisata juga telah berkurang secara signifikan. Sejumlah wawancara dengan pebisnis yang fokus pada pariwisata mengindikasi adanya penurunan jumlah pengunjung hingga sekitar 80%. Publikasi Arabian Gulf Business Insight mencatat bahwa di bulan Maret, tingkat okupansi hotel telah turun secara signifikan.
Selain itu, telah terjadi kerugian di bidang lain. Indeks acuan pasar saham Dubai telah kehilangan 16% nilainya selama perang. Para manajer di sektor jasa keuangan telah mengimbau staf untuk kerja dari rumah. Beberapa bahkan telah mengevakuasi pegawainya. Harga properti telah turun dari rekor tertinggi dan para pengamat menyebut bahwa pembeli mulai mundur dari rencana pembelian mereka.
Otoritas lokal berusaha membantu. Dalam dua minggu terakhir, UEA telah membuat sebuah paket kebijakan sebesar $272 juta atau setara dengan Rp4,6 triliun sebagai bentuk bantuan.
Paket ini memberikan tambahan waktu tiga bulan untuk pembayaran berbagai biaya pemerintah, termasuk pajak penjualan hotel dan pajak turis, serta memperpanjang tenggat pengajuan deklarasi kepabeanan. Otoritas UEA juga mendanai rencana untuk merangsang pariwisata setelah perang berakhir.
Menurut media Inggris, Financial Times, otoritas UEA juga berencana melonggarkan aturan status pajak dan izin tinggal untuk warga asing.
Diadaptasi oleh Cinta Zanidya
Editor: Hani Anggraini