Gadis Lamar Gadis Hebohkan Sinjai, Samaran Terungkap Saat tak Bisa Penuhi Mahar
Saifullah April 11, 2026 09:35 PM

 

Seorang gadis asal Lampung menyamar sebagai pria untuk melamar remaja perempuan di Sinjai, Sulsel.

SERAMBINEWS.COM, SINJAI - Sebuah peristiwa unik sekaligus mengejutkan terjadi di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel), ketika seorang gadis asal Lampung nekat menyamar sebagai pria untuk melamar seorang remaja perempuan. 

Kasus ini akhirnya terbongkar setelah keluarga pihak perempuan meminta mahar fantastis senilai Rp 250 juta, yang tidak sanggup dipenuhi oleh pihak pelamar.

Peristiwa bermula ketika SA (19), bersama rekannya ED (15), datang ke Desa Biji Nangka, Kecamatan Sinjai Borong pada Kamis (9/4/2026). 

Keduanya mengaku sebagai pria dan berniat melamar AL (15), seorang remaja yang dikenal SA melalui media sosial (medsos).

Hubungan keduanya terjalin intens sejak tahun lalu, hingga akhirnya SA bertekad datang langsung ke Sinjai.

Kepala Desa Biji Nangka, Abdul Rauf mengungkapkan, bahwa keluarga AL sempat menggelar rapat dan menetapkan mahar sebesar Rp 250 juta. 

Namun, ketika SA tidak mampu memenuhi permintaan tersebut, warga mulai curiga dengan identitas pelamar.

Baca juga: VIDEO - Heboh! Pemuda Bali Nikahi Gadis Aceh dengan Mahar Fantastis 100 Mayam Emas

Setelah dilakukan pemeriksaan, terungkap bahwa SA dan rekannya sebenarnya adalah perempuan.

Kecurigaan warga semakin kuat setelah melihat perawakan dan sikap keduanya. 

Pemerintah desa kemudian melakukan interogasi dan menghubungi kerabat mereka di Lampung.

Dari hasil konfirmasi, diketahui bahwa SA dan ED bukan pria, melainkan gadis yang menyamar.

Kasus ini pun langsung dilaporkan ke pihak Kepolisian.

Kapolsek Sinjai Borong, AKP Sudriman Mando membenarkan, bahwa kedua pelaku telah diamankan dan kini ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sinjai. 

“Informasi yang kami terima, kasus ini berawal dari perkenalan melalui media sosial,” kata Kapolsek.

“Kami minta masyarakat menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara ini kepada pihak berwenang,” ujarnya.

Fenomena ini menyoroti bagaimana media sosial dapat menjadi pintu masuk hubungan lintas daerah, bahkan memicu tindakan nekat seperti penyamaran identitas. 

Baca juga: Kisah Cinta Pemuda Madura dan Gadis Polandia, Berawal di Bali Berakhir di Pelaminan

Kasus ini juga menimbulkan perdebatan di masyarakat mengenai batasan interaksi daring, kepercayaan antar keluarga, serta dampak sosial dari praktik penyamaran demi cinta.

Kini, SA dan rekannya harus menghadapi proses hukum.

Sementara masyarakat Sinjai masih ramai membicarakan peristiwa yang dianggap sebagai salah satu kasus lamaran paling kontroversial di daerah tersebut.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa interaksi di dunia maya dapat berujung pada konsekuensi nyata yang tidak selalu sesuai harapan.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.