TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, kembali melontarkan peringatan keras terhadap praktik peredaran minuman keras (miras) dan aktivitas yang disebutnya sebagai tempat membawa “perempuan nakal” di wilayah Kota Gorontalo.
Pernyataan itu disampaikan Adhan saat memantau langsung proses pengosongan dan pembongkaran kawasan eks Terminal Andalas, Sabtu (11/4/2026), yang akan dialihfungsikan menjadi lokasi pembangunan kantor wali kota baru.
Di sela peninjauan lapangan, Adhan menegaskan bahwa penertiban kawasan eks Terminal Andalas tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga aktivitas-aktivitas yang selama ini dinilai meresahkan masyarakat.“Selesai pembongkaran akan ditutup. Mereka pindah di tempat lain, apalagi yang membawa perempuan,” kata Adhan dengan nada tegas.
Menurutnya, Pemerintah Kota Gorontalo tidak akan memberi ruang bagi praktik-praktik yang dianggap bertentangan dengan norma agama dan ketertiban sosial.
“Tidak ada tempat praktik-praktik seperti ini di Kota Gorontalo,” ujarnya lagi.
Pernyataan itu menjadi sorotan karena disampaikan bersamaan dengan agenda besar penataan ulang eks Terminal Andalas, kawasan yang selama beberapa tahun terakhir dikenal tidak lagi berfungsi optimal sebagai terminal, dan belakangan disebut-sebut kerap menjadi titik aktivitas liar pada malam hari.
Adhan menilai, pembongkaran kawasan tersebut bukan sekadar penataan infrastruktur kota, melainkan juga bagian dari upaya mengembalikan fungsi ruang publik agar tidak disalahgunakan.
Ia mengaku, setelah pembongkaran kawasan terminal selesai, dirinya akan kembali turun bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk melakukan operasi penertiban lanjutan.
“Sebentar akan saya tertibkan, kita akan turun lagi bersama Satpol PP, miras dan perempuan,” tegasnya.
Sejak kembali memimpin Kota Gorontalo, Adhan dikenal konsisten mengedepankan pendekatan lapangan dalam isu ketertiban umum.
Dalam sejumlah kesempatan sebelumnya, ia beberapa kali memimpin langsung razia terhadap tempat hiburan malam, lokasi penjualan miras ilegal, hingga tempat-tempat yang diduga menjadi lokasi praktik asusila terselubung.
Gaya kepemimpinan seperti ini bukan hal baru bagi politisi Partai Gerindra tersebut.
Dalam berbagai kebijakan, Adhan kerap tampil dengan pendekatan tegas, terutama terhadap isu yang berkaitan dengan moral sosial, ketertiban kota, dan penegakan aturan daerah.
Langkah penertiban miras sendiri menjadi salah satu agenda yang paling sering ia suarakan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Pemkot Gorontalo melalui Satpol PP dan aparat terkait tercatat semakin intensif melakukan pengawasan terhadap distribusi miras, terutama di warung-warung dan lokasi yang tidak memiliki izin resmi.
Tidak hanya itu, sejumlah titik yang dianggap rawan pelanggaran ketertiban umum juga masuk dalam pemetaan pengawasan pemerintah kota.
Kawasan eks Terminal Andalas memang belakangan menjadi perhatian serius Pemkot Gorontalo.
Selain kondisi bangunannya rusak dan terbengkalai, area itu juga disebut warga kerap menjadi lokasi aktivitas yang meresahkan, terutama pada malam hari.
Bangunan tua dengan atap rusak, sudut-sudut gelap, dan minim pengawasan membuat kawasan itu rentan disalahgunakan.
Oleh karena itu, rencana pembangunan kantor wali kota baru di lokasi tersebut dinilai sekaligus menjadi solusi untuk menghidupkan kembali kawasan yang lama mati fungsi.
Dengan dibangunnya pusat pemerintahan baru di bekas terminal itu, pemerintah berharap wajah kawasan Sipatana berubah total: dari area terbengkalai menjadi pusat pelayanan publik yang tertata.
Pernyataan keras Adhan menuai beragam respons dari masyarakat. Sebagian mendukung sikap tegas wali kota, terutama karena persoalan miras dan praktik-praktik terselubung dinilai sudah lama menjadi keresahan warga.
"Pak Adhan ini tegas, saya suka kepemimpinan kota mulai tertata dan terhindar dari maksiat," ungkap Burhanudin salah satu warga ditemui di lokasi.
Namun di sisi lain, masyarakat juga berharap langkah penertiban dilakukan secara konsisten, tidak hanya sebatas operasi sesaat.
Bagi warga, tantangan terbesar bukan hanya menutup satu lokasi, tetapi memastikan aktivitas serupa tidak berpindah ke tempat lain.
"Kalau bisa sampai ke akar-akarnya diperiksa supaya semua aman karena miras ini pintu terjadi masalah," ungkam Maryam Adam, salah satu ibu-ibu sekitar.(*/Jefri)