TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Jakarta belum lama ini dinobatkan sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara, namun aksi premanisme pemalakan masih marak terjadi di Ibu Kota.
Baru-baru ini, sebuah video viral di media sosial aksi pemalakan sekelompok orang terhadap pedagang bakso di Tanah Abang.
Aksi pemalakan itu disertai ancaman dan pengerusakan mangkuk milik pedagang.
Menanggapi hal itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, Jakarta sebagai kota teraman di duni dinilai oleh lembaga internasional.
"Jadi Jakarta ini yang menempatkan kota nomor dua itu bukan Gubernur. Tetapi hasil survei dunia. Maka dengan demikian memang selama ini Jakarta selalu biasanya rangkainya antara 5, 6, 7. Sekarang nomor dua," kata Pramono, Sabtu (11/4/2026).
Terkait kasus pemalakan pedagang bakso di Tanah Abang, Pramono setelah kejadian langsung berkoordinasi Satpol PP untuk mengambil tindakan.
"Pedagang bakso yang dipalak. Dan saya pada saat itu juga langsung menelpon ke kepala dinas satpol pp untuk mengambil tindakan. Dan apa yang memalak yang memecahkan mangkok langsung ditangkap," ucap Pramono.
Menurut Pramono, pelaku pemalakan yang langsung ditangkap dan ditindak petugas merupakan respons cepat.
"Dan ditahan (pelakunya). Itu menunjukkan bahwa kita bereaksi cepat terhadap hal itu," ujar dia.
Menurut dia, Jakarta dengan 11 juta penduduk ditambah mobilitas warga aglomerasi tentu memiliki masalah sosial yang pelik.
"Kota dengan penduduk 11 juta lebih, Kalau dengan aglomerasinya hampir 42 juta. Menurut PBB, tentunya gak mungkin semuanya adem-ayem gak ada apa-apa. Jadi itulah yang ditindak dengan tegas," tuturnya.
Tak lama usai viral, preman kampung yang ngamuk saat memalak uang Rp 100 ribu kepada pedagang bakso di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat langsung ditangkap polisi.
Dalam video yang viral, preman kampung itu nampal menghancurkan mangkok-mangkok bakso lantaran pedagang tak sanggup membayar Rp 100 ribu sebagai uang keamanan bulanan.
Dalam video yang viral, preman kampung itu nampal menghancurkan mangkok-mangkok bakso lantaran pedagang tak sanggup membayar Rp 100 ribu sebagai uang keamanan bulanan.
Adapun peristiwa itu terjadi di Jalan Taman Kebon Sirih, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Kapolsek Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo menjelaskan, berbekal video viral tersebut, pihaknya melakukan penelusuran hingga akhirnya menangkap para preman kampung itu yang berjumlah tiga orang.
"Setelah piket reskrim mengambil keterangan korban dan melakukan koordinasi dengan pak RW, kami membawa tiga pelaku yakni TDT (26), DA (36) dan OP (36)," kata dia saat dikonfirmasi, Jumat (10/4/2026).
Dijelaskan kapolsek, peristiwa terjadi saat para pelaku mendatangi korban yang sedang berjualan bubur.
Saat itu, pelaku meminta Rp 300 ribu sambil mengancam akan menusuk.
Dari tangan pelaku, polisi juga mengamankan senjata tajam.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, ternyata ketiga pelaku positif narkoba.
"Hasil cek urine hasil ketiganya positif metamphetamine," kata Dhimas.