5 Fakta Penemuan Jasad Mahasiswa PNP di Kamar Kos Padang, Tinggalkan Pesan Terakhir di Buku Pink
Arif Ramanda Kurnia April 11, 2026 10:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Seorang mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) ditemukan tak bernyawa dalam posisi tergantung di kamar kosnya, kawasan Jawa Gadut, Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sabtu (11/4/2026) pagi.

Penemuan jasad berinisial FDA (24) ini mengungkap tabir misteri hilangnya kontak korban dengan keluarga selama empat hari terakhir serta adanya wasiat khusus yang ditinggalkan di lokasi kejadian.

Baca juga: Baca Pesan WA Ku, Wasiat Pilu Mahasiswa PNP di Buku Sampul Pink Sebelum Tewas di Kos

Berikut adalah 5 rangkuman fakta lengkap terkait peristiwa memilukan tersebut:

1. Kronologi Penemuan: Berawal dari Firasat Sang Ayah

Peristiwa ini terungkap sekitar pukul 08.20 WIB. Ayah korban menghubungi pemilik kos, Mesi (25), meminta tolong untuk mengecek kondisi anaknya. Hal ini dilakukan lantaran FDA sudah empat hari tidak bisa dihubungi melalui telepon maupun pesan singkat.

Mesi kemudian mendatangi kamar korban yang berada di depan Ampera Rafli. Karena pintu terkunci dari dalam dan tidak ada respon, Mesi menggunakan kunci cadangan untuk masuk. Saat itulah, aroma menyengat langsung menyeruak.

"Ayah korban ini menghubungi saya lewat telepon, meminta mengecek kondisi anaknya karena tidak bisa dihubungi sekira pukul 08:20 WIB pagi tadi," ucapnya.

Usai pihak keluarga mahasiswa tersebut meminta mengecek kondisi FDA, Mesi langsung bergegas ke kamar kost korban.

Saat itu ujar Mesi, kondisi pintu kamar kost dalam keadaan terkunci. Namun beruntung, ia masih memiliki kunci cadangan dan berhasil membukannya.

Mesi lantas terkejut saat melihat korban dalam posisi tergantung di pintu kamar mandi kostnya.

"Saat dibuka, kondisinya sudah tergantung, sekujur badannya membesar dan menghitam," ujarnya.

Kata dia, korban tergantung menggunakan tali tambang berwarna putih dan menggunakan baju berwarna hitam.

Selain badannya membesar dan menghitam, Mesi juga melihat beberapa carian di lantai, persis di bawah kaki korban.

"Ada juga cairan di lantai, tepat di kakinya, baunya menyengat, saya tidak tahu cairan apa," katanya.

2. Ditemukan Buku Wasiat Sampul Pink

Di tengah proses olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), pihak kepolisian dari Polsek Pauh menemukan barang bukti krusial berupa sebuah buku tulis bersampul warna merah muda (pink) setebal 40 halaman.
Pemilik kost, Mesi menyebut mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) yang diduga mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di pintu kamar mandi kamarnya, sempat meninggalkan buku wasiat.

Wasiat tersebut sempat ditemukan pihak kepolisian saat mengevakuasi korban dan mencari barang bukti yang ditinggalkan.

Mesi mengaku sempat melihat buku wasiat tersebut, akan tetapi ia tidak sempat membacannya.

"Kalau wasiat ada, ada tulisan di buku, lumayan tebal bukunya, tapi tidak sempat membaca, hanya melihat. Kata polisi, kalau mau membaca, di Polsek Pauh saja," kata Mesi memberikan kesaksian, Sabtu (11/4/2026).

Setelah mengetahui buku tersebut, TribunPadang.com mendatangi Polsek Pauh yang pindah sementara ke kantor Camat Pauh di Sungai Balang, Cupak Tangah, Kota Padang.

TribunPadang.com juga sudah mengkonfirmasi kepada Kapolsek Pauh, akan tetapi tidak diizinkan untuk mengambil gambar dan membacanya.

Namun, di kantor Polsek Pauh tersebut, terlihat barang bukti yang sudah diamankan pihak berwajib berupa handphone, buku isi 40 dengan sampul berwarna pink, KTP dan lain sebagainya.

Terlihat juga, kepolisian sedang menyelidiki motif korban mengakhiri hidup dengan cara gantung diri tersebut.

Sementara, isi wasiat di buku tersebut sudah tersebar di media sosial. Dalam buku tersebut, korban menulis catatan berupa "Siapapun yang baca buku ini, tolong buka WA, karena ada pesan untuk keluarga, yang aku lakukan ini, dari baca pesan WA ku".

Baca juga: Sosok Mahasiswa PNP yang Tewas di Padang Dikenal Pendiam, Sempat Hilang Kontak 4 Hari

3. Kesaksian Warga: Terakhir Terlihat Sepekan Lalu

Mahasiswa PNP ditemukan meninggal dunia usai diduga mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di kamar kostnya, terakhir terlihat sekitar seminggu lalu oleh masyarakat.

Pernyataan ini disampaikan sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian, kawasan Jawa Gadut, Kelurahan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

Masyarakat, Rita Nengsih (47) mengatakan bahwa terakhir kali ia bertemu korban sekitar satu minggu yang lalu. 

Ketika itu kata Rita, korban berbelanja minuman di warung miliknya yang berada di samping kost korban.

"Terakhir saya melihat dia seminggu lalu, ia membeli minuman di sini," ucapnya saat memberikan keterangan kepada TribunPadang.com, Sabtu (11/4/2026).

Namun setelah pertemuan itu, Rita tak pernah lagi melihat keberadaan korban di sekitar kost maupun berbelanja di warungnya.

Biasanya ujar Rita, hampir setiap hari korban selalu datang ke warungnya untuk berbelanja, mulai dari mie instan, minuman dan lain sebagainya.

"Tidak pernah lagi terlihat, seminggu terakhir itulah ketika di kedai ini melihatnya," tuturnya.

Senada, warga lainnya bernama Febi Febrianti menyebut bahwa korban memang jarang terlihat dalam waktu terakhir sebelum ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri.

Ia juga mengaku terakhir kali melihat korban sekitar satu minggu lalu. Saat itu korban berbelanja gorengan di warung milik Rita.

"Sekitar satu minggu lalu melihat korban, saat itu dia belanja gorengan. Setelahnya tak pernah melihat lagi, barulah tahu ternyata sudah meninggal dunia," katanya.

4. Bukan Warga Dharmasraya

Sempat beredar kabar di media sosial bahwa korban berasal dari Dharmasraya, namun dipastikan korban berasal dari Solok Selatan (Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir).
Kabar meninggalnya seorang mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) dalam kondisi gantung diri di kamar kosnya kawasan Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, sempat menimbulkan kebingungan terkait identitas asal korban.

Di media sosial, dan laporan polisi awal korban disebut-sebut berasal dari Kabupaten Dharmasraya. 

Namun informasi tersebut dipastikan tidak benar oleh pihak keluarga dan kerabat dekat korban.

Korban diketahui berinisial FDA, mahasiswa aktif semester 6 di PNP.

Salah seorang teman korban, Bima Adistia (21), mengaku awalnya juga mengetahui kabar tersebut dari media sosial dan sempat terkejut melihat informasi yang beredar.

“Kami tahu dari media sosial. Di sana disebut korban dari Dharmasraya, tapi itu tidak benar,” ujarnya saat ditemui TribunPadang.com di RS Bhayangkara Padang, Sabtu (11/4/2026).

Bima yang merupakan tetangga korban di kampung halaman menegaskan, Febrintino berasal dari Jorong Pincuran Tujuh, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan.

“Dia bukan orang Dharmasraya, tapi dari Solok Selatan. Kami tahu karena kami satu kampung,” katanya.

Menurutnya, kabar yang beredar di media sosial dikenali dari foto dan video yang memperlihatkan sosok korban, sehingga keluarga dan warga kampung memastikan identitas tersebut.

“Dari foto dan video itu kami langsung tahu, karena kenal wajah dan badannya,” ujarnya.

5. Suasana Haru di RS Bhayangkara

Keluarga mahasiswa Politeknik Negeri Padang (PNP) berinisial FDA yang ditemukan meninggal dunia diduga gantung diri di kamar kosnya, mendatangi RS Bhayangkara Padang, Sabtu (11/4/2026).

Pantauan TribunPadang.com, keluarga korban tiba sekitar pukul 16.40 WIB. Terlihat ayah, kakak, serta kakak ipar korban hadir di rumah sakit. Selain itu, sejumlah kerabat dan teman korban juga tampak datang untuk memberikan dukungan.

Suasana duka menyelimuti keluarga korban. Beberapa kerabat terlihat berupaya menenangkan ayah dan kakak korban. Sementara itu, teman-teman korban turut menyampaikan belasungkawa kepada pihak keluarga.

Hingga pukul 18.15 WIB, jenazah korban masih berada di RS Bhayangkara Padang.

Sosok FDA sendiri dikenal sebagai pribadi pendiam oleh teman-temannya. Hal itu disampaikan oleh Bima Adistia (21), teman sekaligus tetangga korban di kampung halaman.

Bima menyebut, korban berasal dari Jorong Pincuran Tujuh, Nagari Lubuk Gadang, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan.

“Setahu saya dia orangnya pendiam,” ujarnya saat ditemui di RS Bhayangkara Padang.

Menurut Bima, dalam kesehariannya di kampung, korban dikenal sederhana dan kerap membantu orang tuanya berjualan.

“Kalau di kampung, dia bantu orang tuanya berjualan di grosir. Kebetulan orang tuanya punya usaha grosir,” katanya.

Ia mengaku terkejut saat mengetahui kabar duka tersebut. Informasi itu pertama kali ia dapatkan dari media sosial.

“Kami tahu dari media sosial, dari foto dan video yang beredar. Dari situ kami langsung tahu itu dia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bima mengatakan keluarga korban sempat kehilangan kontak dengan korban beberapa hari sebelum ditemukan meninggal dunia.

“Dari keluarga, sudah sekitar empat hari tidak ada kabar,” katanya.

Saat ini, pihak keluarga berada di Padang untuk mengurus administrasi sebelum jenazah dibawa pulang ke kampung halaman di Solok Selatan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.