Pengemudi Taksi Online vs Jukir Surabaya: Korban Mengaku Dicekik
Cak Sur April 12, 2026 01:32 AM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Sebuah video amatir yang merekam aksi cekcok antara pengemudi taksi online dan juru parkir viral di media sosial (medsos). Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Jalan Kusuma Bangsa, Ketabang, Genteng, Surabaya, Sabtu (11/4/2026) siang.

Video direkam langsung oleh korban dari dalam kabin kemudi mobil miliknya.

Lawan bicaranya adalah seorang juru parkir yang mengenakan kaus oblong hijau, rompi cokelat dan topi cokelat. Pria tersebut berdiri tepat di sisi kiri pintu depan mobil korban.

Pada awal rekaman, juru parkir tersebut terlihat berusaha melayangkan tangan ke arah korban. Hal ini dipicu karena korban berusaha merekam momen adu mulut tersebut.

Korban berinisial NI mengaku mendapatkan perlakuan kasar berupa pencekikan pada bagian leher. Insiden itu terjadi, saat ia sedang berhenti untuk menurunkan paket makanan katering pesanan pelanggan.

Kejadian ini disaksikan oleh beberapa orang yang berada di sekitar lokasi. Korban berencana melaporkan insiden ini ke kepolisian setelah mengumpulkan bukti rekaman CCTV tambahan.

"Iya saya dicekik juga," ujarnya saat dihubungi SURYA.co.id.

Kronologi Versi Korban dan Pemicu Cekcok

Kejadian bermula saat NI sedang mengirim paket makanan katering di sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel). Setibanya di depan kantor tersebut, ia didatangi pria yang mengaku sebagai juru parkir penguasa area tersebut.

Berikut adalah poin-poin penting terkait kronologi kejadian tersebut:

  • Korban berhenti tepat di depan kantor lembaga bimbingan belajar untuk mengirim katering.
  • Juru parkir datang dan marah-marah menyuruh korban memajukan mobilnya.
  • Juru parkir mengklaim menguasai wilayah tersebut dan menuntut semua orang menuruti perintahnya.
  • Korban merekam video sebagai antisipasi terhadap tindakan kekerasan fisik.
  • Juru parkir berusaha merampas ponsel korban saat menyadari dirinya direkam.

"Saya datang untuk kirim catering di kantor (bimbel) tepat parkir di depan tempat itu. Tiba-tiba ada orang datang marah-marah menyuruh (mobil) saya maju dengan bilang dia menguasai wilayah ini dan semua yang mau parkir harus nurut apa perintahnya," ucap NI menjelaskan awal mula kejadian.

NI merasa tidak nyaman karena nada bicara juru parkir tersebut sangat tinggi. Karena merasa terancam, ia berinisiatif mengambil rekaman video menggunakan ponselnya.

"Saya kaget karena dia datang marah-marah, akhirnya saya video dan kemarahannya makin menjadi mau merampas hp," ungkapnya.

Percekcokan sempat mereda sesaat ketika petugas keamanan atau satpam setempat datang. Korban bahkan sempat membayar uang parkir dan memindahkan mobil sesuai arahan juru parkir tersebut.

Namun, saat korban sedang menurunkan barang katering, juru parkir tersebut sekonyong-konyong mencekik lehernya. Tindakan ini dilakukan sambil terus melontarkan kemarahan kepada korban.

"Di saat saya menurunkan catering tiba-tiba tukang parkir tersebut mencekik leher saya sambil marah-marah. Bukti mencekik masih saya mintakan rekaman CCTV ( di lembaga bimbel) katanya mau dibantu," terang NI.

Rekaman Video dan Upaya Laporan Polisi

Dalam video terdengar dialog sengit di antara keduanya.

"Sampean nyentak mas," kata korban dalam rekaman tersebut.

"Bukan nyentak, sampean itu saya atur enggak mau," jawab juru parkir tersebut berulang kali sambil terlihat seperti melayangkan pukulan.

Korban tidak tinggal diam dan terus mempertanyakan alasan pengaturan parkir yang kasar tersebut. Di lokasi, terlihat pula seorang pengemudi ojek online yang berusaha meredam emosi sang juru parkir.

"Wes pak sampun pak," kata pria beratribut ojek online tersebut mencoba menengahi.

Namun, juru parkir itu enggan mengalah dan justru ikut mengeluarkan ponsel untuk merekam balik korban. Tak lama kemudian, petugas keamanan dari lembaga bimbel datang menanyakan tujuan korban.

"Saya mau parkir sini, mau kirim katering. Saya mau parkir sini kirim katering, saya mundur ke sini, malah marah-marah. HP saya mau dirampas," jelas korban kepada petugas keamanan.

Juru parkir tersebut sempat menuduh korban sebagai orang yang sulit diatur atau disebut dengan istilah "mokong". Perdebatan mengenai aturan di tempat umum pun sempat terjadi di antara mereka.

"Lho ini tempat umum, gak ada yang melarang, UU tahun berapa yang melarang tempat umum video," tegas korban saat juru parkir mempertanyakan alasan dirinya direkam.

Saat ini, korban NI sedang berupaya melaporkan kejadian ini ke kantor polisi setempat. Ia masih mengumpulkan bukti kuat, termasuk rekaman CCTV dari kantor bimbel dan kesaksian dari orang-orang di lokasi.

"Ada bukti video waktu mau merampas HP dan yang waktu mencekik leher saya disaksikan oleh orang, security dan satu pegawai ruang guru dan bapak tukang ojol di tempat kejadian," pungkas NI.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.