Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui
Dion DB Putra April 12, 2026 09:38 AM

Oleh: Redegundis Kesa
Mahasiswi Fakultas FIlsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh konflik, ketidakadilan, dan kehilangan makna, pesan “Dunia Membutuhkan Kerahiman Ilahi” bukan sekadar seruan devosional melainkan panggilan eksistensial yang menyentuh inti dari kondisi manusia. 

Melalui wahyu pribadi yang diterima oleh Santa Faustina Kowalska pada tahun 1931, Yesus Kristus tidak hanya menawarkan penghiburan bagi jiwa-jiwa yang Lelah, tetapi juga membuka jalan transformasi radikal. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 12 April 2026: Damai yang Lahir Dari Kerahiman Allah

Perubahan pikiran, hati, dan orientasi hidup agar kembali kepada damai dan kasih dalam kehidupan bersama. 

Dalam terang iman Katolik, kerahiman Allah bukanlah konsep abstrak atau emosi belaka.

Kerahiman ilahi adalah realitas ilahi yang menjadi fondasi keselamatan, sumber harapan, dan dorongan moral bagi setiap orang beriman.

Sinar dari Hati Yang Tersiksa: Simbol Pengharapan di Tengah Dunia

Gambar Yesus Kerahiman Ilahi dengan sinar putih dan merah yang memancar dari Hati-Nya bukan sekadar representasi artistik, melainkan simbol teologis yang kaya akan makna. 

Sinar putih melambangkan air, yaitu karya Roh Kudus yang membersihkan, menguduskan, dan memberi peneguhan batin. 

Sinar merah melambangkan darah, yaitu karya Yesus Kristus yang memberikan kehidupan baru melalui pengorbanan salib. 

Kedua sinar ini mengalir dari lambung Yesus, tempat di mana menurut tradisi Gereja, air dan darah keluar saat sisi-Nya ditusuk tombak (Yohanes 19:34). 

Ini adalah gambaran nyata dari sakramen-sakramen Gereja: Baptis dan Ekaristi, yang merupakan saluran rahmat utama bagi umat beriman. 

Dengan demikian, devosi Kerahiman Ilahi bukanlah praktik mistis yang terpisah dari kehidupan gerejawi, melainkan penguatan atas keyakinan bahwa rahmat Allah terus bekerja secara konkret melalui tanda-tanda suci yang diberikan Gereja.

Yesus meminta agar gambar ini diberkati secara mulia pada hari Minggu pertama sesudah Paskah hari yang kemudian ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 2000 sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. 

Pemilihan waktu ini sangat signifikan. Paskah adalah puncak perayaan iman Kristen: kemenangan atas dosa dan maut, kebangkitan yang membawa harapan baru. Maka, kerahiman adalah buah langsung dari kebangkitan. 

Kita tidak bisa merayakan kebangkitan tanpa menerima dan membagikan kerahiman. 

Kebangkitan Kristus bukan hanya peristiwa historis, tapi juga peristiwa ontologis  ia mengubah status manusia dari hamba dosa menjadi anak-anak Allah yang diperdamaikan. 

Dan dalam proses itu, kerahiman adalah jembatan antara keadilan ilahi dan kelemahan manusiawi.

Menjadi Wajah Kerahiman bagi Sesama

Namun, di sinilah letak tantangan terbesar bagi umat beriman masa kini: apakah kita benar-benar membiarkan kerahiman Ilahi mengubah hidup kita? 

Ataukah kita hanya menjadikannya objek devosi pribadi tanpa dampak nyata dalam relasi sosial? 

Pesan Yesus kepada Santa Faustina jelas: kerahiman harus mengarahkan kita pada upaya menegakkan damai dan kasih dalam kehidupan bersama. 

Artinya, kerahiman bukan hanya tentang menerima pengampunan, tapi juga tentang menjadi alat perdamaian, keadilan, dan belas kasihan bagi mereka yang terluka oleh kekerasan, kemiskinan, atau penolakan.

Dalam surat apostolik Misericordiae Vultus, Paus Fransiskus menegaskan bahwa “kerahiman adalah nama lain dari cinta Tuhan.” Dan cinta, dalam iman Katolik, selalu bersifat aktif, konkret, dan transformatif. 

Cinta bukan perasaan pasif, melainkan keputusan untuk bertindak demi kebaikan orang lain, bahkan ketika itu menuntut pengorbanan. 

Demikian pula kerahiman: ia bukan sekadar sikap toleransi atau pembiaran terhadap dosa, melainkan kekuatan yang mampu mengubah hati, memperbaiki hubungan, dan membangun peradaban baru berdasarkan nilai-nilai Injil.

Kita sering kali memahami kerahiman sebagai sesuatu yang diberikan kepada orang lain kepada pendosa, kepada musuh, kepada mereka yang tersingkir. 

Namun, Yesus mengajarkan bahwa kerahiman juga perlu diberikan kepada diri sendiri. 

Banyak orang hidup dalam belenggu rasa bersalah, malu, dan penghukuman diri yang berlebihan. 

Mereka sulit menerima bahwa Allah sudah mengampuni mereka, karena mereka sendiri belum mau mengampuni diri sendiri. 

Di sinilah devosi Kerahiman Ilahi menjadi obat bagi jiwa yang terluka: ia mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah lelah mengampuni, dan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada dosa-dosa kita. 

Seperti dikatakan dalam kitab Mazmur: “Sebab setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya terhadap orang-orang yang takut akan Dia” (Mazmur 103:11). 

Lebih jauh, kerahiman Ilahi juga mengajak kita untuk melihat dunia dengan mata yang berbeda. 

Dunia yang sering kali dipenuhi oleh penghakiman, prasangka, dan kebencian, diubah oleh kerahiman menjadi ruang pertemuan, rekonsiliasi, dan pemulihan. 

Ketika kita memilih untuk memaafkan, untuk mendengarkan, untuk membantu tanpa pamrih, kita sedang menjadi wajah kerahiman Allah di tengah dunia.
Devosi Kerahiman Ilahi juga memiliki dimensi eskatologis. 

Ia mengingatkan kita bahwa akhir dari segala sesuatu bukanlah hukuman, melainkan kasih. Meskipun ada realitas dosa dan akibatnya, Allah tetap ingin menyelamatkan semua orang. 

Doa-doa yang diajarkan dalam devosi ini seperti “Ya Darah dan Air yang mengalir dari Hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami dan seluruh dunia, aku percaya pada-Mu” bukan hanya ungkapan iman pribadi, tapi juga doa universal yang mencakup seluruh umat manusia. 

Ini menunjukkan bahwa kerahiman Allah tidak terbatas pada kelompok tertentu, melainkan tersedia bagi semua orang yang membuka hati bagi-Nya. 

Di tengah budaya modern yang sering kali menekankan individualisme, kompetisi, dan pencapaian materiil, pesan Kerahiman Ilahi menjadi kontra-budaya yang menyegarkan. 

Ia mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenungkan siapa kita di hadapan Allah, dan bertanya: Apakah hidupku sudah menjadi cerminan kerahiman-Nya? Apakah aku telah menjadi saluran berkat bagi orang lain? 

Apakah aku berani memaafkan meskipun sakit? Apakah aku siap melayani tanpa mengharapkan balasan? 

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menimbulkan rasa bersalah, tapi untuk membangkitkan kesadaran akan panggilan luhur yang kita terima dalam baptis: menjadi garam dan terang dunia, menjadi agen perubahan yang membawa damai dan kasih. 

Kerahiman Ilahi bukan tujuan akhir, melainkan jalan menuju kesempurnaan kasih. 

Kerahiman ilahi adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual yang panjang, di mana kita belajar untuk tidak hanya menerima kasih Allah, tetapi juga membagikannya kepada sesama.

Akhirnya, mari kita renungkan kembali pesan utama dari devosi ini: “Dunia membutuhkan kerahiman Ilahi.” 

Ya, dunia memang membutuhkannya bukan karena dunia sudah putus asa, tapi karena dunia masih punya harapan. 

Harapan itu bernama Yesus Kristus, yang dari Hati-Nya mengalir air dan darah, yang dari kasih-Nya lahir kerahiman yang tak terbatas. 

Mari kita jadikan kerahiman bukan hanya tema liturgis sekali setahun, melainkan gaya hidup sehari-hari. 

Mari kita hidup dalam kerahiman, berbicara dalam kerahiman, bertindak dalam kerahiman sehingga dunia dapat melihat wajah Allah melalui hidup kita. 

Karena pada akhirnya, kerahiman bukan hanya apa yang Allah berikan kepada kita tapi juga apa yang kita berikan kepada dunia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.