TRIBUNKALTIM.CO - Pemerintah Iran pada Minggu dini hari WIB (12/4/2026) mengumumkan bahwa perundingan dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang enam minggu terakhir dihentikan sementara.
Pertemuan berlangsung di Islamabad, Pakistan, dan menjadi tatap muka pertama kedua negara dalam lebih dari satu dekade.
Pertemuan ini juga disebut sebagai diskusi tingkat tinggi paling signifikan sejak Revolusi Islam 1979, yakni peristiwa yang mengubah sistem pemerintahan Iran dari monarki menjadi republik Islam.
Baca juga: Soal Nasib Kapal Pertamina yang Tertahan di Selat Hormuz, Dubes Iran: Situasi Masih Sangat Berbahaya
Negosiasi selama 14 jam itu menghasilkan kesepakatan untuk bertukar dokumen teknis, meski sejumlah perbedaan masih tersisa.
Pemerintah Iran menegaskan pembicaraan akan dilanjutkan di Pakistan setelah jeda singkat.
Hasil dari negosiasi ini berpotensi menentukan nasib gencatan senjata rapuh yang baru berjalan dua minggu, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Jalur yang melayani sekitar 20 persen pasokan energi global tersebut telah diblokir oleh Iran sejak perang dimulai, yang memicu lonjakan tajam harga minyak dunia.
Melalui sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), Pemerintah Iran menyebutkan bahwa setelah 14 jam, pembicaraan diselesaikan dan para ahli teknis dari kedua belah pihak akan bertukar dokumen.
"Negosiasi akan terus berlanjut terlepas dari beberapa perbedaan yang masih ada," tambah unggahan tersebut.
Baca juga: Israel Tolak Gencatan Senjata dengan Hizbullah, Perundingan AS-Iran Terancam Alot
Pihak Iran sendiri tak merinci kapan diskusi akan dimulai kembali di Pakistan.
Namun, pemerintah Iran mengatakan pembicaraan akan diteruskan kembali di Pakistan setelah rehat pada hari Minggu.
"Atas usulan Pakistan dan dengan persetujuan dari tim negosiasi Iran dan AS, pembicaraan yang dimediasi oleh Pakistan akan dilanjutkan ke putaran berikutnya setelah jeda pada hari Minggu." tulis pihak pemerintah Iran.
Berdasarkan sumber dari pihak mediator Pakistan, Wakil Presiden AS JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner menjadi perwakilan Negeri Paman Sam dalam pertemuan tersebut.
Sementara itu, Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Disebut Masih dalam Pemulihan, tapi Pemimpin Tertinggi Iran Tetap Ikut Rapat
Mereka berdiskusi selama dua jam sebelum beristirahat.
Hingga saat ini, pemerintahan Trump belum memberikan komentar resmi mengenai penyelesaian negosiasi maupun perbedaan pendapat yang tersisa.
Delegasi Iran sendiri tiba pada hari Jumat (10/4/2026) dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai bentuk duka cita atas meninggalnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan para korban perang lainnya.
Pemerintah Iran menuturkan bahwa para delegasi juga membawa sepatu serta tas milik sejumlah siswa yang tewas dalam pengeboman AS terhadap sebuah sekolah di dekat kompleks militer.
Pentagon menyatakan serangan tersebut masih diselidiki, namun pihak Reuters melaporkan bahwa penyelidik militer meyakini AS kemungkinan besar bertanggung jawab.
"Ada perubahan suasana hati dari kedua belah pihak dan suhu naik turun selama pertemuan," ungkap sumber lain dari Pakistan merujuk pada putaran pertama perundingan.
Menjelang dimulainya pembicaraan, militer AS menyatakan pihaknya sedang "mengatur kondisi" untuk mulai membersihkan Selat Hormuz.
Washington juga menyebut bahwa dua kapal tempur mereka sudah melintasi jalur tersebut dalam misi pembersihan ranjau laut, sebuah klaim yang langsung dibantah keras oleh media resmi Iran.
Di sisi lain, menjelang dialog, seorang tokoh senior Iran sempat menyatakan bahwa pihak AS telah bersepakat untuk mencairkan aset milik Teheran yang ditahan di Qatar maupun lembaga perbankan asing lainnya.
Namun, pernyataan ini dengan cepat ditepis oleh perwakilan AS.
Di luar urusan pengembalian aset, otoritas dan televisi negara Iran menyampaikan deretan tuntutan lain.
Teheran mendesak diberikannya kendali mutlak sekaligus wewenang untuk menarik tarif transit di Selat Hormuz, pencairan ganti rugi perang, serta pemberlakuan gencatan senjata secara menyeluruh di tingkat regional, termasuk di Lebanon.
Sementara itu di pihak AS, target Presiden Trump dilaporkan telah bergeser.
Sebagai syarat minimum, AS menuntut kebebasan navigasi bagi pelayaran global melalui selat tersebut dan pelumpuhan total program pengayaan nuklir Iran untuk memastikan negara itu tidak dapat memproduksi bom atom.
Di tengah upaya diplomasi ini, sejumlah narasumber Reuters di lokasi menilai rasa ketidakpercayaan antara kedua belah pihak dilaporkan masih sangat tinggi. (*)