BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN-Pasar Subuh di Jl. Brigjen Katamso masih menjadi magnet bagi para pencinta barang thrifting, meski impor barang bekas telah resmi dilarang. Sejak pagi, suasana pasar tampak ramai. Minggu pagi (12/4/2026).
Dari gerbang masuk, pengunjung langsung disambut deretan sepatu, celana, jaket, hingga pakaian bermerek yang ditata rapi di lapak-lapak pedagang.
Namun di balik keramaian itu, para pedagang thrifting mengaku kesulitan menambah stok. Banyak lapak kini hanya menjual sisa barang lama.
“Stoknya kadada lagi, karena di pelabuhan sudah dilarang. Jadi yang ada ini saja dijual,” ujar Ahmad, pedagang sepatu thrifting di lokasi.
Meski demikian, pengunjung tetap antusias berburu pakaian bekas berkualitas dengan harga jauh lebih murah dibandingkan barang baru. Mereka tampak teliti memeriksa merek dan kondisi barang sebelum bertransaksi.
Baca juga: Tiket ke Banjarmasin Tersedia Pertengahan April, Begini Daftar Harganya
Baca juga: Kejar Pencuri, Pemuda 22 Tahun Dibacok dengan Parang Hingga Terluka, Pelaku Langsung Menghilang
Beberapa pedagang mengaku masih bisa mendapatkan tambahan stok, bukan dari pelabuhan, melainkan melalui pengepul.
“Ada masuk lagi, tapi bukan dari pelabuhan. Kami ambilnya dari pengepul,” kata Muh Abdul Haq, pedagang pakaian thrifting.
Namun, harga barang dari pengepul disebut mengalami kenaikan signifikan. Abdul Haq mencontohkan, harga satu bal pakaian yang sebelumnya Rp7,4 juta kini melonjak menjadi Rp9,2 juta.
“Kencang banar naiknya. Jadi kami juga terpaksa menaikkan harga jual,” ujar Abdul Haq
Pedagang menduga stok yang beredar dari pengepul merupakan barang lama yang sebelumnya tersimpan di gudang. Situasi larangan impor diduga membuat pengepul memanfaatkan kondisi dengan menaikkan harga.
“Kemungkinan barang lawas juga, lalu dinaikkan harganya. Karena di pelabuhan memang kadada lagi,” tambah Abdul Haq.
Baca juga: Polisi Beber Kronologi Kecelakaan Maut di Bawahan Selan Astambul Banjar, Libatkan 3 Kendaraan
Fenomena thrifting di Pasar Subuh sendiri tidak terbatas pada satu segmen usia. Pelajar, mahasiswa, hingga pekerja muda tetap menjadi pembeli setia. Permintaan yang relatif stabil membuat bisnis pakaian bekas ini tetap bertahan, meski tantangan stok dan harga semakin terasa.
"Barang-barangnya lebih bagus dari produk lokal dengan harga baru," ujar Tamami pecinta Trifting yang mengaku gemar mengunjungi Pasar Shubuh.
(Banjarmasinpost.co.id/Saifurrahman)