TRIBUNBANYUMAS.COM, ISLAMABAD – Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, resmi diperpanjang hingga hari kedua, Minggu (12/4/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Hotel Serena ini menjadi komunikasi langsung paling signifikan antara kedua negara sejak Revolusi Islam 1979, demi mengakhiri perang yang telah berkecamuk selama enam minggu terakhir.
Delegasi kedua pihak dikabarkan telah saling bertukar dokumen, sebuah langkah yang memberikan sinyal positif mengenai adanya kesepakatan kerangka kerja yang lebih luas.
Fokus utama perundingan ini adalah menentukan nasib gencatan senjata selama dua minggu serta rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia.
"Negosiasi akan berlanjut meskipun masih ada beberapa perbedaan," demikian pernyataan resmi pemerintah Iran, Minggu (12/4/2026).
Pertemuan bersejarah ini melibatkan tokoh-tokoh kunci dari kedua negara. Delegasi AS dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Baca juga: Modus Korupsi di Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Peras Kepala OPD Pakai Surat Resign Tanpa Tanggal
Sementara itu, pihak Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
Meski diskusi ahli telah berlangsung selama lebih dari 15 jam, kedua belah pihak memutuskan untuk mengambil jeda singkat menjelang fajar sebelum melanjutkan pembahasan detail teknis.
Pertemuan ini menandai pertama kalinya pejabat tinggi kedua negara duduk dalam satu meja dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Namun, kehadiran tokoh-tokoh senior di meja perundingan menunjukkan keseriusan kedua negara dalam mencari solusi diplomatik di tengah ketegangan yang membayangi kawasan. (m zaenuddin/kps)
Baca juga: Mojtaba Khamenei Klaim Kemenangan Iran, Ancam Perketat Kendali Selat Hormuz