Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Calvin Louis Erari
TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Upaya pemulihan stabilitas keamanan di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, pasca-insiden kericuhan yang menewaska 5 orang warga sipil akibat tertembak peluru aparat pada akhir Maret 2026, kini menjadi prioritas utama.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol. Jermias Rontini melakukan kunjungan kerja langsung ke wilayah tersebut guna memastikan situasi tetap kondusif dan masyarakat dapat kembali beraktivitas tanpa rasa takut.
Setibanya di lokasi, Brigjen Pol. Jermias menggelar rapat terbuka yang melibatkan Bupati Dogiyai, Yudas Tebay dan jajaran pemerintah kabupaten, serta perwakilan DPR Dogiyai, maupun tokoh masyarakat dan pemuda.
Pertemuan ini bertujuan untuk membuka ruang dialog, memperkuat komunikasi, dan mencari solusi konkret guna meredam ketegangan di tengah masyarakat.
Baca juga: Dari Tugu Yamagata ke Pasar Mararena, Bupati Sarmi dan Warga Jalan Sehat Menyongsong Usia 24
Brigjen Pol. Jeremias mengatakan, kehadiran polisi untuk menjamin rasa aman bagi seluruh warga.
Dia memberikan kabar baik terkait kondisi terkini di lapangan yang menunjukkan tren positif.
“Kita ingin situasi keamanan di Dogiyai segera dipulihkan agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal. Tadi saya melihat langsung arus barang dan BBM sudah berjalan lancar menuju kabupaten lain tanpa gangguan. Saya berharap situasi yang baik ini dapat terus kita rawat bersama,” kata Brigjen Pol. Jermias dalam rilis pers Polda Papua Tengah yang diperoleh Tribun-Papua.com, Sabtu, (11/4/2026).
Jeremias menjamin penyelidikan terhadap peristiwa penembakan yang diduga dilakukan oleh polisi, akan dilakukan secara profesional dan transparan.
Dia meminta masyarakat untuk tidak ragu memberikan informasi demi mempercepat pengungkapan kasus.
“Kami hadir untuk memastikan proses hukum berjalan cepat, tepat, dan transparan. Informasi sekecil apa pun dari warga sangat berarti bagi kami untuk mengungkap kasus ini secara tuntas,” ujarnya.
Sementara Bupati Dogiyai, Yudas Tebay mengatakan, dukungan penuh terhadap langkah polisi dalam mengungkap kasus Dogiyai berdarah tersebut.
Baca juga: Setiap Detik Berharga, IDI Papua Pertajam Respons Code Blue di Rumah Sakit
Dia menekankan pentingnya keadilan yang menyeluruh bagi semua pihak, baik bagi aparat yang gugur maupun warga sipil yang terdampak.
Yudas berharap pengungkapan kasus dilakukan secara adil, termasuk mengusut tuntas peristiwa yang menewaskan Bripda Juventus Edoway serta lima warga sipil lainnya.
Menurut dia, kejujuran dalam kronologi kejadian adalah kunci untuk menghindari spekulasi liar di masyarakat.
“Kami mempercayakan sepenuhnya proses hukum kepada polisi. Begitu pelakunya ditemukan, harus ditahan dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku demi rasa keadilan keluarga korban,” ujarnya.
Peristiwa Dogiyai ini terjadi pada 31 Maret 2026. Saat itu sekelompok polisi melakukan patroli lalu menemukan satu anggota polisi tewas di depan Gereja Ebenhaezer (GKI) yang berlokasi di Jalan Trans Papua Km.200, Moanemani, Distrik Kamuu, Selasa (31/3/2026), pagi, sekitar pukul 08.22 WIT.
Baca juga: Pemkab Sarmi Tetapkan CFD Jadi Nafas Baru Ekonomi Mama Papua
Jenazah polisi berinisial JE ini kemudian dilarikan RS untuk autopsi, guna mencari tahu penyebab pasti kematian korban. Namun berdasarkan keterangan sementara, ditemukan luka-luka serius pada tubuh korban.
Akibat meninggalnya Bripda JE, personel kepolisian diduga emosi dan tanpa melakukan olah TKP terlebih dahulu, langsung mencari pelaku dengan melakukan operasi penyisiran. Mereka mengeluarkan tembakan ke arah warga sipil hingga masuk ke rumah-rumah.
Luapan emosi aparat melalui operasi penyisiran balas dendam mengakibatkan jatuhnya korban warga sipil sebanyak delapan orang. Lima orang diantaranya tewas di tempat dan lainnya luka kritis sehingga harus dirawat karena terkena peluru yang diduga kuat milik aparat.
Baca juga: Warna Baru Honda Stylo 160 Burgundy Makin Retro
Berikut idenitas korban yang berhasil dirangkum Tribun-Papua.com :
1. Siprianus Tibakoto (25 tahun) tertembak di kepala sehingga tewas di tempat.
2. Yulita (Ester) Pigai (80 tahun), wanita Lansia yang menderita lumpuh sejak lama, dilaporkan tewas di tembak di dalam rumahnya.
3. Martinus Yobe (14 tahun) anak di bawah umur, ditembak di bagian perut sehingga mengeluarkan usunya dan tewas di tempat.
4. Ankian Edowai (19 tahun), tertembak di bagian kepala sehingga tewas di tempat.
5. Feri Auwe (20 tahun) juga terkena tembakan sehingga tewas di tempat.
6. Kikibi Pigai (20 tahun) ditembak di bagian paha sehingga mengalami luka kritis dan sedang dirawat.
7. Maikel Waine (12 tahun) anak di bawah umur yang ditembak di dada kiri tembus bahu kiri sehingga mengalami luka kritis dan sedang dirawat.
8. Yafet Tibakoto belum dikonfirmasi kondisi terakhir.(*)