Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Fokus utama para petani di Kampung Sidomulyo, Kecamatan Punggur, Lampung Tengah, bukanlah ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino 'Godzilla' yang ramai diperbincangkan, melainkan serangan hama yang berpotensi merusak hasil panen.
El Niño Godzilla adalah istilah populer (bukan istilah ilmiah resmi) yang digunakan oleh media dan para peneliti iklim untuk menggambarkan fenomena El Niño yang sangat kuat atau ekstrem.
Menurut Wanto, seorang petani setempat, hama sundep pada awal tanam dan tikus menjelang panen menjadi perhatian serius yang harus diwaspadai.
"Jika irigasinya lancar, ancaman utama yang tetap diwaspadai bukanlah kekeringan, tapi serangan hama, terutama hama sundep dan tikus," ungkap Wanto, Sabtu (11/4/2026).
Meskipun Lampung diprediksi akan mengalami musim kemarau panjang, para petani di Sidomulyo masih merasakan dampak yang relatif minim.
Mereka tengah memasuki fase krusial dalam Musim Tanam 2 (MT2) dan kondisi lahan yang masih cukup baik, serta pasokan air yang melimpah, memberikan optimisme.
"Cuaca di Sidomulyo dalam beberapa pekan terakhir masih didominasi hujan ringan hingga sedang, yang membantu menjaga kelembaban tanah. Sejauh ini, kami belum merasakan tanda-tanda kekeringan," tambah Wanto.
Irigasi menjadi kunci utama untuk menjaga kestabilan air di sawah.
Sistem pengairan yang terkelola dengan baik, seperti yang ada di daerah ini, mendukung petani dalam menjaga tanaman meskipun cuaca mulai menunjukkan tanda-tanda kemarau.
Beberapa sumber air penting di daerah ini, seperti Sistem Sungai Way Sekampung dan Daerah Irigasi Punggur Utara, memainkan peran besar dalam menjaga distribusi air yang optimal.
Namun, meski irigasi lancar, Wanto mengingatkan bahwa masalah hama bisa berpotensi merusak hasil panen.
Pengendalian hama dilakukan dengan aktif melalui penggunaan racun tikus dan metode gropyokan yang dilakukan bersama oleh para petani.
Di sisi lain, bila pasokan air mulai menipis, mereka sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi seperti penggunaan pompa air alkon, meskipun ini membutuhkan biaya tambahan untuk bahan bakar.
"Kami terus mengikuti pola tanam yang ditentukan pemerintah, yang disesuaikan dengan distribusi irigasi dan musim kemarau yang diperkirakan," jelasnya.
Meski tantangan hama dan potensi kekeringan tetap menjadi perhatian, Wanto tetap optimistis bahwa dengan dukungan irigasi yang baik dan bantuan dari dinas pertanian, petani Sidomulyo dapat melewati musim tanam dengan baik.
"Kami berharap pemerintah tetap memberikan perhatian khusus terhadap sektor pertanian, terutama jika kemarau ekstrem benar-benar terjadi. Keberlanjutan produksi pangan sangat bergantung pada pengelolaan air yang bijak dan perlindungan terhadap tanaman dari hama," tutup Wanto.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)