Gubernur Mirza Waspada El Nino Godzilla Bisa Mengancam Produksi Pangan Lampung
Robertus Didik Budiawan Cahyono April 12, 2026 03:38 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Pemprov Lampung mulai membunyikan alarm waspada tinggi menghadapi ancaman fenomena iklim ekstrem yang dijuluki El Nino Godzilla pada tahun 2026.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan, bahwa mitigasi terhadap ancaman produksi pangan menjadi harga mati lantaran Lampung merupakan salah satu lumbung pangan nasional yang menyuplai kebutuhan daerah lain di Indonesia.

Gubernur Mirza mengungkapkan bahwa peringatan serius dari pemerintah pusat mengenai 'El Nino Godzilla' harus disikapi dengan kerja nyata, bukan sekadar administratif. 

Sebagai langkah awal, Pemprov Lampung telah melakukan Rapat Koordinasi Mitigasi El Nino 2026 di Gedung Pusiban, komplek kantor Gubernur Lampung, Jumat (10/04/2026) lalu.

Menurut Mirza, sebagai daerah dengan produksi gabah mencapai 3,2 juta ton (setara 1,7 juta ton beras), gangguan pada sektor pertanian Lampung akan berakibat fatal secara nasional.

Baca juga: Pertanian Lampung Siap Hadapi El Nino Godzilla dengan 1.222 Irigasi Perpompaan

"Konsumsi masyarakat Lampung hanya sekitar 800 ribu ton per tahun. Artinya, ada surplus 900 ribu ton yang menyuplai kebutuhan pangan di luar daerah. Kita punya tanggung jawab moral, tidak hanya untuk masyarakat Lampung, tapi juga untuk daerah lain yang bergantung pada kita," Ujar Mirza.

Ia mewanti-wanti, kegagalan produksi pangan bisa memicu efek domino ekonomi jika tidak diantisipasi dengan maksimal.

"Jika produksi jagung turun, harga pakan ternak naik. Imbasnya, harga ayam dan telur ikut melambung. Ini akan menekan daya beli masyarakat dan mengganggu stabilitas ekonomi kita," tambahnya.

Diketahui, berdasarlan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino diperkirakan mulai terasa pada Mei 2026.

Adapun puncak kemarau ekstrem diprediksi akan terjadi pada periode Juli hingga September 2026.

Menghadapi ini, Pemprov Lampung menyiapkan langkah teknis bersama Kabupaten/Kota untuk menantisipasi fenomena alam kemarau elstreme yang panjang ini.

Pertama, Pemprov Lampung menginstruksikan percepatan perbaikan jaringan irigasi dan optimalisasi sarana pengairan.

Selan itu, Mirza menyebut pihaknya bakal memobilisasi bantuan pompa air dan fungsionalisasi sumur bor di wilayah rawan kekeringan.

Pemanfaatan embung juga bakal dimaksimalkan untuk menjaga ketersediaan air lahan pertanian.

Sektor pertanian juga didorong melakukan percepatan masa tanam sebelum musim kemarau tiba. 

Selain itu, penggunaan varietas benih yang tahan terhadap kondisi kering (kekeringan) menjadi kewajiban guna meminimalisir risiko gagal panen.

Terkait ancaman kebakaran hutan dan lahan, Pemprov Lampung bakal meningkatkan pemantauan hotspot dan patroli rutin di wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan.

"Dalam kondisi tertentu, rekayasa cuaca atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) perlu dipertimbangkan untuk menekan dampak kekeringan yang sangat ekstrem," kata dia.

Kemudian, Pemerintah Kabupaten/Kota juga diminta segera menetapkan status siaga di daerah rawan, memperkuat cadangan pangan daerah, serta mengintegrasikan sistem peringatan dini berbasis data hingga ke tingkat bawah.

Lebih lanjut, Gubernur Mirza mengajak seluruh kepala daerah untuk meneladani strategi perencanaan Nabi Yusuf AS dalam menghadapi masa kekeringan panjang.

"Nabi Yusuf mempersiapkan tujuh tahun masa subur untuk menghadapi tujuh tahun kekeringan. Artinya, perencanaan dan kesiapan adalah kunci. Saya berharap seluruh kepala daerah dapat menunjukkan kepemimpinan, kemampuan manajerial, serta orkestrasi yang baik dalam menghadapi situasi ini," ujar Mirza.

Gubernur memastikan pihaknya telah menghitung dampak El Nino terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. 

Pasalnya, jika produksi turun dan harga pangan tidak stabil, maka pertumbuhan ekonomi Lampung dipastikan akan tertekan.

Wakil Gubernur Jihan Nurlela menambahkan, bahwa nasib jutaan masyarakat sangat bergantung dengan langkah yangbdilakukan Pemerintah dalam menghadapi ancaman kemarau elstreme ini.

"Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sudah menjadi informasi publik yang harus kita sikapi dengan langkah nyata. Nasib jutaan masyarakat bergantung pada keputusan dan langkah koordinasi yang kita ambil hari ini," pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.